Kamis, 16 April 2020

Bill Gates Mendadak Bicara soal Mati Listrik, Kenapa?

Semenjak tidak aktif lagi di Microsoft, Bill Gates sangat peduli pada isu-isu kemanusiaan. Kali ini, dia bicara masalah akses listrik yang ternyata adalah kemewahan bagi banyak orang.

"Pikirkan kapan terakhir kali kalian mengalami mati listrik. Mungkin itu bukan kenangan bagus. Kemungkinan termasuk menghabiskan malam di kegelapan tanpa kerjaan atau menjalani siang hari tanpa AC. Jika mati listrik berlangsung lama, bahkan mungkin makanan di kulkas kalian mulai rusak," tulis Gates di blognya yang dikutip detikINET.

"Listrik kalian mungkin hidup beberapa menit atau jam. Tapi untuk hampir semiliar orang di dunia yang tak punya akses listrik atau yang tidak bisa diandalkan sehingga tidak dihitung punya listrik, mati listrik bisa berlangsung berhari-hari atau berminggu-minggu. Dan hal itu bukan hanya tidak nyaman. Bisa mematikan," imbuhnya.

Kenapa begitu? Gates memaparkan bahwa tanpa listrik yang andal, orang yang hidup di pedesaan bisa terancam kesehatannya. Misalnya vaksin yang penting rusak di kulkas karena mati listrik. Karena lampu mati, kadang petugas medis harus merawat pasien pakai lilin atau nyala ponsel.

Dan bicara ponsel, mengisi ulang baterai adalah masalah besar tanpa listrik. Ada yang harus bayar ke toko yang menjual listrik tenaga surya. Mereka tidak punya pilihan lain meski jika diakumulasi, biayanya tak sedikit.

"Itu adalah realitas bagi hampir 1 miliar orang yang hidup dalam kemiskinan energi. Itu adalah salah satu alasan kenapa peningkatan akses ke listrik penting untuk mengangkat warga dunia dari kemiskinan. Kabar baiknya, sejak 2016, angka orang yang hidup tanpa listrik andal sudah turun lebih dari 200 juta," cetus Gates.

Peningkatan Gas Rumah Kaca

Di sisi lain, Gates juga menyoroti bahwa meningkatnya konsumsi energi berbanding lurus dengan peningkatan emisi gas rumah kaca. Itu karena metode membangkitkan listrik dengan batu bara atau gas alam menghasilkan karbondioksida. Hal itu bisa menyumbang perubahan iklim.

"Masalahnya adalah, sebagian teknologi energi karbon rendah saat ini bukanlah alternatif yang layak. Meski memanfaatkan angin dan surya akan menjadi sangat penting dalam menangkal perubahan iklim, kita perlu inovasi untuk membuatnya realistis untuk orang miskin," sebut Gates.

Banyak wilayah dengan penduduk miskin energi tidak punya kapabilitas agar teknologi alternatif itu murah atau cukup bisa diandalkan.

"Tapi aku percaya kita bisa menangkal kemiskinan energi dan perubahan iklim di waktu yang sama dengan mengembangkan cara untuk membuat energi bersih lebih murah diproduksi, disimpan dan dikirimkan. Aku belum lama ini menulis tentang beberapa solusi baru yang menjanjikan,"

"Kami ingin setiap orang, termasuk orang termiskin dunia, punya akses pada energi yang murah dan andal. Aku berharap bahwa inovasi dalam teknologi energi akan membantu kita mencapainya sembari merintis jalan masa depan nol karbon," pungkas sang pendiri Microsoft.

Rabu, 15 April 2020

Benarkah Pandemi Berulang Tiap 100 Tahun?

Sebuah infografis beredar di media sosial, menyebut bahwa dunia mengalami pandemi dengan pola berulang tiap 100 tahun. Disebutkan, virus Corona COVID-19 merupakan babak terbaru dalam siklus tersebut.
Beredar dengan beberapa variasi, infografis viral yang tidak diketahui asal usulnya tersebut menyebut 4 pandemi:

1720: Black Death, beberapa versi hanya menyebut plague atau pes
1820: Kolera
1920: Flu Spanyol
2020: Virus Corona COVID-19
Benarkah ada pola seperti itu?

Tidak akurat
Dikutip dari WHO.int, Black Death dikenal sebagai pandemi pes di abad ke-14 yang menewaskan lebih dari 50 juta orang di Eropa. Penyakit ini pertama kali mewabah antara tahun 1347-1351, bukan 1720 seperti disebut dalam beberapa versi infografis siklus pandemi 100 tahun yang viral.

Wabah pes memang pernah terjadi pada 1720, tepatnya di Prancis. Dikenal sebagai Great Plague of Marseille, dan menewaskan lebih dari 126.000 orang di Eropa. Karena sebagian besar kasus ditemukan di Prancis, wabah ini tidak dikategorikan sebagai pandemi.

Pandemi kolera di abad ke-19 juga tidak dimulai pada 1820, melainkan pada 1817. Jutaan orang tewas akibat pandemi yang bermula di Kalkuta, di sepanjang Sungai Gangga, tersebut.

Flu Spanyol yang disebabkan oleh virus H1N1 menyebar bukan cuma di tahun 1920, melainkan sejak 1918-1919. Sebanyak 500 juta orang atau nyaris sepertiga penduduk dunia terinfeksi virus ini. Dengan kematian mencapai 50 juta orang di seluruh dunia, flu spanyol tercatat sebagai salah satu pandemi paling buruk sepanjang sejarah.

Ada banyak pandemi lain
Di luar 4 pandemi yang diklaim dalam infografis, sebenarnya ada banyak pandemi lain yang tidak mengikuti siklus 100 tahun. Pandemi kolera misalnya, terjadi beberapa kali sejak mewabah di India pada 1817.

Siklus 100 tahun juga tidak terlihat jika memperhitungkan sejumlah pandemi lain dalam sejarah, misalnya flu babi atau H1N1 pada 2009.

Siapa Saja Pemilik Mr P Paling Besar di Dunia? Data Ini Mengungkapnya

 Ukuran penis masih banyak dianggap sebagai penentu kepuasan saat berhubungan seks. Banyak pula pakar membantah anggapan tersebut, tapi tetap saja punya Mr P berukuran besar masih jadi idaman para pria.
Sebuah data yang dihimpun melalui Target Map mengelompokkan bangsa-bangsa di dunia berdasarkan ukuran Mr P. Berikut pengelompokannya.

1. Kategori 9,3 cm hingga 10,5 cm
Ukuran penis terkecil dimiliki oleh orang India, Thailand dan Korea Selatan. Negara ini memiliki ukuran penis dengan rata-rata 9,3 cm hingga 10,5 cm.

2. Kategori 10,5 cm hingga 12,9 cm
Indonesia berada di kategori ini bersama Jepang dan Brazil. Pada posisi ini ukuran penis berkisar antara 10,5 cm sampai 12,9 cm.

3. Kategori 12,9 cm hingga 14,7 cm
Pada rentang ukuran ini, terdapat Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa seperti Perancis, Jerman dan Inggris. Ukuran rata-rata penis negara tersebut menurut Target Map 12,9 cm hingga 14,7 cm.

4. Kategori 14,7 cm hingga 16,10 cm
Pada kategori ini terdapat negara Australia, Meksiko, Norwegia, Italia dan Swedia. Negara tersebut memiliki ukuran penis terbesar kedua dengan 14,7 cm hingga 16,10 cm.

5. Kategori 16,1 cm hingga 17,9 cm
Bangsa Afrika disebut memiliki ukuran Mr P paling besar. Beberapa negara dalam kategori ini meliputi Ghana, Gabon, Jamaika, Haiti dan Nigeria.