Jumat, 17 April 2020

Langgar Aturan Lockdown, Menkes Selandia Baru Akui Dirinya 'Idiot'

Menteri kesehatan (Menkes) Selandia Baru, Dr David Clark, melanggar aturan lockdown di negaranya. Ia diketahui mengajak keluarga ke pantai yang berjarak 20 km dari rumahnya. Clark kemudian meminta maaf atas kejadian yang telah ia lakukan saat masyarakat Selandia Baru didesak untuk tetap di rumah.

Clark menyebut dirinya sendiri 'idiot'. Ia mengatakan perjalanannya ke pantai merupakan tindakan pelanggaran dan telah menawarkan mundur dari jabatan kepada perdana menteri sebagai bentuk tanggung jawab.

"Sebagai menteri kesehatan adalah tanggung jawab saya untuk mengikuti aturan. Selain itu harus memberi contoh kepada masyarakat Selandia Baru. Saya telah meminta maaf kepada Perdana Menteri dan telah mengajukan pengunduran diri saya," kata Clark, dikutip dari The Guardian, Selasa (7/4/2020).

Perdana Menteri Jacinda Ardern, menanggapi pernyataan Clark dengan mengatakan selama pandemi ini dirinya tidak akan melakukan perombakan. Karena menurutnya yang dibutuhkan melawan virus ini adalah kerja sama pemerintah. Meskipun nantinya setelah pandemi berakhir Clark harus bertanggung jawab.

"Dalam kondisi normal, saya akan memecatnya. Yang ia lakukan salah dan tidak ada alasan. Tetapi saat ini prioritas saya adalah perjuangan kolektif pemerintah melawan virus corona COVID-19," kata Ardern.

"Kami tidak bisa melakukan gangguan besar-besaran di sektor kesehatan. Untuk alasan itu, Dr Clark akan dipertahankan selama pandemi ini," tutupnya.

Sejumlah Tenaga Medis di Pakistan Ditahan Setelah Protes Kekurangan APD

Polisi di Pakistan menangkap sejumlah dokter dan staf medis yang melakukan unjuk rasa atas kurangnya alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien terinfeksi virus corona COVID-19.
Demonstrasi terjadi di kota Quetta, provinsi Balochistan, Pakistan, pada Senin (6/4/2020). Pejabat senior polisi Razzaq Cheema mengkonfirmasi penangkapan itu kepada CNN.

Sebagai tanggapan, Asosiasi Dokter Muda (YDA) telah mengumumkan boikot langsung dari semua layanan medis di Balochistan. Protes itu terjadi sehari setelah 13 dokter di Quetta terinfeksi virus corona.

Seorang juru bicara pemerintah provinsi mengatakan kepada Reuters, bahwa rumah sakit di Quetta yang menangani pasien virus corona telah disediakan alat pelindung dan petugas medis yang melakukan unjuk rasa bukan mereka yang menangani pasien.

"Para dokter yang memprotes tidak merawat pasien virus corona, kami tidak memahami alasan mereka memprotes," kata juru bicara pemerintah Balochistan, Liquat Shahwani.

Sementara itu, dokter di ibukota Pakistan, Islamabad, bulan lalu juga akan mengancam boikot jika pemerintah tidak menyediakan alat pelindung diri yang lengkap. Otoritas manajemen bencana Pakistan disebut telah mengimpor APD dalam jumlah banyak.

Pakistan telah melaporkan total 3.277 kasus virus corona, termasuk 50 kematian. Setidaknya 191 dari kasus ini berada di provinsi Balochistan.

Positif Corona, Motivator Tung Desem Pakai Terapi Minyak Kelapa

Motivator bisnis Tung Desem Waringin mengumumkan dirinya positif terjangkit virus corona COVID-19. Hal tersebut dia sampaikan dalam akun Instagram resminya pada Selasa (7/4/2020).
"Saya akan update kondisi saya. Juga cerita sejak awal. Serta apa saja yg dilakukan," kata dia dikutip detikcom.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Tung mengatakan telah mengonsumsi sejumlah obat-obatan. Salah satu yang dikonsumsi adalah virgin coconut oil (VCO) atau minyak kelapa.

"Pukul 03.00 WIB menggigil, pukul 04.00 WIB saya putuskan minum VCO. Kemudian pukul 06.30 WIB lancar banget keluarnya (buang air besar), sampai tiga kali keluar airnya, keluar minyaknya kuning-kuning," ujar Tung, dalam IGTV yang di upload Instagram miliknya.

Setelah merasa nyaman, dia kembali konsumsi minyak kelapa. Dan diselingi juga dengan banyak minum air putih 3,5 liter sehari.

"Pukul 10.00 minum VCO lagi, minum setengah botol. Dan setengah hari itu 5-7 kali ke belakang, banyak keluar air karena saya minum air sekali sampai 3.5 liter," katanya lagi.

Keesokan harinya, Tung mengatakan bahwa tubuhnya sudah mulai membaik. Meski telah minum VCO, dia tidak mengalami diare kembali.

"Jadi, perasaan hanya mendetoks yang kotor-kotor karena kemarin sudah tak ke belakang, damai-damai aja. Ndak mules, ndak ke mana. Keluar kotorannya juga biasa, dalam bentuk yang normal," tambahnya.

Selain minum VCO, Tung Desem Waringin juga meminum sejumlah obat yang diberikan oleh dokter. Seperti, infus actemra sebagai antiinflamasi, acidomicyn, chloroquine, haloquine, dan vitamin C dosis tinggi.

5 Fakta Penularan Virus Corona pada Binatang, Seperti Harimau di AS

Nadia adalah harimau Melayu berusia empat tahun di Kebun Binatang Bronx, Amerika Serikat. Pekan lalu, ia mulai menunjukkan salah satu gejala virus corona yakni batuk kering. Bukan hanya Nadia, saudara perempuannya Azul, dua harimau Amur, dan tiga singa Afrika semuanya mengalami hal yang sama.
Melihat hal tersebut, kebun binatang mendapat izin dari departemen kesehatan bagian negara setempat dan otoritas kesehatan hewan untuk mengambil sampel dari Nadia untuk dites virus corona. Sampel dianalisis di University of Illinois dan Cornell University menunjukkan Nadia positif virus corona.

Adanya kasus tersebut menjadikan Nadia sebagai binatang pertama yang terinfeksi virus corona di Amerika Serikat.

Berikut fakta penularan virus corona pada binatang dikutip dari berbagai sumber.

1. Nadia bukan hewan pertama yang terinfeksi virus corona
Para peneliti di China telah mempublikasikan hasil awal studi mereka, belum ditiinjau ulang, yang menemukan bahwa beberapa kucing domestik rentan terhadap virus corona. Studi tersebut juga menemukan bahwa anjing memiliki ketahanan rendah pada virus corona. Ada laporan dua anjing di Hong Kong yang terinfeksi positif mengidap virus corona COVID-19.

2. Infeksi COVID-19 pada binatang sama dengan manusia
Para peneliti di Illinois menemukan bahwa lebih dari 99,6 persen patogen virus di tubuh Nadia identik dengan virus corona pada manusia. Tes yang dilakukan pada binatang juga melibatkan swab hidung, tengorokan dan trakea untuk pengambilan sampel saluran udara hewan.

3. Peluang terinfeksi virus corona dari hewan
Sejauh ini tidak ada bukti virus corona ditularkan dari hewan ke manusia, kecuali hewan asal virus itu sendiri.

Laman resmi CDC menyebut pihaknya sadar akan adanya sejumlah binatang peliharaan termasuk kucing dan anjing yang terinfeksi virus karena kontak dekat dengan pemiliknya di negara lain. Meski demikian belum ada bukti bahwa hewan peliharaan dapat menyebarkan virus ke manusia.

4. Perlukah hewan peliharaan dites virus corona?
Departemen pertanian dan kehewanan Amerika Serikat dan CDC tidak merekomendasikan tes corona untuk hewan. Jika merasa hewan peliharaan terkena virus, segera hubungi klinik hewan setempat.

5. Disarankan batasi kontak dengan hewan peliharaan saat sakit
Pusat pencegahan dan pengendalian penyakit AS, CDC, menyarakankan membatasi kontak dengan hewan peliharaan jika Anda dicurigai terinfeksi COVID-19, baik itu berstatus ODP atau PDP. Minta seseorang merawat hewan peliharaan Anda jika sedang sakit.

Meski tidak sakit, selalu terapkan kebersihan hewan peliharaan yang normal. Cuci tangan setelah memegang hewan, makanan, limbah, atau persediaan mereka, yang akan melindungi Anda dari beragam kuman yang dibawa hewan.

Langgar Aturan Lockdown, Menkes Selandia Baru Akui Dirinya 'Idiot'

Menteri kesehatan (Menkes) Selandia Baru, Dr David Clark, melanggar aturan lockdown di negaranya. Ia diketahui mengajak keluarga ke pantai yang berjarak 20 km dari rumahnya. Clark kemudian meminta maaf atas kejadian yang telah ia lakukan saat masyarakat Selandia Baru didesak untuk tetap di rumah.

Clark menyebut dirinya sendiri 'idiot'. Ia mengatakan perjalanannya ke pantai merupakan tindakan pelanggaran dan telah menawarkan mundur dari jabatan kepada perdana menteri sebagai bentuk tanggung jawab.

"Sebagai menteri kesehatan adalah tanggung jawab saya untuk mengikuti aturan. Selain itu harus memberi contoh kepada masyarakat Selandia Baru. Saya telah meminta maaf kepada Perdana Menteri dan telah mengajukan pengunduran diri saya," kata Clark, dikutip dari The Guardian, Selasa (7/4/2020).

Perdana Menteri Jacinda Ardern, menanggapi pernyataan Clark dengan mengatakan selama pandemi ini dirinya tidak akan melakukan perombakan. Karena menurutnya yang dibutuhkan melawan virus ini adalah kerja sama pemerintah. Meskipun nantinya setelah pandemi berakhir Clark harus bertanggung jawab.

"Dalam kondisi normal, saya akan memecatnya. Yang ia lakukan salah dan tidak ada alasan. Tetapi saat ini prioritas saya adalah perjuangan kolektif pemerintah melawan virus corona COVID-19," kata Ardern.

"Kami tidak bisa melakukan gangguan besar-besaran di sektor kesehatan. Untuk alasan itu, Dr Clark akan dipertahankan selama pandemi ini," tutupnya.