Minggu, 19 April 2020

Kisah Pasien Corona Alami Gejala Aneh saat Awal Terinfeksi

Seorang pasien Corona membagikan cerita saat ia pertama kali terinfeksi. Ia mengaku merasakan gejala aneh yang selama ini tak diidentifikasi sebagai gejala virus Corona COVID-19.
Dominic Minghella, pasien di Inggris yang positif Corona pada 8 Maret lalu awalnya hanya merasa kelelahan dan sesekali timbul demam. Namun ia seringkali merasa seperti sedang merasakan 'rasa logam yang mengerikan' di dalam mulutnya, mulutnya terasa seperti sangat kotor.

Meskipun hal tersebut tidak masalah baginya karena ia pun tak nafsu makan. Dalam blognya ia menceritakan pada lima hari sebelumnya ia tak mengalami batuk atau demam.

"Setelah seminggu baru saya mulai demam, suhu badan saya 38 derajat celcius. Saya menelan parasetamol tepat pada jarak enam jam (setelahnya)," ungkapnya dikutip dari Daily Star, Minggu (19/4/2020).

"Aku juga merasa ada logam yang mengerikan di mulutku. Lagi pula aku tidak mau makan. Minum juga hanya karena aku tahu aku harus makan. Sangat lemah, hampir tidak bisa memegang gelas, tetapi masih tidak batuk," lanjutnya pada tulisan blog tersebut.

Rasa logam aneh tersebut cukup mengganggu indera perasanya, meski tak mengganggu indera penciuman. Karena tak memiliki gejala batuk ia pun sempat mengira kalau dirinya tak terinfeksi virus Corona COVID-19. Sampai akhirnya ia pergi ke rumah sakit dan dinyatakan positif Corona.

"Tidak ada batuk, jika saya tidak batuk, pikiran bawah sadar saya beralasan saya tidak memiliki COVID-19," kata Minghella.

Bahkan Minghella yang juga Produser di sebuah program stasiun TV di sana sempat menulis surat perpisahan kepada anak-anaknya ketika berada di rumah sakit saat merenungkan kematian. Namun untungnya Minghella bisa mengatasi virus Corona Covid-19 dan masih menulis blog mingguan tentang virus Corona dan peristiwa yang sedang berlangsung di sekitarnya.

Sementara itu, Persatuan Dermatologis Nasional Perancis, Venereologis (SNDV) pun mengatakan gejala yang baru diidentifikasi termasuk gejala gatal-gatal, kulit merah yang menyakitkan, dan kondisi yang mirip dengan radang dingin.

"Analisis dari banyak kasus yang dilaporkan ke SNDV menunjukkan bahwa manifestasi ini dapat dikaitkan dengan virus Corona COVID-19. Kami memperingatkan masyarakat dan profesi medis untuk mendeteksi pasien yang berpotensi menular secepat mungkin," kata seorang juru bicara SNDV.

7 Penyebab Perut Buncit dan Cara Mengatasinya

Perut buncit merupakan salah satu faktor risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari diabetes hingga masalah kardiovaskular. Kondisi ini menunjukkan adanya lemak berlebih di dalam perut atau visceral fat.
Ada banyak faktor yang menyebabkan penumpukan lemak di area perut. Berikut beberapa di antaranya seperti dikutip dari Medical News Today:

1. Diet yang buruk
Seseorang yang banyak mengonsumsi gula, makanan berlemak, dan karbohidrat sederhana punya risiko lebih besar untuk punya perut membuncit. Lebih disarankan untuk memperbanyak asupan serat sebagai penyeimbang.

2. Minum alkohol
Terlalu banyak mengonsumsi alkohol berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit hati dan radang. Alkohol juga memicu obesitas sentral, yakni gemuk hanya di area perut.

3. Kurang olahraga
Ketika asupan kalori tidak sebanding dengan aktivitas fisik, maka akan terjadi penumpukan sumber energi dalam bentuk lemak. Termasuk di area perut. Cara mengatasinya, adalah dengan memperbanyak aktivitas fisik dan olahraga.

4. Stres
Ada dua kemungkinan yang terjadi saat seseorang mengalami stres. Pertama, orang tersebut jadi banyak makan manis dan berlemak untuk meredakan stres. Kedua, sistem metabolisme terpengaruh oleh aktivitas hormon stres yakni kostisol. Dua-duanya bisa menyebabkan kegemukan.

Kelola stres sebaik mungkin untuk meminimalkan dampaknya.

5. Genetik
Ada sejumlah bukti ilmiah bahwa gen berperan dalam peningkatan risiko obesitas. Hal yang sama juga berlaku pada risiko penyakit kronis.

6. Kurang tidur
Sebuah penelitian di Journal of Clinical Sleep Medicine mengaitkan durasi tidur dengan berat badan. Kualitas maupun durasi tidur sama-sama berperan dalam mengontrol lemak tubuh. Seseorang yang kurang tidur juga cenderung punya pola makan tidak sehat.

7. Merokok
Tidak ada kaitan langsung antara rokok dengan obesitas, tetapi berbagai penelitian menyebut rokok sebagai faktor risiko obesitas. Seorang perokok lebih punya risiko untuk gemuk di area perut.

Kasus Menurun, Begini Cara Hong Kong Hadapi Corona Tanpa Lockdown

Tak seperti kebijakan di beberapa negara lain, Hong Kong tak menerapkan lockdown dalam menghadapi pandemi Corona. Meski begitu, sebuah studi dari University of Hong Kong (HKU) menilai hal ini berhasil menekan penyebaran virus Corona COVID-19 selama 28 hari terakhir.
Mengutip South China Morning Post, para ahli mulai mempertimbangkan 'pembatasan' yang dilakukan Hong Kong dalam menghadapi pandemi Corona sudah bisa dilonggarkan. Namun social distancing tetap harus dilanjutkan setidaknya sampai pertengahan tahun depan.

Sejak pertama kali melaporkan kasus Corona di 23 Januari lalu, hingga saat ini Hong Kong memiliki 1.024 kasus dengan laporan empat kasus meninggal dan 568 orang dilaporkan sembuh. Hanya ada satu hingga lima kasus baru selama tujuh hari berturut-turut di saat kasus Corona di dunia mencapai 2 juta kasus lebih, dengan 150 ribu kasus kematian.

Apa yang membuat Hong Kong berhasil menekan laju penyebaran virus Corona?

Para peneliti HKU mengungkap temuan mereka di dalam jurnal The Lancet Public Health soal keberhasilan Hong Kong dalam menekan laju penyebaran Corona, berasal dari penerapan 'social distancing' dan tanggapan warga yang cukup responsif untuk memakai masker. Selain itu warga Hong Kong pun menuruti imbauan soal menghindari tempat-tempat ramai.

"Hong Kong telah menunjukkan bahwa transmisi virus Corona COVID-19 dapat secara efektif ditekan tanpa lockdown seperti strategi yang dilakukan oleh sebagian wilayah di daratan China, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa Barat," kata ketua peneliti Benjamin Cowling, seorang profesor epidemiologi dan biostatistik di Sekolah kesehatan masyarakat HKU.

"Pemerintah lain dapat belajar dari keberhasilan Hong Kong. Jika langkah-langkah dan respons warga ini dapat dipertahankan, mereka secara substansial dapat mengurangi dampak epidemi virus Corona COVID-19 lokal."

7 Penyebab Perut Buncit dan Cara Mengatasinya

Perut buncit merupakan salah satu faktor risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari diabetes hingga masalah kardiovaskular. Kondisi ini menunjukkan adanya lemak berlebih di dalam perut atau visceral fat.
Ada banyak faktor yang menyebabkan penumpukan lemak di area perut. Berikut beberapa di antaranya seperti dikutip dari Medical News Today:

1. Diet yang buruk
Seseorang yang banyak mengonsumsi gula, makanan berlemak, dan karbohidrat sederhana punya risiko lebih besar untuk punya perut membuncit. Lebih disarankan untuk memperbanyak asupan serat sebagai penyeimbang.

2. Minum alkohol
Terlalu banyak mengonsumsi alkohol berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit hati dan radang. Alkohol juga memicu obesitas sentral, yakni gemuk hanya di area perut.

3. Kurang olahraga
Ketika asupan kalori tidak sebanding dengan aktivitas fisik, maka akan terjadi penumpukan sumber energi dalam bentuk lemak. Termasuk di area perut. Cara mengatasinya, adalah dengan memperbanyak aktivitas fisik dan olahraga.

4. Stres
Ada dua kemungkinan yang terjadi saat seseorang mengalami stres. Pertama, orang tersebut jadi banyak makan manis dan berlemak untuk meredakan stres. Kedua, sistem metabolisme terpengaruh oleh aktivitas hormon stres yakni kostisol. Dua-duanya bisa menyebabkan kegemukan.

Kelola stres sebaik mungkin untuk meminimalkan dampaknya.

5. Genetik
Ada sejumlah bukti ilmiah bahwa gen berperan dalam peningkatan risiko obesitas. Hal yang sama juga berlaku pada risiko penyakit kronis.

6. Kurang tidur
Sebuah penelitian di Journal of Clinical Sleep Medicine mengaitkan durasi tidur dengan berat badan. Kualitas maupun durasi tidur sama-sama berperan dalam mengontrol lemak tubuh. Seseorang yang kurang tidur juga cenderung punya pola makan tidak sehat.

7. Merokok
Tidak ada kaitan langsung antara rokok dengan obesitas, tetapi berbagai penelitian menyebut rokok sebagai faktor risiko obesitas. Seorang perokok lebih punya risiko untuk gemuk di area perut.