Sabtu, 02 Mei 2020

Viral Video Truk Semprot Disinfektan di Jalanan, Efektifkah Cegah Corona?

Di media sosial ramai dibagikan video mulai dari truk polisi, pemadam kebakaran, hingga drone menyemprot disinfektan di jalanan beberapa daerah di Indonesia. Hal ini disebut-sebut sebagai upaya untuk melawan wabah virus corona COVID-19.
Namun apakah hal tersebut efektif?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jawabannya tidak. Beberapa bahan cairan disinfektan malah berisiko untuk selaput lendir manusia.

"Harus diperhatikan bahwa alkohol dan klorin bisa berguna untuk membersihkan permukaan benda, namun penggunaannya harus dengan rekomendasi yang tepat," tulis akun Twitter resmi WHO dan dikutip pada Senin (30/3/2020).

Hal serupa juga diutarakan oleh para peneliti dalam laporan di jurnal The Lancet. Para peneliti malah menyarankan praktik tersebut dihentikan.

"Praktik penyemprotan disinfektan dan alkohol di langit, jalanan, kendaraan, serta individu tidak bermanfaat. Malah alkohol dan disinfektan dalam jumlah besar berpotensi bahaya bagi manusia sehingga harus dihindari," tulis para peneliti.

Mengidap Psoriasis, Bocah Usia 14 Tahun Positif Corona Meninggal Dunia

Seorang bocah lelaki berusia 14 tahun asal Portugal dikabarkan menjadi orang termuda yang meninggal dunia dicurigai karena virus corona COVID-19 di Eropa. Menurut laporan setempat, bocah tersebut meninggal pada dini hari Minggu pagi setelah dilarikan ke rumah sakit Sao Sebastiao.
Mengutip Daily Star, ia dilaporkan mengidap psoriasis, peradangan pada kulit yang disebabkan karena gangguan imunitas tubuh. Meski begitu anak yang juga pemain futsal tersebut dilaporkan tidak memiliki penyakit penyerta lainnya. Sayangnya saat dilarikan ke rumah sakit, petugas medis rumah sakit Sao Sebastiao di Santa Maria da Feira tidak dapat menyelamatkannya.

Berdasarkan laporan berita di Portugal, Walikota Ovar Salvador Malheiro mengatakan kepada wartawan bahwa penyebab meninggalnya anak tersebut bisa saja karena kondisi yang ia alami sebelumnya meski dinyatakan positif virus corona COVID-19.

"Karena memiliki masalah kesehatan lainnya, anak itu belum bisa dipastikan benar-benar meninggal karena virus corona COVID-19. Namun saat dibawa ke rumah sakit dan dites kedua kalinya, ia memang positif virus corona COVID-19," jelas Ovar.

Menteri kesehatan Marta Temido dan direktur kesehatan DGS Graça Freitas mengatakan terlalu dini untuk mengatakan bahwa anak itu meninggal secara khusus karena virus corona sebab ia memiliki situasi klinis yang cukup 'kompleks' karena psoriasis yang diidapnya. Investigasi terhadap kasus kematian bocah ini pun masih akan terus dilaksanakan.

Jumlah Kematian Akibat Corona di AS Diprediksi Bisa Capai 200 Ribu Orang

Ahli penyakit menular Amerika Serikat, Dr Anthony Fauci, memberikan prediksi suram mengenai pandemi virus corona yang saat ini menghantam negaranya. Melihat penyebaran virus, ia melihat COVID-19 dapat membunuh sekitar 200.000 orang Amerika.
"Maksud saya, melihat apa yang terjadi sekarang, saya mengatakan antara 100.000 hingga 200.000 kematian," kata Fauci kepada CNN.

Komentar Fauci menggarisbawahi seberapa jauh puncak wabah virus corona berdasarkan prediksi dari pejabat tinggi federal. Pada awal Minggu (29/3) sore, ada 125.000 kasus di AS dan hampir 2.200 kematian, menurut data dari Johns Hopkins University.

Sebelumnya, Deborah Birx, Koordinator Tanggap Virus Corona AS juga memaparkan model prediksi baru yang menunjukkan lebih dari 100 ribu orang bisa meninggal dunia akibat virus corona. Meski demikian, ada beberapa kritik dari prediksi Birx karena sumber penelitiannya masih belum diketahui.

Fauci dan para ahli lainnya mengatakan krisis akan memburuk, dan peningkatan kasus baru-baru ini telah menyebabkan kekurangan pasokan yang parah untuk rumah sakit di seluruh negeri, terutama di New York, negara bagian dengan jumlah kasus tertinggi di seluruh negeri.

Banyak rumah sakit di seluruh Amerika Serikat kehabisan tempat tidur dalam waktu dua minggu karena kasus terus meningkat.

Dalam upaya untuk menekan penyebaran virus, berbagai kota dan negara bagian - termasuk New York, telah menerapkan perintah tinggal di rumah untuk penduduk mereka, yang kini telah berdampak pada setidaknya 215 juta orang Amerika.

Social Distancing untuk Cegah Corona dari Pembawa Virus Tak Terdeteksi

Infeksi virus Covid-19 menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, hingga terjadi radang paru-paru (pneumonia) dalam kondisi terburuk. Namun, ada sejumlah besar kasus orang yang terinfeksi virus corona tidak menunjukkan gejala gangguan kesehatan.
Dilansir New York Times, orang yang terinfeksi virus Covid-19 tanpa gejala merupakan carrier (pembawa virus) yang membahayakan. Sebab, mereka tidak tahu telah terinfeksi tapi tetap beraktivitas normal, dan berinteraksi dengan orang sekitar.

Virus darinya menyebar ke orang lain dan dapat mengakibatkan masalah fatal pada orang yang ditularkan. Orang dengan infeksi virus Covid-19 tanpa gejala sangat mungkin lolos dari pengetesan. Sebab, tes biasanya dilakukan pada orang yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan.

Kecuali, jika orang tersebut masuk dalam daftar Orang Dalam Pengawasan (ODP), karena terlibat kontak dengan pasien positif atau pernah bepergian ke daerah rawan virus corona.

Pada bulan Februari, Jerman memulangkan 126 orang dari Wuhan, China. 10 orang di antaranya diisolasi karena menunjukkan masalah kesehatan, dikhawatirkan terinfeksi virus corona.

Baca juga: Mumpung WFH, Berikut 5 Tips untuk Traveling dari Rumah
Tapi, setelah dites kesepuluh orang tersebut hasilnya negatif Covid-19. Malahan, ada dua orang ekspatriat yang kondisinya sehat dan tidak diisolasi yang ternyata positif terinfeksi virus corona.

Phsyscal distancing merupakan satu-satunya cara agar orang yang terinfeksi virus tidak menularkan ke sekitarnya. Meskipun tidak menunjukkan gejala, tidak ada alasan untuk mengabaikan imbauan physycal distancing. Sebab, jika masyarakat terus bermobilisasi tanpa diketahui apakah sedang terinfeksi, maka penyebaran akan semakin meluas dan gawatnya itu mengancam nyawa banyak orang.

Guna mengantisipasi tertular atau menularkan virus Covid-19, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter. Tidak perlu langsung periksa ke rumah sakit, Grab Health didukung Good Doctor membuka layanan konsultasi kesehatan digital selama 24 jam. Ada pengecekan dasar virus corona gratis yang disediakan Grab Health.

Konsultasi ini bisa dilakukan secara online lewat aplikasi Grab. Caranya, pilih menu Grab Health yang ada di halaman depan dan ikuti instruksi untuk memulai konsultasi. Setelah proses konsultasi, dokter akan menentukan apakah pengguna memiliki risiko Covid-19 rendah, sedang atau tinggi. Kemudian dokter akan memberikan rekomendasi lebih lanjut sesuai dengan protokol yang telah disediakan oleh Kementerian Kesehatan.

Viral Video Truk Semprot Disinfektan di Jalanan, Efektifkah Cegah Corona?

Di media sosial ramai dibagikan video mulai dari truk polisi, pemadam kebakaran, hingga drone menyemprot disinfektan di jalanan beberapa daerah di Indonesia. Hal ini disebut-sebut sebagai upaya untuk melawan wabah virus corona COVID-19.
Namun apakah hal tersebut efektif?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jawabannya tidak. Beberapa bahan cairan disinfektan malah berisiko untuk selaput lendir manusia.

"Harus diperhatikan bahwa alkohol dan klorin bisa berguna untuk membersihkan permukaan benda, namun penggunaannya harus dengan rekomendasi yang tepat," tulis akun Twitter resmi WHO dan dikutip pada Senin (30/3/2020).

Hal serupa juga diutarakan oleh para peneliti dalam laporan di jurnal The Lancet. Para peneliti malah menyarankan praktik tersebut dihentikan.

"Praktik penyemprotan disinfektan dan alkohol di langit, jalanan, kendaraan, serta individu tidak bermanfaat. Malah alkohol dan disinfektan dalam jumlah besar berpotensi bahaya bagi manusia sehingga harus dihindari," tulis para peneliti.