Senin, 04 Mei 2020

Masker Scuba Dilapisi Tisu, Jadi Lebih Efektif Tangkal Corona?

Popularitas masker scuba meningkat seiring diwajibkannya seluruh masyarakat mengenakan masker kain sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran dan penularan virus Corona.
Berbeda dengan jenis masker kain pada umumnya yang memiliki setidaknya dua atau tiga lapis, masker scuba umumnya hanya terdiri dari selapis kain sehingga banyak masyarakat yang menambahkan tisu sebelum mengenakannya.

"Itu kan untuk membantu, bisa di sisipkan (tisu)," sebut peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir saat dihubungi detikcom ditulis Senin (4/5/2020).

Tak hanya pada masker scuba, beberapa jenis masker kain dengan bahan katun pun bagian tengahnya bisa dilapisi tisu sebagai filter. Meski efektivitasnya tak akan sebesar masker medis, namun masyarakat tetap bisa menggunakannya.

"Kalau kita ketahui, efektivitas masker kain sekitar 50-80 persen untuk menahan partikulat artinya kalau kita tambahkan tisu itu cuman untuk membantu aja tapi nggak akan bisa menyamai masker medis atau N95," jelasnya

Penting juga untuk diingat bahwa masker kain, baik bahan scuba atau jenis lainnya harus segera dicuci setelah digunakan untuk memastikan tak ada kontaminasi bakteri atau virus. Selain itu, tetap dianjurkan untuk menjaga physical distancing kurang lebih 1-2 meter dan harus sering cuci tangan.

Tanda 'Misterius' di Lengan Kim Jong Un, Kemungkinan Bekas Ambil Darah?

 Foto terbaru pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menunjukkan tanda misterius di lengan kanannya. Hal ini mengundang perhatian karena sempat beredar spekulasi soal kondisi kesehatannya yang memburuk akibat lama tak muncul di depan publik.
Dalam foto yang dirilis kantor berita Korut, KCNA. Kim kembali muncul untuk melakukan pemotongan pita dalam pembukaan sebuah pabrik pupuk di Sunchon, dekat ibu kota Pyongyang, pada Jumat (1/5/2020).

Terkait hal tersebut ahli jantung dr Vito A Damay, SpJP(K), Mkes, FIHA, FICA, FAsCC, dari Siloam Hospital Lippo Village menjelaskan khusus radial artery puncture biasanya ada di dekat pergelangan tangan. Namun pada beberapa kasus memang ada kemungkinan prosedur dilakukan sedikit lebih atas dari pergelangan.

"Kadang-kadang dalam kondisi tertentu, misalnya akses yang kurang baik, maka bisa agak naik ke atas posisinya. Nah gambar foto Kim Jong Un itu tidak terlalu jelas posisinya di mana," kata dr Vito pada detikcom, Senin (4/5/2020).

dr Vito menjelaskan radial artery puncture biasanya dilakukan saat pasien akan menjalani kateterisasi dan pemasangan ring jantung.

Kata Ilmuwan Nanoteknologi Soal Tes Tiup Api untuk Uji Masker Scuba

Sejak diwajibkannya seluruh masyarakat menggunakan masker kain sebagai langkah pencegahan virus corona, muncul banyak sekali jenis masker nonmedis dan salah satu yang populer adalah masker scuba. Jenis masker penggunaannya terbilang cukup populer di masyarakat karena dianggap nyaman dan harganya pun tergolong murah.
Namun beberapa waktu lalu muncul keraguan soal efektivitas masker scuba dalam menyaring partikulat seperti bakteri dan virus. Banyak yang kemudian beramai-ramai mencoba metode untuk mengujinya yakni dengan memakai masker scuba sambil meniup api yang viral di media sosial.

"Masker yang baik itu adalah masker yang ketika ada api, ditiup, api dinyalakan di depan masker, terus kita tiup, itu apinya kalau tidak padam berarti bagus," kata seorang netizen.

Peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir yang juga tengah melakukan penelitian terkait teknologi untuk masker, mengatakan tes tiup api hanyalah indikator awal pengujian kualitas masker. Pada dasarnya ada beberapa kriteria untuk menguji kinerja masker di antaranya:

Uji filtrasi bakteri
Uji partikulat
Uji aliran udara

Kata Psikolog Soal Prank Youtuber Bagikan 'Makanan' Sampah ke Waria-Bocah

Satu Youtuber dari Bandung, Ferdian Paleka, mendadak jadi perbincangan publik karena satu video prank yang dibagikannya melalui saluran Youtube. Ferdian mengunggah dan menayangkan rekaman video berjudul 'PRANK KASIH MAKANAN KE BANCI CBL' pada Minggu (3/5/2020).
Akibat dari video tersebut, netizen mulai mencarinya di berbagai media sosial, seperti Instagram dan Channel Youtube miliknya. Dalam videp tersebut, terlihat ia membagikan dus makanan berisi sampah kepada sejumlah waria dan sekelompok bocah, sehingga memancing kecaman dari banyak orang.

Psikolog Diah Ayu dari Personal Growth mengatakan bahwa Ferdian ini tidak merasa bersalah telah melakukan prank tersebut. Justru dia merasa melakukan tindakan yang cukup benar, apalagi di bulan puasa dan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ini dan menganggap mereka yang masih di luar rumah adalah suatu kesalahan.

"Saya tidak menonton secara full, cuma tahu intinya saja. Jadi, yang saya tangkap si Ferdian ini saat melakukan hal tersebut tidak merasa bersalah sebenarnya," kata Diah saat dihubungi detikcom, Senin (4/5/2020).

"Karena yang saya lihat di situ, dia mengatakan bahwa mohon maaf bencong atau banci tersebut seharusnya tidak beroperasi ketika bulan Ramadhan ini. Kemudian, dia menyampaikan bahwa sekarang adalah masa PSBB. Dia menyampaikan seperti itu di dalam videonya," lanjutnya.

Namun, dilihat dari kacamata psikologi, Ferdian tidak mencerminkan adanya rasa empati di dalam dirinya. Meski begitu, Diah mengatakan kita tidak bisa langsung menyimpulkan apakah dirinya memang tidak memiliki rasa empati.

"Mungkin dari persepsi Ferdian itu (tindakan) benar, tapi apakah dia tidak ada rasa empati juga benar. Tapi sekali lagi, kita tidak bisa menjudge itu adalah benar atau salah, karena kita nggak tau langsung nih kasusnya seperti apa. Kita juga tidak berbicara langsung pada si ferdian ini," katanya.

Diah mengatakan, setiap orang pasti memiliki rasa empati dan hati nurani. Tetapi, dalam kasus ini Ferdian terlihat kurang memiliki rasa empati terhadap sesama. Maka dari itu, harus perlu menumbuhkan lagi rasa empati tersebut di dalam dirinya.

Masker Scuba Dilapisi Tisu, Jadi Lebih Efektif Tangkal Corona?

Popularitas masker scuba meningkat seiring diwajibkannya seluruh masyarakat mengenakan masker kain sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran dan penularan virus Corona.
Berbeda dengan jenis masker kain pada umumnya yang memiliki setidaknya dua atau tiga lapis, masker scuba umumnya hanya terdiri dari selapis kain sehingga banyak masyarakat yang menambahkan tisu sebelum mengenakannya.

"Itu kan untuk membantu, bisa di sisipkan (tisu)," sebut peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir saat dihubungi detikcom ditulis Senin (4/5/2020).

Tak hanya pada masker scuba, beberapa jenis masker kain dengan bahan katun pun bagian tengahnya bisa dilapisi tisu sebagai filter. Meski efektivitasnya tak akan sebesar masker medis, namun masyarakat tetap bisa menggunakannya.

"Kalau kita ketahui, efektivitas masker kain sekitar 50-80 persen untuk menahan partikulat artinya kalau kita tambahkan tisu itu cuman untuk membantu aja tapi nggak akan bisa menyamai masker medis atau N95," jelasnya

Penting juga untuk diingat bahwa masker kain, baik bahan scuba atau jenis lainnya harus segera dicuci setelah digunakan untuk memastikan tak ada kontaminasi bakteri atau virus. Selain itu, tetap dianjurkan untuk menjaga physical distancing kurang lebih 1-2 meter dan harus sering cuci tangan.