Pandemi virus Corona COVID-19 membuat penggunaan disinfektan meningkat secara signifikan. Namun, di saat yang bersamaan keracunan yang tidak disengaja karena disinfektan juga meningkat pada anak-anak.
Temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan lebih dari 300 anak dirawat setiap hari karena keracunan. Rata-rata dua dari anak-anak tersebut meninggal dunia.
Diperkirakan tingkat keracunan yang meningkat pada anak ini terkait dengan produk pembersih atau disinfektan yang digunakan orang tua untuk mencegah infeksi virus.
"Kami mengalami peningkatan lebih dari 100 persen dalam panggilan terkait dengan produk desinfektan dari 31 Maret hingga minggu ini," kata direktur medis dari National Capital Poison Center, Kelly Johnson Arbor.
Dikutip dari laman CNN, sebuah studi yang dirilis CDC Jumat (24/4/2020) lalu melaporkan keracunan disinfektan dan produk pembersih pada Januari hingga Maret naik 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Anak-anak merupakan orang yang berisiko paling tinggi keracunan disinfektan karena rentan terhadap bahan kimia.
Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak berusia lima tahun ke bawah. Dari Januari hingga Maret, sebanyak 35,7 persen balita keracunan terkait dengan produk pembersih dan 46,9 persen terkait paparan disinfektan.
Sedangkan sebanyak 8,9 persen remaja usia 6 hingga 19 tahun keracunan terkait paparan produk pembersih dan 13,6 persen terkait paparan disinfektan.
"Disinfektan umumnya memiliki komposisi yang mirip. Mereka umumnya terdiri dari pemutih, senyawa amonium, alkohol, zat abrasif, semua hal itu berpotensi beracun," kata Johnson Arbor.
Dalam studi CDC, penyebab keracunan tertinggi adalah karena seseorang menelan zat berbahaya, lalu diikuti karena menghirup produk.
Oleh karena itu, setiap orang tua disarankan untuk menjauhkan produk pembersih dan disinfektan dari jangkauan anak-anak.
Saat menggunakan produk pembersih dan disinfektan pastikan anak-anak tidak berada di sekitar. Pastikan pula memiliki ventilasi yang baik agar zat kimia tidak terperangkap. Anak-anak yang menghirup disinfektan dapat mengalami iritasi pernapasan.
Jika anak-anak menunjukkan gejala keracunan seperti gatal-gatal, iritasi, sakit perut, mual, dan muntah, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan pertolongan.
WHO Sebut Tuduhan AS Soal Virus Corona Buatan China Hanya Spekulasi
Amerika Serikat (AS) semakin kuat menuduh China sengaja menciptakan virus Corona COVID-19. Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dalam sebuah wawancara televisi mengatakan AS saat ini memiliki 'bukti besar' virus Corona berasal dari sebuah laboratorium di Kota Wuhan di China.
Hal serupa juga dikatakan oleh Presiden AS Donald Trump. Ia mengaku pernah melihat bukti yang meyakinkan bahwa virus Corona itu berasal dari lab Wuhan.
"Ya, saya sudah melihat. Ya, saya sudah melihat. Dan saya pikir Organisasi Kesehatan Dunia harus malu pada diri mereka sendiri karena mereka berlaku seperti petugas hubungan masyarakat untuk China," kata Trump.
Menanggapi hal tersebut, salah satu ahli emergensi WHO Dr Mike Ryan menegaskan bahwa tuduhan AS hanya spekulasi. WHO terus menerima perkembangan studi dari para ahli dunia mengenai virus Corona dan sejauh ini buktinya virus Corona COVID-19 bukan buatan manusia.
"Kami masih belum menerima data bukti yang dimaksud dari AS terkait asal-usul virus Corona. Jadi dari pandangan kami ini hanya spekulasi," kata Mike seperti dikutip dari Reuters, Selasa (5/5/2020).
"Jadi kalau memang bukti dan data itu ada, maka ini keputusan pemerintah AS apakah akan membagikannya atau tidak," lanjutnya.