Selasa, 05 Mei 2020

Pemakaian Disinfektan Corona Tingkatkan Kasus Anak Keracunan di AS

Pandemi virus Corona COVID-19 membuat penggunaan disinfektan meningkat secara signifikan. Namun, di saat yang bersamaan keracunan yang tidak disengaja karena disinfektan juga meningkat pada anak-anak.
Temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan lebih dari 300 anak dirawat setiap hari karena keracunan. Rata-rata dua dari anak-anak tersebut meninggal dunia.

Diperkirakan tingkat keracunan yang meningkat pada anak ini terkait dengan produk pembersih atau disinfektan yang digunakan orang tua untuk mencegah infeksi virus.

"Kami mengalami peningkatan lebih dari 100 persen dalam panggilan terkait dengan produk desinfektan dari 31 Maret hingga minggu ini," kata direktur medis dari National Capital Poison Center, Kelly Johnson Arbor.

Dikutip dari laman CNN, sebuah studi yang dirilis CDC Jumat (24/4/2020) lalu melaporkan keracunan disinfektan dan produk pembersih pada Januari hingga Maret naik 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Anak-anak merupakan orang yang berisiko paling tinggi keracunan disinfektan karena rentan terhadap bahan kimia.

Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak berusia lima tahun ke bawah. Dari Januari hingga Maret, sebanyak 35,7 persen balita keracunan terkait dengan produk pembersih dan 46,9 persen terkait paparan disinfektan.

Sedangkan sebanyak 8,9 persen remaja usia 6 hingga 19 tahun keracunan terkait paparan produk pembersih dan 13,6 persen terkait paparan disinfektan.

"Disinfektan umumnya memiliki komposisi yang mirip. Mereka umumnya terdiri dari pemutih, senyawa amonium, alkohol, zat abrasif, semua hal itu berpotensi beracun," kata Johnson Arbor.

Dalam studi CDC, penyebab keracunan tertinggi adalah karena seseorang menelan zat berbahaya, lalu diikuti karena menghirup produk.

Oleh karena itu, setiap orang tua disarankan untuk menjauhkan produk pembersih dan disinfektan dari jangkauan anak-anak.

Saat menggunakan produk pembersih dan disinfektan pastikan anak-anak tidak berada di sekitar. Pastikan pula memiliki ventilasi yang baik agar zat kimia tidak terperangkap. Anak-anak yang menghirup disinfektan dapat mengalami iritasi pernapasan.

Jika anak-anak menunjukkan gejala keracunan seperti gatal-gatal, iritasi, sakit perut, mual, dan muntah, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan pertolongan.

WHO Sebut Tuduhan AS Soal Virus Corona Buatan China Hanya Spekulasi

 Amerika Serikat (AS) semakin kuat menuduh China sengaja menciptakan virus Corona COVID-19. Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dalam sebuah wawancara televisi mengatakan AS saat ini memiliki 'bukti besar' virus Corona berasal dari sebuah laboratorium di Kota Wuhan di China.
Hal serupa juga dikatakan oleh Presiden AS Donald Trump. Ia mengaku pernah melihat bukti yang meyakinkan bahwa virus Corona itu berasal dari lab Wuhan.

"Ya, saya sudah melihat. Ya, saya sudah melihat. Dan saya pikir Organisasi Kesehatan Dunia harus malu pada diri mereka sendiri karena mereka berlaku seperti petugas hubungan masyarakat untuk China," kata Trump.

Menanggapi hal tersebut, salah satu ahli emergensi WHO Dr Mike Ryan menegaskan bahwa tuduhan AS hanya spekulasi. WHO terus menerima perkembangan studi dari para ahli dunia mengenai virus Corona dan sejauh ini buktinya virus Corona COVID-19 bukan buatan manusia.

"Kami masih belum menerima data bukti yang dimaksud dari AS terkait asal-usul virus Corona. Jadi dari pandangan kami ini hanya spekulasi," kata Mike seperti dikutip dari Reuters, Selasa (5/5/2020).

"Jadi kalau memang bukti dan data itu ada, maka ini keputusan pemerintah AS apakah akan membagikannya atau tidak," lanjutnya.

Didi Kempot Meninggal Dunia, 'Code Blue Asthma' Banyak Disebut Ini Artinya

Penyanyi campursari Didi Prasetyo atau beken dengan nama panggung Didi Kempot dikabarkan meninggal dunia pagi ini, Selasa (5/5/2020). Didi meninggal di RS Kasih Ibu Solo.
Hal tersebut dibenarkan Asisten Manajer Humas Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu, Divan Fernandez. Menurutnya Didi meninggal tak lama setelah masuk ke RS.

"Infonya pukul 07.30 WIB tadi baru masuk. Penyebabnya masih saya cek dulu," kata Divan pada detikcom.

Di media sosial ramai dibahas Didi meninggal karena "code blue asma". Informasi ini belum terkonfirmasi namun tak sedikit netizen jadi penasaran.

"Bagi pecinta sobat ambyar, fyi Didi kempot barusan meninggal di igd rs kasih ibu, karena terkena code blue asma," tulis pesan yang ramai dibagikan.

Ahli paru dr Frans Abednego Barus, SpP, dari OMNI Hospital Pulomas menjelaskan bahwa code blue atau kode biru biasanya digunakan untuk mendeskripsikan kegawatdaruratan karena henti napas dan jantung mendadak.

"Code blue artinya peristiwa terjadinya henti napas dan jantung yang berarti ada kejadian gawat darurat. Code blue bisa pada pasien baru masuk, bisa pada pasien yang dirawat," kata dr Frans pada detikcom.

"Penyebab nya sering henti jantung atau serangan jantung yang menyebabkan henti napas," lanjutnya.

Dikutip dari WebMD, sebetulnya tidak ada aturan baku soal pemakaian kode ini dan tiap fasilitas kesehatan bisa saja punya kodenya masing-masing.

"Tidak ada definisi atau konvensi standar terkait penggunaan kode. Meski code blue biasanya untuk henti jantung di banyak rumah sakit, bukan berarti artinya sama di semua tempat," tulis WebMD.

Pemakaian Disinfektan Corona Tingkatkan Kasus Anak Keracunan di AS

Pandemi virus Corona COVID-19 membuat penggunaan disinfektan meningkat secara signifikan. Namun, di saat yang bersamaan keracunan yang tidak disengaja karena disinfektan juga meningkat pada anak-anak.
Temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan lebih dari 300 anak dirawat setiap hari karena keracunan. Rata-rata dua dari anak-anak tersebut meninggal dunia.

Diperkirakan tingkat keracunan yang meningkat pada anak ini terkait dengan produk pembersih atau disinfektan yang digunakan orang tua untuk mencegah infeksi virus.

"Kami mengalami peningkatan lebih dari 100 persen dalam panggilan terkait dengan produk desinfektan dari 31 Maret hingga minggu ini," kata direktur medis dari National Capital Poison Center, Kelly Johnson Arbor.

Dikutip dari laman CNN, sebuah studi yang dirilis CDC Jumat (24/4/2020) lalu melaporkan keracunan disinfektan dan produk pembersih pada Januari hingga Maret naik 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Anak-anak merupakan orang yang berisiko paling tinggi keracunan disinfektan karena rentan terhadap bahan kimia.

Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak berusia lima tahun ke bawah. Dari Januari hingga Maret, sebanyak 35,7 persen balita keracunan terkait dengan produk pembersih dan 46,9 persen terkait paparan disinfektan.

Sedangkan sebanyak 8,9 persen remaja usia 6 hingga 19 tahun keracunan terkait paparan produk pembersih dan 13,6 persen terkait paparan disinfektan.

"Disinfektan umumnya memiliki komposisi yang mirip. Mereka umumnya terdiri dari pemutih, senyawa amonium, alkohol, zat abrasif, semua hal itu berpotensi beracun," kata Johnson Arbor.

Dalam studi CDC, penyebab keracunan tertinggi adalah karena seseorang menelan zat berbahaya, lalu diikuti karena menghirup produk.