Rabu, 03 Juni 2020

Apa Itu Virus Ebola 2020? Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah Ebola baru di Republik Kongo. Ebola adalah virus yang ditularkan ke manusia dari hewan liar dan menyebar dalam populasi manusia melalui penularan dari manusia ke manusia.
Ebola di Kongo ini bukan pertama kalinya terjadi. Kasus pertama pernah terjadi sekitar tahun 1976, di Zaire. Zaire saat ini merupakan Republik Demokratik Kongo. Wabah terjadi di Zaire bagian utara, di Desa Yambuku dekat Sungai Ebola. Karena itulah dinamakan virus ebola.

Dilansir dari situs WHO, tingkat kematian rata-rata kasus ebola adalah sekitar 50%. Keterlibatan masyarakat adalah kunci keberhasilan pengendalian wabah. Pengendalian atau pencegahan wabah yang baik bergantung antara lain pada manajemen kasus, praktik pencegahan dan pengendalian infeksi, pengawasan dan pelacakan kontak, dan layanan laboratorium.

Gejala ebola yakni
-Demam
-Kelelahan
-Nyeri otot
-Sakit kepala
-Sakit tenggorokan

Gejala itu diikuti oleh:

-Muntah
-Diare
-Ruam
-Gejala gangguan fungsi ginjal dan hati

Dalam beberapa kasus, perdarahan internal dan eksternal (misalnya, keluar dari gusi, atau darah di tinja). Temuan laboratorium, termasuk jumlah sel darah putih dan trombosit yang rendah dan peningkatan enzim hati.

Masa inkubasi ebola yaitu interval waktu dari infeksi virus hingga timbulnya gejala, adalah 2 hingga 21 hari. Seseorang yang terinfeksi Ebola tidak dapat menyebarkan penyakit sampai mereka mengalami gejala.

Sedangkan vaksin ebola bernama rVSV-ZEBOV. Vaksin ini terbukti sangat protektif terhadap ebola dalam percobaan di Guinea pada tahun 2015. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang diberi vaksin Ebola dapat dilindungi hingga 12 bulan. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Selain itu, vaksin belum bisa digunakan untuk imunisasi massal karena belum mendapat izin edar.

Surabaya Jadi 'Zona Hitam' Corona, Diprediksi Butuh 2 Bulan untuk Kembali Hijau

 Zona 'hitam' di Surabaya dalam peta laporan penyebaran kasus virus Corona COVID-19 ramai diperbincangkan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menjelaskan zona 'hitam' sebenarnya warna merah tua yang menandakan banyaknya jumlah kasus virus Corona COVID-19.
"Kemudian ada yang tanya, itu (di peta) kok ada yang hitam. Itu bukan hitam tapi merah tua. Seperti Sidoarjo yang angka kasusnya 500 sekian merah sekali, kalau angkanya dua ribu sekian (seperti di Surabaya) merah tua," kata Khofifah beberapa waktu lalu.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, menjelaskan daerah yang dinyatakan zona 'hitam' butuh waktu lama untuk kembali ke zona hijau. Pasalnya, ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum kembali ke zona hijau.

"Perkiraan saya butuh satu setengah bulan atau dua bulan bisa ke hijau untuk Surabaya," jelas dr Tri saat dihubungi detikcom Rabu (3/6/2020).

"Paling tidak tahapan untuk turun butuh dua minggu karena kasus (Corona) akan sembuh dalam waktu 10 hari. Semua kasus nggak sembuh bareng-bareng, nggak sakit bareng-bareng kan," lanjut dr Tri.

Lebih lanjut dr Tri menjelaskan perlu adanya penerapan PSBB secara ketat. Sehingga perubahan zona per 2 minggu yang diperkirakan bisa benar-benar terjadi.

"Jadi kalau saat ini hitam, mudah-mudahan 2 minggu kemudian ke merah, 2 minggu kemudian ke kuning 2 minggu kemudian ke hijau, begitu gambarannya, mudah-mudahan kalau penerapan PSBBnya efektif," pungkasnya.
http://nonton08.com/une-nuit-sans-fin/

3 Juni Hari Sepeda Sedunia, Ini Panduan Gowes Aman di Era New Normal

Sejumlah wilayah di Indonesia mulai melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Aktivitas perkantoran, bisnis, dan pusat perbelanjaan akan kembali dibuka dalam waktu dekat ini.
Dengan berlakunya new normal tersebut, sebagian orang mungkin akan berpikir dua kali untuk menggunakan transportasi publik. Kemungkinan padatnya penumpang dikhawatirkan akan menjadi hotspot penularan virus Corona COVID-19.

Sebagian orang mungkin akan beralih ke sepeda. Bagi yang jarak tempuh menuju tempat kerjanya tidak terlalu jauh, bersepeda akan meminimalkan kontak dengan banyak orang, yang mungkin saja berpotensi saling menularkan virus.

"Bersepeda jauh lebih aman dibanding dengan angkutan umum," ujar Ketua Komunitas Bike To Work (B2W) Indonesia, Poetoet Soedarjanto kepada detikcom, Selasa (2/6/2020).

Meski demikian, Poetoet juga menyarankan untuk selalu memperhatikan protokol kesehatan dalam bersepeda di era new normal.

"Perhatikan protokol kesehatan dalam bersepeda, mulai jumlah orangnya maksimumnya berapa, jarak antar sepedanya juga diperhatikan, kecepatannya juga," tambahnya.

Berikut protokol kesehatan dalam bersepeda di era new normal menurut Bike To Work (B2W) Indonesia.

Persiapan:
Perhatikan himbauan pemerintah dan daerah yang aman dari COVID-19.
Jaga kebersihan sepeda, terutama bagian yang bersentuhan dengan tangan.
Bersihkan diri dan cuci tangan dengan sabun.
Hindari droplet dengan pakaian berlengan panjang, sarung tangan, masker, kacamata, penutup kepala, membawa handsanitizer, dan handuk kecil.
Pilih masker berbahan kain yang tidak terlalu rapat dan mengganggu pernapasan.
Membawa botol minum yang tertutup plastik dan alat makan sendiri.
Saat istirahat:
Cuci tangan dengan sabun atau handsanitizer.
Bersihkan tangan dan wajah dengan tisu atau gunakan handuk kecil.
Utamakan jaga jarak atau physical distancing saat beristirahat.
Selalu gunakan masker, kecuali saat makan dan minum.
Hindari berbagi bekal pribadi dengan orang lain seperti, botol minum dan makanan.
Istirahat secukupnya, tidak perlu nongkrong terlalu lama.

Saat bersepeda:
Utamakan bersepeda sendiri (solo), jika berkelompok, atur dalam rombongan kecil 2-5 pesepeda.
Pilih jalur yang menghindari keramaian dan daerah zona merah COVID-19.
Jaga jarak kiri-kanan antar pesepeda dan kendaraan lain minimal 2 meter.
Jaga jarak depan-belakang antar pesepeda minimal 4 meter. Semakin tinggi kecepatan bersepeda, jarak harus semakin jauh (di atas 20 meter).
Jaga jarak dan waspada terhadap pengendara kendaraan lain.
Selalu patuhi rambu lalu lintas bersepeda.
Sesampai di rumah:
Sebelum masuk rumah, lepaskan semua perlengkapan yang digunakan.
Hindari kontak fisik dengan penghuni rumah dan menyentuh perabotan.
Semprot helm, sepatu dan kacamata dengan cairan disinfektan.
Segera lepas pakaian, kaos kaki, sarung tangan, masker, penutup kepala lalu cuci dengan deterjen.
Segera bersihkan diri, mandi dan keramas.
Istirahatlah dan pulihkan cairan yang hilang dari tubuh.