Kamis, 04 Juni 2020

Sempat Terhenti, WHO Lanjutkan Studi Hydroxychloroquine untuk Pasien Corona

Komite Keamanan dan Pemantauan Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan untuk terus meneliti hydroxychloroquine sebagai pengobatan virus Corona COVID-19.

"Keputusan itu diambil setelah publikasi sebuah hasil penelitian menunjukkan, pengobatan dengan hydroxychloroquine kemungkinan meningkatkan kematian pasien," demikian pernyataan WHO.

Namun, saat ini belum ada pengobatan yang disetujui untuk pengobatan COVID-19.

"Sampai sekarang, tidak ada bukti bahwa obat apa pun benar-benar mengurangi kematian pada pasien yang memiliki COVID-19," Kepala Ilmuwan WHO Dr Soumya Swaminathan, dikutip dari CNN.

Tim peneliti dari Harvard Medical School di Boston dan rumah sakit Universitas Zürich mempublikasikan hasil penelitian data 96.000 pasien COVID-19 dari seluruh dunia dalam jurnal The Lancet. Para peneliti menarik kesimpulan, pemberian hydroxychloroquine dan chloroquine tidak menunjukkan kegunaan bagi pasien COVID-19.

Sebelumnya, pada Senin (25/5/2020) Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, uji klinis obat anti malaria hydroxychloroquine untuk mengobati pasien COVID-19 di sejumlah negara dihentikan sementara, dengan alasan keamanan obatnya pada pasien COVID-19. Namun, penelitian itu sekarang sedang dikaji ulang.

Kata Dokter Soal Masa Berlaku Surat 'Bebas Corona' Sampai 7 Hari

 Memasuki new normal akibat pandemi Corona, setiap orang diwajibkan memiliki surat keterangan 'bebas' dari COVID-19 sebelum memasuki suatu wilayah. Salah satu daerah yang menerapkan kebijakan ini adalah DKI Jakarta.

"Sesuai SE (surat edaran) gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 bahwa kebijakan terbaru untuk dokumen bukti tes, bisa dengan swab tes (masa berlaku 7 hari), atau dengan rapid tes (masa berlaku 3 hari)," tulis Pemprov DKI Jakarta dalam akun Twitter miliknya @DKIJakarta, Kamis (28/5/2020).

Soal masa berlaku surat bebas Corona dari hasil tes swab atau rapid test, dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe mengatakan keterangan tersebut kurang tepat. Sebab disebutkan olehnya hasil tes yang sebenarnya hanya valid satu hari saja.

"Di satu sisi, (tes) ini tetap perlu dilakukan untuk meminimalisasi penularan," kata Dirga kepada detikcom, Kamis (4/6/2020).

"Di sisi lain, masyarakat harus paham bahwa hasil pemeriksaan sesungguhnya hanya valid pada saat pengambilan sampel dilakukan. Ketentuan masa berlaku sekian hari sebenarnya tidak punya dasar ilmiah yang jelas," lanjutnya.

Dirga menjelaskan seseorang bisa terinfeksi virus Corona kapan dan di mana pun, bahkan setelah melakukan tes Corona.

"Setelah pemeriksaan dilakukan, sewaktu-waktu seseorang bisa terinfeksi. Jangan sampai timbul false sense of security. Jangan karena hasilnya negatif, lalu seakan merasa bebas ke mana-mana," pungkasnya.

Lagi, Studi Baru Temukan Virus Corona Dapat 'Merusak' Testis

Peneliti China dan Amerika Serikat (AS) menemukan virus Corona dapat memperbesar dan menyerang sel-sel yang menghasilkan sperma. Kemungkinan dengan cara mengikat enzim pada permukaan sel.
Namun para peneliti mengatakan hampir tidak ada gen virus yang ditemukan di dalam air mani. Hal ini menunjukkan bahwa virus Corona yang menyerang testis bukan infeksi menular seksual.

"Donasi sperma dan rencana kehamilan bagi pasien COVID-19 sebaiknya dipertimbangkan," jelas para peneliti dalam makalah peer-review yang diterbitkan dalam European Urology Focus pada hari Minggu.

Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan ada perdebatan apakah virus Corona berdampak pada kesuburan pria. Beberapa penelitian menemukan kelainan hormon pada pria pengidap virus Corona COVID-19 tetapi tidak ada jejak virus yang ditemukan pada sampel sperma pasien.

Mengutip South China Morning Post, dalam studi terbaru, sampel 11 pasien yang meninggal karena virus Corona COVID-19 di Wuhan dianalisis oleh tim yang dipimpin oleh Ming Zhou, seorang profesor di Tufts Medical Center di Boston, dan Dr Nie Xiu, dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan.

Mereka menguji gen virus di jaringan yang terlibat dalam produksi sperma dan testosteron. Beberapa sampel yang mengalami kerusakan oleh virus juga diteliti.

Hanya satu sampel yang menunjukkan jejak virus, yaitu dari pasien dengan viral load yang tinggi. Peneliti menduga virus itu berada dalam darah bukan di jaringan testis.
http://cinemamovie28.com/death-note-episode-36/

DKI Rekomendasikan Gowes di Masa Transisi, Perlu Pakai Masker Nggak?

DKI Jakarta mengumumkan berlakunya masa transisi mulai Kamis (4/6/2020). Untuk pergerakan penduduk, jalan kaki dan sepeda lebih direkomendasikan.
Bagi yang memilih gowes, informasi viral tentang bahaya pakai masker saat bersepeda beberapa waktu lalu tentu bikin galau. Sebenarnya, perlu tidak sih pakai masker saat bersepeda?

Ketua Komunitas Bike To Work (B2W) Indonesia Poetoet Soedarjanto mengatakan, menggunakan masker saat bersepeda sebenarnya sudah sejak lama diterapkan. Jauh sebelum ada virus Corona COVID-19, masker dipakai untuk menghindari polusi udara.

"Buat saya bukan hal baru menggunakan masker saat bersepeda, sudah sejak lama banyak kawan yang juga menggunakannya saat bersepeda. Saat sebelum pandemi, saya sendiri hanya menggunakannya jikalau rute yang saya lewati terasa pekat oleh polusi udara," ujar Poetoet Soedarjanto kepada detikcom.

"Karena saat ini masa pandemi COVID-19, maka setiap kali bersepeda saya selalu menggunakan masker," jelasnya.

Poetoet menambahkan, tentang masker yang digunakan harus menjadi perhatian penting. Mulai jenis masker, cara pemakaian, hingga jumlah masker yang dibawa.

Berikut yang perlu diperhatikan jika gunakan masker saat bersepeda.

Jenis masker (terkait material)
Yang pasti, bukan masker medis karena pori-porinya terlalu rapat.

Cara pemakaian masker (terkait durasi, tingkat kecepatan bersepeda)
Saat mengenakan masker, pasokan oksigen tentu lebih terbatas. Pastinya, intensitas dan kecepatan gowes perlu disesuaikan.

Jumlah yang harus dibawa
Masker cadangan berguna karena dalam kondisi basah oleh keringat, masker akan berkurang efektivitasnya.

Setelah selesai bersepeda, masker disemprot dengan sanitizer
Langkah ini untuk membersihkan virus yang kemungkinan menempel di permukaan.

Ia juga mengatakan, yang tahu kondisi diri kita itu diri kita sendiri, jadi kapan harus dan kapan tidak gunakan masker.

"Jadi, untuk teman-temanku jika sangat terpaksa harus keluar rumah dengan sepeda mohon sekali perhatikan hal-hal tersebut ya, secara ringkas bahwa kita harus jaga jarak dengan orang lain, gunakan masker dan bawa hand sanitizer," pungkasnya.

Menurutnya, ini langkah sangat sederhana untuk menjaga diri kita, keluarga kita dan orang lain.

Sempat Terhenti, WHO Lanjutkan Studi Hydroxychloroquine untuk Pasien Corona

Komite Keamanan dan Pemantauan Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan untuk terus meneliti hydroxychloroquine sebagai pengobatan virus Corona COVID-19.

"Keputusan itu diambil setelah publikasi sebuah hasil penelitian menunjukkan, pengobatan dengan hydroxychloroquine kemungkinan meningkatkan kematian pasien," demikian pernyataan WHO.

Namun, saat ini belum ada pengobatan yang disetujui untuk pengobatan COVID-19.

"Sampai sekarang, tidak ada bukti bahwa obat apa pun benar-benar mengurangi kematian pada pasien yang memiliki COVID-19," Kepala Ilmuwan WHO Dr Soumya Swaminathan, dikutip dari CNN.

Tim peneliti dari Harvard Medical School di Boston dan rumah sakit Universitas Zürich mempublikasikan hasil penelitian data 96.000 pasien COVID-19 dari seluruh dunia dalam jurnal The Lancet. Para peneliti menarik kesimpulan, pemberian hydroxychloroquine dan chloroquine tidak menunjukkan kegunaan bagi pasien COVID-19.

Sebelumnya, pada Senin (25/5/2020) Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, uji klinis obat anti malaria hydroxychloroquine untuk mengobati pasien COVID-19 di sejumlah negara dihentikan sementara, dengan alasan keamanan obatnya pada pasien COVID-19. Namun, penelitian itu sekarang sedang dikaji ulang.
http://cinemamovie28.com/death-note-episode-35/