Kamis, 04 Juni 2020

Lagi, Studi Baru Temukan Virus Corona Dapat 'Merusak' Testis

Peneliti China dan Amerika Serikat (AS) menemukan virus Corona dapat memperbesar dan menyerang sel-sel yang menghasilkan sperma. Kemungkinan dengan cara mengikat enzim pada permukaan sel.
Namun para peneliti mengatakan hampir tidak ada gen virus yang ditemukan di dalam air mani. Hal ini menunjukkan bahwa virus Corona yang menyerang testis bukan infeksi menular seksual.

"Donasi sperma dan rencana kehamilan bagi pasien COVID-19 sebaiknya dipertimbangkan," jelas para peneliti dalam makalah peer-review yang diterbitkan dalam European Urology Focus pada hari Minggu.

Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan ada perdebatan apakah virus Corona berdampak pada kesuburan pria. Beberapa penelitian menemukan kelainan hormon pada pria pengidap virus Corona COVID-19 tetapi tidak ada jejak virus yang ditemukan pada sampel sperma pasien.

Mengutip South China Morning Post, dalam studi terbaru, sampel 11 pasien yang meninggal karena virus Corona COVID-19 di Wuhan dianalisis oleh tim yang dipimpin oleh Ming Zhou, seorang profesor di Tufts Medical Center di Boston, dan Dr Nie Xiu, dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan.

Mereka menguji gen virus di jaringan yang terlibat dalam produksi sperma dan testosteron. Beberapa sampel yang mengalami kerusakan oleh virus juga diteliti.

Hanya satu sampel yang menunjukkan jejak virus, yaitu dari pasien dengan viral load yang tinggi. Peneliti menduga virus itu berada dalam darah bukan di jaringan testis.

Meski begitu lebih dari 80 persen sampel menunjukkan kerusakan signifikan pada tubulus seminiferus yaitu bagian testis yang memproduksi sperma.

Tidak diketahui bagaimana virus merusaknya tanpa memasuki sel testis. Yang pasti, testis mengandung enzim ACE2, yang dapat diikat oleh virus Corona menggunakan protein spike.

"Kami berspekulasi protein membran virus, seperti protein lonjakan, dapat berperan dalam cedera," tulis European Urology Focus.

Zhang Zhuye, peneliti dari Pusat Kesehatan Masyarakat Shanghai di Universitas Fudan dan tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan tidak ada bukti ilmiah langsung untuk teori bahwa virus menyebabkan kerusakan tanpa benar-benar memasuki sel.

"Sejumlah strain virus dapat mengikat dengan ACE2, dan dapat mempengaruhi fungsi normalnya. Ini dapat menyebabkan kerusakan sel tipe tertentu, yang tergantung pada enzim," kata Zhang.

Kerusakan yang ditemukan dalam sampel penelitian juga bisa disebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh. Beberapa pasien COVID-19 kritis mengidap kegagalan multi organ dan penelitian sebelumnya memperkirakan semua ini disebabkan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan yang rusak.

Tim Zhou menyimpulkan penelitian harus dilanjutkan untuk menemukan cara mengurangi risiko cedera testis selama perjalanan penyakit COVID-19.

Pasca Autopsi, Tim Medis Temukan George Floyd Positif Virus Corona Sejak April

 Baru-baru ini kematian George Floyd ramai diperbincangkan. Kematian George Floyd dinilai sebagai bentuk rasis yang dilakukan oleh polisi Minneapolis yang memicu amarah seluruh warga di dunia.
Tepatnya kemarin, Rabu (3/6/2020), hasil autopsi George Floyd dirilis oleh para petugas medis Kota Hannepin. George Floyd dinyatakan positif virus Corona COVID-19 tanpa gejala sejak April.

Dikutip dari NBC News, Andrew M Baker kepala pemeriksa medis Hannepin mengatakan kalau Departemen Kesehatan Minnesota mengatakan kemungkinan besar itu adalah hasil positif yang bertahan lama dari infeksi sebelumnya. Tidak ada bukti bahwa virus Corona berperan besar atas meninggalnya George Floyd.

Pemeriksa medis juga mengatakan ada kondisi 'signifikan' lain yang mendasari kematiannya. Termasuk penyakit jantung hipertensi, keracunan fentanyl, dan penggunaan metamfetamin baru-baru ini.

Kesimpulan-kesimpulan itu berbeda dengan otopsi independen yang dilakukan oleh patolog untuk keluarga Floyd. Autopsi itu menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki masalah medis mendasar yang berkontribusi pada kematiannya. Ahli patologi juga mengatakan dia meninggal setelah aliran darah dan udara terputus ke otaknya, menyebabkan dia mati karena asfiksia mekanik.

Michael Baden, mantan pemeriksa medis Kota New York yang berada di antara dua dokter yang melakukan autopsi pribadi untuk keluarga Floyd minggu lalu, mengatakan para pejabat daerah tidak memberitahunya kalau Floyd telah dinyatakan positif terjangkit COVID-19.

"Direktur pemakaman tidak diberitahu, dan kami tidak diberitahu, dan sekarang banyak orang bergegas mencoba untuk ikut tes Corona," kata Baden.
http://cinemamovie28.com/uq-holder-episode-1/

Kata Dokter Soal Masa Berlaku Surat 'Bebas Corona' Sampai 7 Hari

 Memasuki new normal akibat pandemi Corona, setiap orang diwajibkan memiliki surat keterangan 'bebas' dari COVID-19 sebelum memasuki suatu wilayah. Salah satu daerah yang menerapkan kebijakan ini adalah DKI Jakarta.

"Sesuai SE (surat edaran) gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 bahwa kebijakan terbaru untuk dokumen bukti tes, bisa dengan swab tes (masa berlaku 7 hari), atau dengan rapid tes (masa berlaku 3 hari)," tulis Pemprov DKI Jakarta dalam akun Twitter miliknya @DKIJakarta, Kamis (28/5/2020).

Soal masa berlaku surat bebas Corona dari hasil tes swab atau rapid test, dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe mengatakan keterangan tersebut kurang tepat. Sebab disebutkan olehnya hasil tes yang sebenarnya hanya valid satu hari saja.

"Di satu sisi, (tes) ini tetap perlu dilakukan untuk meminimalisasi penularan," kata Dirga kepada detikcom, Kamis (4/6/2020).

"Di sisi lain, masyarakat harus paham bahwa hasil pemeriksaan sesungguhnya hanya valid pada saat pengambilan sampel dilakukan. Ketentuan masa berlaku sekian hari sebenarnya tidak punya dasar ilmiah yang jelas," lanjutnya.

Dirga menjelaskan seseorang bisa terinfeksi virus Corona kapan dan di mana pun, bahkan setelah melakukan tes Corona.

"Setelah pemeriksaan dilakukan, sewaktu-waktu seseorang bisa terinfeksi. Jangan sampai timbul false sense of security. Jangan karena hasilnya negatif, lalu seakan merasa bebas ke mana-mana," pungkasnya.

Lagi, Studi Baru Temukan Virus Corona Dapat 'Merusak' Testis

Peneliti China dan Amerika Serikat (AS) menemukan virus Corona dapat memperbesar dan menyerang sel-sel yang menghasilkan sperma. Kemungkinan dengan cara mengikat enzim pada permukaan sel.
Namun para peneliti mengatakan hampir tidak ada gen virus yang ditemukan di dalam air mani. Hal ini menunjukkan bahwa virus Corona yang menyerang testis bukan infeksi menular seksual.

"Donasi sperma dan rencana kehamilan bagi pasien COVID-19 sebaiknya dipertimbangkan," jelas para peneliti dalam makalah peer-review yang diterbitkan dalam European Urology Focus pada hari Minggu.

Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan ada perdebatan apakah virus Corona berdampak pada kesuburan pria. Beberapa penelitian menemukan kelainan hormon pada pria pengidap virus Corona COVID-19 tetapi tidak ada jejak virus yang ditemukan pada sampel sperma pasien.

Mengutip South China Morning Post, dalam studi terbaru, sampel 11 pasien yang meninggal karena virus Corona COVID-19 di Wuhan dianalisis oleh tim yang dipimpin oleh Ming Zhou, seorang profesor di Tufts Medical Center di Boston, dan Dr Nie Xiu, dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan.

Mereka menguji gen virus di jaringan yang terlibat dalam produksi sperma dan testosteron. Beberapa sampel yang mengalami kerusakan oleh virus juga diteliti.

Hanya satu sampel yang menunjukkan jejak virus, yaitu dari pasien dengan viral load yang tinggi. Peneliti menduga virus itu berada dalam darah bukan di jaringan testis.
http://cinemamovie28.com/death-note-episode-33/