Wabah COVID-19 sampai saat ini masih melanda berbagai negara, termasuk Indonesia. Tak hanya di udara, virus ini disebut mampu bertahan berjam-jam di berbagai permukaan benda yang sering kita sentuh.
Tapi, berapa lama virus itu bisa bertahan di dalam tubuh orang yang terinfeksi?
Para peneliti kemudian mencari tahu lamanya waktu yang dibutuhkan virus saat bertahan di dalam tubuh orang yang terinfeksi. Para peneliti di China mempelajarinya melalui data dari 191 pasien Corona, termasuk 54 pasien meninggal yang dirawat di Rumah Sakit Jinyintan dan Rumah Sakit Paru Wuhan.
Hasilnya, mereka menyimpulkan bahwa RNA virus bisa bertahan hidup di dalam tubuh manusia yang terinfeksi dalam waktu rata-rata 20 hari. Tetapi, virus itu juga bisa bertahan hingga 37 hari atau sekitar 5 minggu.
"Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa RNA SARS-CoV-2 yang terdeteksi bisa bertahan dalam waktu rata-rata 20 hari," tulis penelitian tersebut yang dikutip dari Fox News, Jumat (5/6/2020).
Mereka juga memiliki perbandingan dengan mendeteksi viral load pada spesimen pernapasan, dari sekitar sepertiga pasien selama 4 minggu setelah penyakit muncul. Perbandingan ini dilihat dari sekitar sepertiga pasien selama wabah SARS pada awal tahun 2000-an dan yang terinfeksi MERS.
Hasil yang didapatkan, mereka menemukan durasi deteksi RNA MERS-CoV dalam spesimen pernapasan yang paling rendah bertahan di dalam tubuh. Virus tersebut bisa bertahan selama setidaknya 3 minggu.
Disebut Ridwan Kamil Obat Corona, Semanjur Apakah Klorokuin?
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mendorong universitas untuk meneliti klorokuin sulfat atau biasa disebut klorokuin saja. Obat malaria yang kandungannya sama seperti pohon kina ini disebutnya punya potensi untuk mengobati virus corona COVID-19.
"Klorokuin ini bisa menghambat pertumbuhan dan memblokade virus Corona ini," kata Emil, sapaan akrabnya, dalam sebuah wawancara.
Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Universitas Padjajaran (Unpad) Keri Lestari menyebut, klorokuin sejak lama digunakan untuk mengobati malaria. Obat ini memiliki kandungan yang sama dengan pohon kina yang banyak tumbuh di Jawa Barat.
"Klorokuin itu berdasarkan hasil riset di Cina, di Wuhan dengan klorokuin menunjukkan adanya perbaikan," kata Keri.
Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Prof Zubairi Djoerban, menyebut obat malaria klorokuin sering dipakai juga dalam pengobatan lupus dan rheumatoid arthritis. Dalam beberapa kasus yang dilaporkan, obat ini memang diklaim bisa mengobati COVID-19.
Klaim serupa juga disematkan pada beberapa obat HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang dalam beberapa kasus juga dipakai untuk mengobati pasien COVID-19. Jenis obat HIV yang dipakai, menurut Prof Zubairi adalah lini-2 Aluvia yang merupakan kombinasi Lopinavir dan Ritonavir.
"Belum ada bukti yang cukup kuat untuk menjadi obat pilihan," kata Prof Zubairi, menanggapi berbagai klaim tersebut.
https://indomovie28.com/fate-extra-last-encore-episode-11-subtitle-indonesia/