Jumat, 05 Juni 2020

Pasangan Menangis Tersedu Usai Bercinta? Bisa Jadi Ini Alasan Medisnya

Tak selalu berakhir senang, ternyata berhubungan seks juga bisa membuatmu menjadi sedih lho! Rasa sedih sehabis bercinta biasa disebut dengan post-coital dysphoria (PCD).
"PCD merupakan perasaan sedih, marah dan susah umumnya setelah berhubungan seks," ucap pakar seks di New York, Ian Kerner, PhD, dikutip dari Health.

Sebuah survei yang dilakukan pada wanita dan telah diterbitkan dalam Sexual Medicine di tahun 2015 menemukan bahwa sebanyak 46 persen responden mengalami setidaknya satu kaliPCD dalam hidupnya, dan 5 persen lagi sering merasa sedih dan kesepian setelah berhubungan seks.

Pada dasarnya seks dan orgasme dapat melepaskan oksitosin atau 'hormon cinta' yang akan mengikatmu dengan pasangan secara emosional. Jika kamu merasa sedih setelah bercinta kemungkinan ada masalah yang terjadi di dalam hubunganmu.

Kerner pun memberikan contoh pasangan yang sebelumnya bertengkar, kemudian melakukan hubungan seks.

"Setelah bertengkar, melakukan hubungan seks mungkin akan terasa hebat, tetapi setelahnya mungkin saja seseorang menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak benar-benar sedang terhubung satu sama lain," tuturnya.

1 Suspek Corona di RSUD dr Moewardi Solo Meninggal karena Pneumonia

Satu orang pasien dalam pengawasan (PDP) atau suspect virus Corona (COVID-19) di RSUD dr. Moewardi, Solo meninggal dunia. Meski demikian belum ada hasil tes apakah pasien tersebut positif atau negatif virus Corona.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan satu dari dua pasien dalam pengawasan di RSUD dr. Moewardi meninggal hari Rabu (11/3) kemarin. Hingga saat ini, di Jateng ada dua pasien suspect Corona yang meninggal, yaitu satu di RSUD dr. Moewardi dan sebelumnya satu pasien di RSUP dr. Kariadi, Semarang.

"Kemarin itu ada satu pasien dengan pengawasan yang meninggal dunia yang dirawat di RSUD dr. Moewardi Surakarta. Sampai sejauh ini penyebab kematiannya adalah disebabkan karena gagal napas, pneumonia," kata Yulianto di kantornya, Semarang, Kamis (12/3/2020).

Dokter Spesialis Paru RSUD Dr Moewardi, dr Harsini menjelaskan pasien pria berusia 59 tahun yang meninggal itu tidak memiliki riwayat ke luar negeri.

"Dia habis pulang seminar di Bogor, kebetulan keduanya peserta seminar di Bogor tanggal 25 sampai 28 Februari. Tanggal 29 mulai pilek, batuk ke dokter, kemudian masuk karena keperburukan paru cepat, masuk observasi. Dibawa ke RSUD dr. Moewardi masuk PDP," jelasnya.

Hasil lab terkait positif atau tidaknya virus Corona terhadap pasien tersebut masih menunggu Litbangkes yang sampelnya dikirim hari Selasa (10/3) lalu. Namun Harsini menjelaskan pasien juga menderita diabetes.

"Pasien ini ada gula tidak terkontrol jadi mempermudah perburukan," katanya.

Meski belum diketahui hasil lab terkait virus Corona, pemakaman pasien ini dilakukan sesuai prosedur dengan asumsi positif sebagai langkah antisipasi. Hal ini sama seperti yang dilakukan pada pasien di RSUP dr. Kariadi, Semarang yang setelah dimakamkan baru diketahui pasien tersebut negatif Corona.

"Pemulasaran kayak flu burung, tidak dibuka keluarga, langsung ke pemakaman," tandasnya.

Yulianto menambahkan penyelidikan epidemiologi juga dilakukan meski belum ada hasil dari Litbangkes. Penyelidikan tersebut untuk mengetahui pasien sudah berinteraksi dengan siapa saja.

"Tracking-nya kontak dengan siapa saja dengan asumsi positif, walau belum ada hasilnya kita sudah lakukan, tapi belum bisa lakukan tindakan apa-apa. Malam ini juga akan tanyakan ke pusat," kata Yulianto.
http://indomovie28.com/pliss-gue-bukan-princess/

4 Meninggal karena DBD di Klaten, Rumah Kosong Jadi Sarang Nyamuk

Empat orang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) setelah digigit nyamuk Aedes Aegypti di Klaten tahun ini. Empat korban seluruhnya masih anak-anak.
"Minggu kesembilan ada 33 kasus dengan satu orang meninggal. Di Minggu kesepuluh (Maret) ini ada tambahan tiga kematian sehingga total empat kematian di 33 kasus," jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pemkab Klaten, dokter Anggit Budiarto pada detikcom, Kamis (12/3/2020) siang di kantornya.

Anggit menjelaskan kasus kematian warga itu ada di Kecamatan Jatinom, Trucuk, Ngawen dan Klaten Tengah. Dengan kasus itu menunjukkan kasus sudah merata.

"Jadi ini masyarakat harus mulai awas. Sebab kasus ini sudah meliputi desa maupun kota," lanjut Anggit.

Dari sisi jumlah kasus, kata Anggit angka kasus 33 dari Januari sampai Maret masih tergolong rendah. Namun dari jumlah kasus kematian sudah tinggi.

"Jumlah kematian dibandingkan kasusnya sudah tinggi. Padahal tahun lalu hanya ada 320 kasus yang meninggal hanya satu," tambah Anggit.

Semua korban, jelas Anggit, surat terkonfirmasi dari RS. Keempat usia masih anak-anak.

"Masih anak-anak sebab di bawah 16 tahun. Dinas sebenarnya sudah sejak awal tahun terus menggerakkan semua kader dan juru pengamat jentik (Jumantik) untuk terus bergerak," imbuh Anggit.

Dikatakan Anggit, dari tingkat kesadaran masyarakat sebenarnya sudah tinggi. Masyarakat minta fogging juga sudah tidak banyak tetapi ada sebab lain.

"Ada titik-titik tertentu yang menjadi penyebab. Misalnya banyak rumah kosong yang jadi sarang nyamuk atau kesadaran memeriksakan ke dokter masih rendah," terang Anggit.

Masyarakat, kata Anggit, kadang masih menganggap demam hal biasa. Padahal demam berdarah dengue (DBD) juga diawali demam tinggi di atas 37,5 derajat.

"Kalau demam sudah dua hari sebaiknya ke dokter. Jangan lupa pemusnah sarang nyamuk (PSN) harus terus dilakukan," pungkas Anggit.

Kasi Pengendalian Penyakit Binatang Dinas Kesehatan Pemkab Klaten, Wahyuning Nugraheni mengatakan rumah kosong bisa jadi penyebab. Tim Jumantik pernah menemukan sarang nyamuk.

"Pernah ada rumah kosong didobrak setelah ada kasus DBD. Ternyata jadi sarang," ungkap Wahyuning pada detikcom.

Pasangan Menangis Tersedu Usai Bercinta? Bisa Jadi Ini Alasan Medisnya

Tak selalu berakhir senang, ternyata berhubungan seks juga bisa membuatmu menjadi sedih lho! Rasa sedih sehabis bercinta biasa disebut dengan post-coital dysphoria (PCD).
"PCD merupakan perasaan sedih, marah dan susah umumnya setelah berhubungan seks," ucap pakar seks di New York, Ian Kerner, PhD, dikutip dari Health.

Sebuah survei yang dilakukan pada wanita dan telah diterbitkan dalam Sexual Medicine di tahun 2015 menemukan bahwa sebanyak 46 persen responden mengalami setidaknya satu kaliPCD dalam hidupnya, dan 5 persen lagi sering merasa sedih dan kesepian setelah berhubungan seks.

Pada dasarnya seks dan orgasme dapat melepaskan oksitosin atau 'hormon cinta' yang akan mengikatmu dengan pasangan secara emosional. Jika kamu merasa sedih setelah bercinta kemungkinan ada masalah yang terjadi di dalam hubunganmu.

Kerner pun memberikan contoh pasangan yang sebelumnya bertengkar, kemudian melakukan hubungan seks.

"Setelah bertengkar, melakukan hubungan seks mungkin akan terasa hebat, tetapi setelahnya mungkin saja seseorang menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak benar-benar sedang terhubung satu sama lain," tuturnya.
http://indomovie28.com/detik-terakhir/