Jumat, 05 Juni 2020

Perkembangan Virus Corona Setelah WHO Tetapkan Status Pandemi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan bahwa virus corona baru atau COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret lalu. Hal ini merujuk pada kasus infeksi yang terjadi di lebih dari 110 negara dan wilayah di dunia, dengan risiko penyebaran global yang luas.
"Ini bukan hanya krisis kesehatan masyarakat, ini adalah krisis yang akan menyentuh setiap sektor," kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, pada konferensi pers, dikutip dari Time.

"Ancaman pandemi menjadi sangat nyata. Bahkan jika kita menyebutnya pandemi, kita masih dapat menahannya dan mengendalikannya," ujarnya.

Apa itu pandemi?
Pandemi adalah persebaran penyakit yang terjadi secara global di seluruh dunia, lebih tinggi levelnya dibanding epidemi dan sering disebut juga epidemi global. Beberapa penyakit juga pernah dinyatakan sebagai pandemi yaitu H1N1, tuberkulosis, dan HIV.

Klasifikasi ini dikeluarkan saat kasus penularan penyakit lebih besar dari yang diperkirakan dan telah menginfeksi banyak orang di seluruh dunia. Selain itu, mempengaruhi berbagai aspek yang tidak hanya dari segi kesehatan.

Setelah istilah pandemi digunakan, WHO menekankan tidak ada anjuran yang berubah. Negara di dunia tetap didorong untuk mendeteksi, mengetes, merawat, mengisolasi, melacak, dan menggerakkan masyarakatnya.

"Perubahan istilah tidak mengubah apapun secara praktis mengingat beberapa pekan sebelumnya dunia telah diingatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi pandemi," kata Dr Nathalie MacDermott dari King's College London.

Bagaimana di Indonesia?
Menanggapi status pandemi, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko mengatakan status itu menjadi rujukan utama dan pastinya Kementerian Kesehatan sudah mengantisipasi itu.

"Kami KSP juga saat ini sedang mengundang semua potensi di perguruan tinggi, masyarakat, komunitas kesehatan, kumpulan dokter-dokter akan kami undang, kami ajak bersama menyelesaikan persoalan ini," katanya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2020).

Bahkan pemerintah Indonesia akan menyediakan masker dalam jumlah besar, serta alat uji laboratorium untuk memeriksa COVID-19. Masker yang akan disiapkan kurang lebih 15 juta masker.

"Ini (status pandemi) akan memberikan konsekuensi bahwa setiap negara akan bersiap-siap. Mereka akan membutuhkan begitu banyak sarana-prasarana kesehatan untuk kepentingannya," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (12/3/2020) malam.

5 Pantangan Agar Sesi Bercinta Malam Ini Lebih Eksplosif

Beberapa makanan diketahui memiliki nutrisi yang baik dalam meningkatkan kualitas seks. Tetapi ada juga makanan yang justru bisa menurunkan hasrat seksual.
Sebuah penelitian mengatakan makanan yang mengandung afrodisiak dipercaya bisa meningkatkan gairah bercinta. Sedangkan beberapa makanan yang mengandung anafrodisiak justru akan menurunkan libido seseorang.

"Ini merupakan daftar makanan yang mempengaruhi testosteron atau libido," kata dokter urologi di Florida, Jamin Brahmbhatt, MD, dikutip dari The Healthy.

Berikut ini beberapa makanan yang dapat menurunkan hasrat seksual seseorang.

1. Asam lemak
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Asian Journal of Andrology menemukan bahwa asam lemak omega-3 (minyak ikan, biji rami dan minyak canola) bisa meningkatkan fungsi testis menjadi lebih baik.

Sementara itu mengonsumsi asam lemak omega-6 (bunga matahari, jagung dan minyak kedelai) justru bisa mengurangi fungsi testis.

2. Makanan tinggi lemak jenuh
Umumnya setiap makanan itu dimasak dengan cara digoreng. Sayangnya makanan jenis ini justru mengandung lemak jenuh yang bisa menyebabkan arteri menjadi tersumbat, aliran darah memburuk dan menambah berat badan.

"Jika kamu makananmu tidak sehat, kamu cenderung akan gemuk dan memiliki masalah seperti diabetes datau tekanan darah tinggi. Itu semuanya dapat mempengaruhi libido," jelas Brahmbhatt.

3. Gula
Brahmbhatt mengatakan gula membutuhkan insulin agar bisa diproses. Sehingga peningkatan insulin yang tinggi akan membuat kadar testosteron menjadi rendah.
http://indomovie28.com/prince-of-rock-and-roll/

1 Suspek Corona di RSUD dr Moewardi Solo Meninggal karena Pneumonia

Satu orang pasien dalam pengawasan (PDP) atau suspect virus Corona (COVID-19) di RSUD dr. Moewardi, Solo meninggal dunia. Meski demikian belum ada hasil tes apakah pasien tersebut positif atau negatif virus Corona.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan satu dari dua pasien dalam pengawasan di RSUD dr. Moewardi meninggal hari Rabu (11/3) kemarin. Hingga saat ini, di Jateng ada dua pasien suspect Corona yang meninggal, yaitu satu di RSUD dr. Moewardi dan sebelumnya satu pasien di RSUP dr. Kariadi, Semarang.

"Kemarin itu ada satu pasien dengan pengawasan yang meninggal dunia yang dirawat di RSUD dr. Moewardi Surakarta. Sampai sejauh ini penyebab kematiannya adalah disebabkan karena gagal napas, pneumonia," kata Yulianto di kantornya, Semarang, Kamis (12/3/2020).

Dokter Spesialis Paru RSUD Dr Moewardi, dr Harsini menjelaskan pasien pria berusia 59 tahun yang meninggal itu tidak memiliki riwayat ke luar negeri.

"Dia habis pulang seminar di Bogor, kebetulan keduanya peserta seminar di Bogor tanggal 25 sampai 28 Februari. Tanggal 29 mulai pilek, batuk ke dokter, kemudian masuk karena keperburukan paru cepat, masuk observasi. Dibawa ke RSUD dr. Moewardi masuk PDP," jelasnya.

Hasil lab terkait positif atau tidaknya virus Corona terhadap pasien tersebut masih menunggu Litbangkes yang sampelnya dikirim hari Selasa (10/3) lalu. Namun Harsini menjelaskan pasien juga menderita diabetes.

"Pasien ini ada gula tidak terkontrol jadi mempermudah perburukan," katanya.

Meski belum diketahui hasil lab terkait virus Corona, pemakaman pasien ini dilakukan sesuai prosedur dengan asumsi positif sebagai langkah antisipasi. Hal ini sama seperti yang dilakukan pada pasien di RSUP dr. Kariadi, Semarang yang setelah dimakamkan baru diketahui pasien tersebut negatif Corona.

"Pemulasaran kayak flu burung, tidak dibuka keluarga, langsung ke pemakaman," tandasnya.

Yulianto menambahkan penyelidikan epidemiologi juga dilakukan meski belum ada hasil dari Litbangkes. Penyelidikan tersebut untuk mengetahui pasien sudah berinteraksi dengan siapa saja.

"Tracking-nya kontak dengan siapa saja dengan asumsi positif, walau belum ada hasilnya kita sudah lakukan, tapi belum bisa lakukan tindakan apa-apa. Malam ini juga akan tanyakan ke pusat," kata Yulianto.

Perkembangan Virus Corona Setelah WHO Tetapkan Status Pandemi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan bahwa virus corona baru atau COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret lalu. Hal ini merujuk pada kasus infeksi yang terjadi di lebih dari 110 negara dan wilayah di dunia, dengan risiko penyebaran global yang luas.
"Ini bukan hanya krisis kesehatan masyarakat, ini adalah krisis yang akan menyentuh setiap sektor," kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, pada konferensi pers, dikutip dari Time.

"Ancaman pandemi menjadi sangat nyata. Bahkan jika kita menyebutnya pandemi, kita masih dapat menahannya dan mengendalikannya," ujarnya.

Apa itu pandemi?
Pandemi adalah persebaran penyakit yang terjadi secara global di seluruh dunia, lebih tinggi levelnya dibanding epidemi dan sering disebut juga epidemi global. Beberapa penyakit juga pernah dinyatakan sebagai pandemi yaitu H1N1, tuberkulosis, dan HIV.

Klasifikasi ini dikeluarkan saat kasus penularan penyakit lebih besar dari yang diperkirakan dan telah menginfeksi banyak orang di seluruh dunia. Selain itu, mempengaruhi berbagai aspek yang tidak hanya dari segi kesehatan.

Setelah istilah pandemi digunakan, WHO menekankan tidak ada anjuran yang berubah. Negara di dunia tetap didorong untuk mendeteksi, mengetes, merawat, mengisolasi, melacak, dan menggerakkan masyarakatnya.

"Perubahan istilah tidak mengubah apapun secara praktis mengingat beberapa pekan sebelumnya dunia telah diingatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi pandemi," kata Dr Nathalie MacDermott dari King's College London.
http://indomovie28.com/pontien-pontianak-untold-story/