Jumat, 03 Juli 2020

Astronom Temukan 2 Super Earth yang Dekat dari Bumi

Astronom menemukan dua Super Earth di dekat sistem tata surya kita, jaraknya sekitar 11 tahun cahaya dari Bumi.
Super Earth adalah julukan untuk planet yang ada di luar tata surya, dengan massa lebih besar dari Bumi, namun di bawah massa Neptunus dan Uranus.

Kedua Super Earth yang baru ditemukan ini, berada tepat di zona layak huni Gliese 887, di mana air dapat eksis dalam bentuk cair. Meski demikian, ada kemungkinan keduanya terlalu hangat untuk bisa menopang banyak kehidupan.

Tim yang dipimpin oleh astronom dari University of Göttingen ini menemukan Super Earth yang dinamai Gliese 887b dan Gliese 887c menggunakan High Accuracy Radial velocity Planet Searcher (HARPS) milik European Southern Observatory di Chili.

"Planet-planet ini akan memberikan kemungkinan terbaik untuk studi lebih rinci, termasuk pencarian kehidupan di luar tata surya kita," kata Dr Sandra Jeffers yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari Unilad.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah Science ini, para ilmuwan menjelaskan bagaimana mereka bisa menemukan Super Earth menggunakan teknik yang disebut Doppler wobble.

Teknik ini memungkinkan mereka mengukur goyangan kecil bintang yang disebabkan tarikan gravitasi planet. Sinyal-sinyal ini menunjukkan orbit 9,3 dan 21,8 hari, menandakan keberadaan dua planet yang lebih besar dari Bumi, tetapi bergerak agak cepat.

Gliese 887c juga diperkirakan memiliki suhu sekitar 70 derajat celcius. Selain itu, zona layak huni sistem ini jauh lebih dekat daripada posisi Bumi dalam korespondensi dengan Matahari.

Artinya, 'kecerahan' Gliese 887 hampir konstan. Jika Matahari kita seaktif Gliese 887, atmosfer Bumi mungkin akan tersapu oleh angin bintang.

"Planet yang mengorbit dekat seperti ini memiliki peluang besar untuk terkunci secara pasang surut ke bintang induknya. Ini berarti, ketika planet mengorbit bintangnya, belahan planet yang sama selalu menghadap bintang," terang Dr John Barnes, ahli astrofisika dari Open University yang ikut dalam penelitian ini.

"Untuk planet-planet yang mengorbit GJ 887, setengah dari planet-planet akan berada di siang hari selamanya dan setengah lainnya mengalami malam hari abadi. Jadi, bisa jadi lebih dingin di beberapa bagian planet dibandingkan yang lain," sambungnya.

Astronom memiliki ketertarikan besar mempelajari sistem Super Earth lebih lanjut menggunakan Teleskop James Webb (penerus Teleskop Hubble). Informasi lain dari penelitian ini, ada sinyal ketiga yang juga terdeteksi di dekat Bumi. Namun peneliti sangat berhati-hati untuk mengonfirmasi apakah itu sebuah planet atau bukan.

Ini Bukti Jelas Masker Ampuh Cegah Penularan Corona

Masker disebut benar-benar efektif mencegah penularan virus Corona berdasarkan sebuah visualisasi. Penggambaran ini adalah bagian riset yang digelar oleh akademisi di Florida Atlantic University, Amerika Serikat.
Terlihat bahwa tanpa masker, droplet yang diproduksi saat batuk bisa terbang sampai 3,7 meter. Penggunaan masker bisa memperpendek jarak itu dan berdasarkan bahannya, sebagian masker lebih ampuh dibandingkan yang lain.

"Visual yang digunakan dalam studi kami bisa membantu menjelaskan alasan rasional di balik social distancing dan rekomendasi menggunakan masker," cetus pemimpin studi ini, Siddharta Verma.

Dikutip detikINET dari Live Science, periset melakukan simulasi batuk menggunakan manekin. Batuk simulasi lantas digambarkan sebagai uap berwarna biru yang keluar dari mulut manekin tersebut.

Setelahnya, dipasang beberapa tipe masker non medis untuk melihat efektifitasnya. Termasuk masker buatan rumah dengan dua lapis kain katun, bandana satu lapis, saputangan yang terpasang longgar dan masker biasa yang dijual di apotek.

Masker kain katun disebut paling efektif walau ada kebocoran di dekat hidung, dengan droplet hanya menyebar 6,35 cm dari wajah. Masker apotek berjenis contong atau kerucut juga efektif, di mana droplet menyebar 20 cm dari muka.

Sedangkan bandana dari material kaos dan saputangan terlipat yang dipasang disebut kurang efektif, masing-masing menyebarkan droplet sejauh sekitar 1 meter dan 0,3 meter. Tapi tetap saja lebih baik ketimbang sama sekali tak memakai masker. Berikut video visualisasinya:
https://cinemamovie28.com/star/zhou-xun/

Sejarah Sepeda dan Asal Muasal Namanya

Di masa New Normal, makin banyak orang yang bersepeda. Tapi tahu nggak sih dari mana asal namanya? Ini dia sejarah sepeda.

Sekarang ini kita lihat bersepeda kembali menjadi tren. Demi kesehatan di masa pandemi Corona, orang-orang beralih ke sepeda supaya bisa wira-wiri sambil jaga jarak. Orang Inggris menyebutnya 'bicycle' tapi orang Indonesia menyebutnya sepeda. Dari mana sebenarnya nama ini berasal?

Dihimpun detikINET dari berbagai sumber, asal mula nama Sepeda berasal dari kata Velocipede yang diperkenalkan pemerintah kolonial Belanda tentang sebuah alat transportasi baru di awal abad ke-20. Pramoedya Ananta Toer dalam novel Anak Semua Bangsa menceritakan Velocipede sebagai sebuah penemuan penting saat itu yang dibawa ke Hindia Belanda.

"Ini yang dinamai kereta-angin, Tuan-tuan, Velocipede. Bikinan Jerman sejati. Kencang, cepat seperti angin. Sang angin juga yang punya urusan maka penumpangnya tidak jatuh. Duduk aman di sadel, kaki sedikit berayun. Dan... penumpang dan kereta melesit seperti anak panah!" tulis Pram dalam novel Anak Semua Bangsa, Bab 14 halaman 433.

Kembali ke sejarah sepeda, jadi siapa penemu Velocipede? Memang bukan orang Belanda, tapi orang Jerman namanya Baron Karl Von Drais. Dilansir dari website Museumjocas.nl pada 1817, Von Drais menciptakan kendaraan roda dua dari kayu dengan setir, tapi tanpa pedal.

Cara mengendarainya ya seperti yang ditulis Pram dalam novelnya. Untuk melajunya langsung menggunakan kaki dengan diayun mendorong ke tanah. Von Drais menamai kendaraan itu sebagai Velocipede. Di akhir abad ke-19, orang-orang juga menyebutnya sebagai Draisine dari kata Von Drais.

Karl Von Drais pun dikenal sebagai Bapak Sepeda. Dia dianggap sebagai penemu sepeda. Dari dialah sepeda modern lahir seperti yang kita kenal. Beberapa inovasi menyempurnakan bentuk sepeda yang dibikin oleh Von Drais. Sejarah sepeda berlanjut dengan asal nama bicycle.

Sejarah sepeda tidak lepas juga dari asal muasal nama bicycle. Velocipede temuan Von Drais mendapat penyempurnaan inovasi mulai tahun 1860-an oleh beberapa penemu Prancis termasuk Pierre Lallement, Pierre Michaux dan Ernest Michaux. Dilansir dari History, mereka menambahkan pedal ke roda depan.

Dari situ lahirlah nama bicycle yang artinya dua roda. Karena ada lagi varian lainnya yaitu monocycle, satu roda dan tricycle, tiga roda. Namun dua roda ini yang paling populer.

Eugene Meyer dan James Starley membuat inovasi lagi dengan membesarkan ukuran roda depannya dan disebut Penny-farthings. Sepeda dengan roda depan besar ini sangat populer tahun 1870-1880 sampai melahirkan kelab dan olahraga balap sepeda yang pertama.

Inovasi terakhir dilakukan 1885 oleh orang Inggris, John Kemp Starley. Karena Penny-farthings kurang aman, dia menggabung bentuk awal velocipede yang ukuran bannya sama dengan model pedal dan rantai.

Dari situ lahirlah model pertama dari sepeda modern. Ukuran ban depan dan belakangnya sama, ada pedal dan rantai sepeda.

Itulah sejarah sepeda. Meski hari ini sepeda sudah semakin canggih, sepeda kuno Penny-farthings tetap digunakan oleh komunitas penggemar sepeda antik terutama di Eropa. Sama saja di Indonesia dimana masih banyak komunitas penggemar sepeda ontel.
https://cinemamovie28.com/cast/natalie-morales/