TikTok pantas cemas kepopulerannya di India bisa merosot pasca diberlakukannya pelarangan aplikasi asal China. Sebab, pesaing mereka, Roposo, yang merupakan pemain lokal jadi pilihan alternatif pengguna internet di negeri Bollywood tersebut.
Seperti diketahui, TikTok masuk ke dalam 59 aplikasi China yang dilarang diakses di India. Larangan tersebut menyusul bentrokan antara tentara China dan India yang terjadi di perbatasan Himalaya, meski pemerintah India menyatakan alasan pemblokiran aplikasi adalah keamanan data pengguna.
Sejak diterapkan larangan tersebut pada Selasa (30/6) lalu, Roposo langsung dibanjiri 22 juta pengguna baru dalam waktu 48 jam saja, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (5/7/2020).
Roposo adalah aplikasi berbagi video asal India yang konsepnya tak berbeda jauh dengan TikTok. Bila ditengok sejarahnya, Roposo sebenarnya lebih tua dua tahun. Tetapi bila dilihat kepopulerannya, TikTok lebih mentereng.
Lonjakan pengguna baru Roposo tersebut membuat tim yang berada di belakangnya ekstra kerja keras, khususnya dalam menjaga kualitas layanan.
"Dalam beberapa hari terakhir saya tidur selama total lima jam, demikian juga seluruh tim kami. Bebannya sangat banyak, namun kami hanya ingin memastikan bahwa pengalaman pengguna bisa semulus mungkin," kata pendiri perusahaan Mayank Bhangadia.
Sebelum pelarangan TikTok dan aplikasi asal China oleh pemerintah India, jumlah unduhan Roposo di Play Store hanya sekitar 50 juta. Saat ini, yang men-download aplikasi tersebut melonjak dengan total lebih dari 80 juta. Bhangadia menargetkan dapat menjaga momentum ini dan mencapai 100 juta unduhan.
Berbasis di Bengaluru, India, Roposo memiliki 200 staf. Dengan meningkatnya popularitas, perusahaan mereka berencana untuk memperkerjakan sebanyak 10.000 orang dalam dua tahun ke depan.
Mengenal Sejarah Mouse Komputer, Awalnya Dibuat dari Kayu
Salah satu perangkat input untuk PC adalah mouse, atau tetikus, yang pada awalnya punya nama yang rumit dan sulit diingat.
"X-Y Position Indicator for a Display System"
Ya, itu adalah nama yang diberikan untuk perangkat input tersebut. Setidaknya sampai Xerox Corporation merilis perangkat tersebut untuk konsumen sebagai bagian dari sebuah personal computer (PC).
Penemu mouse adalah Douglas Engelbart, yang pertama mengembangkan perangkat ini pada 1963. Engelbart mengembangkan mouse di Stanford Research Institute di Menlo Park, California, Amerika Serikat.
Ia sendiri disebut sebagai orang yang visioner di era 1950-1960, yaitu saat sebuah perangkat komputer masih berukuran sangat besar dan membutuhkan ruangan sendiri.
Prototipe mouse pertama berbentuk seperti kubus, terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan dua bola berbahan metal di dalamnya, masing-masing untuk sumbu X dan Y. Mouse pertama ini juga hanya mempunyai satu tombol pada bagian pinggirnya.
Mouse ini diluncurkan ke publik bersamaan dengan perangkat PC Xerox 8010 Star Information System. Perangkat ini sebenarnya terbilang revolusioner, karena menjadi PC pertama yang punya tampilan antarmuka grafis, dan bisa dikontrol dengan mengklik ikon, bukan lewat mengetik perintah dalam bentuk teks.
Namun sayangnya, Xerox tak melihat produk ini sebagai sesuatu yang bakal mengubah dunia, dan tak tertarik mengembangkannya lebih lanjut. Eksekutif Xerox menjual inovasinya ini ke Steve Jobs, atau tepatnya menukarnya dengan saham Apple.
Jobs diberikan akses ke divisi inovasi Xerox, yaitu Xerox PARC (Palo Alto Research Center). Jobs kemudian kembali ke Apple dan memutuskan untuk meneruskan proyek PC ini. Ia pun memberi instruksi khusus ke tim desainer untuk membuat mouse yang lebih baik.
"(Mouse Xerox) adalah mouse yang membutuhkan 300 dolar untuk pembuatannya dan bakal rusak dalam dua minggu. Ini spek yang seharusnya: Mouse kita harus bisa dibuat dengan kurang dari 15 dolar. Ini perlu bertahan selama beberapa tahun, dan saya mau menggunakannya di Formica dan celana jeans," ujarnya.
https://nonton08.com/star/ahmad-affandy/