Minggu, 05 Juli 2020

TikTok Dilarang, Download Aplikasi Lokal India Langsung Meroket

 TikTok pantas cemas kepopulerannya di India bisa merosot pasca diberlakukannya pelarangan aplikasi asal China. Sebab, pesaing mereka, Roposo, yang merupakan pemain lokal jadi pilihan alternatif pengguna internet di negeri Bollywood tersebut.
Seperti diketahui, TikTok masuk ke dalam 59 aplikasi China yang dilarang diakses di India. Larangan tersebut menyusul bentrokan antara tentara China dan India yang terjadi di perbatasan Himalaya, meski pemerintah India menyatakan alasan pemblokiran aplikasi adalah keamanan data pengguna.

Sejak diterapkan larangan tersebut pada Selasa (30/6) lalu, Roposo langsung dibanjiri 22 juta pengguna baru dalam waktu 48 jam saja, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (5/7/2020).

Roposo adalah aplikasi berbagi video asal India yang konsepnya tak berbeda jauh dengan TikTok. Bila ditengok sejarahnya, Roposo sebenarnya lebih tua dua tahun. Tetapi bila dilihat kepopulerannya, TikTok lebih mentereng.

Lonjakan pengguna baru Roposo tersebut membuat tim yang berada di belakangnya ekstra kerja keras, khususnya dalam menjaga kualitas layanan.

"Dalam beberapa hari terakhir saya tidur selama total lima jam, demikian juga seluruh tim kami. Bebannya sangat banyak, namun kami hanya ingin memastikan bahwa pengalaman pengguna bisa semulus mungkin," kata pendiri perusahaan Mayank Bhangadia.

Sebelum pelarangan TikTok dan aplikasi asal China oleh pemerintah India, jumlah unduhan Roposo di Play Store hanya sekitar 50 juta. Saat ini, yang men-download aplikasi tersebut melonjak dengan total lebih dari 80 juta. Bhangadia menargetkan dapat menjaga momentum ini dan mencapai 100 juta unduhan.

Berbasis di Bengaluru, India, Roposo memiliki 200 staf. Dengan meningkatnya popularitas, perusahaan mereka berencana untuk memperkerjakan sebanyak 10.000 orang dalam dua tahun ke depan.

Mengenal Sejarah Mouse Komputer, Awalnya Dibuat dari Kayu

 Salah satu perangkat input untuk PC adalah mouse, atau tetikus, yang pada awalnya punya nama yang rumit dan sulit diingat.
"X-Y Position Indicator for a Display System"

Ya, itu adalah nama yang diberikan untuk perangkat input tersebut. Setidaknya sampai Xerox Corporation merilis perangkat tersebut untuk konsumen sebagai bagian dari sebuah personal computer (PC).

Penemu mouse adalah Douglas Engelbart, yang pertama mengembangkan perangkat ini pada 1963. Engelbart mengembangkan mouse di Stanford Research Institute di Menlo Park, California, Amerika Serikat.

Ia sendiri disebut sebagai orang yang visioner di era 1950-1960, yaitu saat sebuah perangkat komputer masih berukuran sangat besar dan membutuhkan ruangan sendiri.

Prototipe mouse pertama berbentuk seperti kubus, terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan dua bola berbahan metal di dalamnya, masing-masing untuk sumbu X dan Y. Mouse pertama ini juga hanya mempunyai satu tombol pada bagian pinggirnya.

Mouse ini diluncurkan ke publik bersamaan dengan perangkat PC Xerox 8010 Star Information System. Perangkat ini sebenarnya terbilang revolusioner, karena menjadi PC pertama yang punya tampilan antarmuka grafis, dan bisa dikontrol dengan mengklik ikon, bukan lewat mengetik perintah dalam bentuk teks.

Namun sayangnya, Xerox tak melihat produk ini sebagai sesuatu yang bakal mengubah dunia, dan tak tertarik mengembangkannya lebih lanjut. Eksekutif Xerox menjual inovasinya ini ke Steve Jobs, atau tepatnya menukarnya dengan saham Apple.

Jobs diberikan akses ke divisi inovasi Xerox, yaitu Xerox PARC (Palo Alto Research Center). Jobs kemudian kembali ke Apple dan memutuskan untuk meneruskan proyek PC ini. Ia pun memberi instruksi khusus ke tim desainer untuk membuat mouse yang lebih baik.

"(Mouse Xerox) adalah mouse yang membutuhkan 300 dolar untuk pembuatannya dan bakal rusak dalam dua minggu. Ini spek yang seharusnya: Mouse kita harus bisa dibuat dengan kurang dari 15 dolar. Ini perlu bertahan selama beberapa tahun, dan saya mau menggunakannya di Formica dan celana jeans," ujarnya.
https://nonton08.com/star/ahmad-affandy/

Matikan HP dan Email Bisa Jadi Obat Stres karena Kerjaan

Riset terbaru yang dilakukan para peneliti di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa pesan instant dan email terkait dengan pekerjaan yang datang di luar jam kerja bisa meningkatkan stres dan perilaku berpikir negatif.
Dalam studinya, para peneliti di University of Illinois di Urbana-Champaign melibatkan 546 guru sekolah dasar negeri yang bekerja penuh untuk mengukur bagaimana pekerjaan dapat mengganggu jam-jam setelah jam kerja mereka melalui teknologi seperti smartphone dan email.

Para peneliti menyurvei para peserta dengan menanyakan apakah mereka dihubungi tentang masalah terkait pekerjaan pada jam di luar kerja, dan apakah mereka diminta menanggapi pesan dan email yang terkait dengan pekerjaan dengan segera. Mereka juga diminta mencatat di diary mingguan selama lima minggu berturut-turut.

Hasil penelitian yang diterbitkan di Journal Of Organizational Behavior ini menemukan bahwa partisipan yang menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, seperti mematikan notifikasi email kantor di smartphone, merasakan pekerjaan mereka kurang mengganggu waktu di luar jam kerja mereka.

Partisipan yang memiliki 'kontrol batas' yang lebih besar ini juga lebih kecil kemungkinannya untuk punya pemikiran negatif berulang yang dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti depresi.

Sebaliknya, seperti dikutip dari The Star, mereka yang mengalami ganguan kerja tinggi menunjukkan adanya ketegangan mingguan yang lebih banyak secara signifikan termasuk berpikiran negatif, emosi negatif dan susah tidur.

"Kebanyakan orang tidak bisa bekerja tanpa smartphone, tablet atau komputer laptop. Teknologi ini ada di mana-mana dan nyaman sehingga membuat beberapa orang berpikir bahwa karyawan harus selalu aktif atau selalu siap sedia," kata peneliti utama studi ini, YoungAh Park.

"Jelas, gangguan setelah jam kerja saat kita di rumah atau domain kehidupan pribadi tidak sehat. Penelitian kami menunjukkan bahwa mentalitas yang selalu aktif memiliki kelemahan besar dalam bentuk meningkatnya tekanan pekerjaan," jelasnya.

Park menyebutkan, memiliki bos yang mendukung keseimbangan antara kehidupan pekerjaan juga terbukti bisa membantu mengurangi stres dan ketegangan kerja.

"Studi kami menunjukkan bahwa kepala sekolah (atasan) dapat memainkan peran positif, karena dukungan mereka untuk keseimbangan kehidupan kerja dikaitkan dengan rasa batas kontrol guru yang lebih besar," kata Park.

Meski penelitian ini dilakukan pada guru-guru sekolah, para peneliti mengatakan bahwa temuan mereka bisa berlaku juga untuk sebagian besar pekerja, terutama di masa sekarang karena lebih banyak yang bekerja dari rumah karena pandemi Covid-19.

"Gangguan pekerjaan setelah jam kerja melalui teknologi bisa sangat menegangkan bagi mereka. Jadi meskipun temuan ini khusus untuk guru, karyawan yang kami asumsikan memiliki batas kehidupan kerja yang jelas, sekarang menjadi masalah bagi semua orang yang secara elektronik terikat pada pekerjaan mereka di luar jam kerja reguler," tutup Park.
https://nonton08.com/cast/kearia-schroeder/