Minggu, 05 Juli 2020

Indonesia-Kosta Rika Kolaborasi Riset Terapi Pengobatan COVID-19

Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) jajaki kolaborasi riset terapi pengobatan COVID-19 dengan Instituto Clodomiro Picado (ICP) Kosta Rika.
Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, Ali Ghufron Mukti mengatakan, kolaborasi Indonesia dan Kosta Rika ini selain melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan menghadapi COVID-19, juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak di luar negeri.

Lewat kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat riset dalam penanganan COVID-19 serta membuka lebih banyak peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis program riset dan inovasi COVID-19.

Ali menjelaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Kosta Rika memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk bergabung di bidang riset dan pengembangan untuk memerangi pandemi yang sedang berlangsung.

"Melalui program Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, kami juga membuka peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis, karena program ini memprioritaskan transfer teknologi antar negara untuk mendukung program riset dan inovasi selama masa pandemi COVID-19," jelasnya dalam siaran persnya, Minggu (5/7/2020).

Sementara itu, Direktur Instituto Clodomiro Picado (ICP) Kosta Rika, Alberto Alape Girón mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang mengembangkan antiserum COVID-19 dari plasma darah pasien. Lebih lanjut dijelaskan, dengan pengalamannya selama puluhan tahun dalam riset dan pengembangan anti racun ular, mereka saat ini berupaya berperan aktif dalam riset terkait COVID-19.

"Institusi kami sudah berdiri selama 50 tahun, program penelitian kami intensif mengenai ular dan racunnya untuk memproduksi anti racun ular," ungkapnya.

"Jadi, kami memiliki infrastruktur dan peralatan yang memadai terkait penelitian tentang antibodi. Beberapa bulan terakhir kami sedang meneliti untuk mengembangkan antibodi melalui metode plasma convalescent dari pasien COVID-19," jelas Alberto Alape Girón.

Pada akhir Mei lalu, Indonesia telah menyatakan dukungannya terhadap prakarsa Solidarity Call to Action yang diusulkan oleh pemerintah Costa Rica kepada WHO. Hal ini penting sebagai tanda dibukanya hubungan diplomatik antar kedua negara.

Ilmuwan Ungkap Rahasia Ular Bisa Terbang

 Sebagai hewan melata, ular memang dikenal tidak bisa terbang. Namun, ada beberapa jenis ular yang bisa terbang sehingga bisa meluncur pada jarak yang lebih jauh. Para ilmuwan kini mengungkapkan rahasia ular bisa melakukannya.
Perlu dipahami, fenomena ular terbang yang dimaksud adalah ular yang bisa melompat dari cabang pohon, menggeliat di udara, dan mendarat ke pohon yang lain.

Dikutip dari IFL Science, ular dari genus Chrysoplelea bisa memanjat pohon dan mendorong dirinya sedemikian rupa untuk melompat sehingga bisa terbang hingga 100 meter.

Tekanan evolusioner memberikan kekuatan pada reptil ini untuk meratakan bentuk tubuhnya sehingga memiliki aerodinamika yang lebih baik. Jenis ular ini juga bergelombang di udara, persis seperti yang diungkapkan di berbagai film dokumenter alam.

Isaac Yeaton dari Virginia Tech menyebutkan bahwa spesies ular terbang selalu melakukan gerakan bergelombang ketika meloncat dan 'terbang' di udara. Gerakan ini mirip dengan gerakan ular saat ada di tanah atau gerakan ular air saat berenang.

Dalam pemaparannya di jurnal ilmiah Nature, Yeaton menjelaskan bahwa gerakan ular terbang melibatkan gelombang di kedua arah yakni horizontal dan vertikal. Selain itu, ular juga melakukan gerakan bergelombang atau menggeliat di udara agar stabil saat meloncat dari pohon.

Yeaton menemukan bahwa Chrysoplelea perlu melakukan gerakan bergelombang di udara untuk menghasilkan jangkauan pendaratan yang lebih jauh. Tanpa gerakan bergelombang, ular dapat langsung jatuh dengan jarak luncur yang semakin pendek.
https://nonton08.com/cast/ayushmann-khurrana/

Mengenal Sejarah Mouse Komputer, Awalnya Dibuat dari Kayu

 Salah satu perangkat input untuk PC adalah mouse, atau tetikus, yang pada awalnya punya nama yang rumit dan sulit diingat.
"X-Y Position Indicator for a Display System"

Ya, itu adalah nama yang diberikan untuk perangkat input tersebut. Setidaknya sampai Xerox Corporation merilis perangkat tersebut untuk konsumen sebagai bagian dari sebuah personal computer (PC).

Penemu mouse adalah Douglas Engelbart, yang pertama mengembangkan perangkat ini pada 1963. Engelbart mengembangkan mouse di Stanford Research Institute di Menlo Park, California, Amerika Serikat.

Ia sendiri disebut sebagai orang yang visioner di era 1950-1960, yaitu saat sebuah perangkat komputer masih berukuran sangat besar dan membutuhkan ruangan sendiri.

Prototipe mouse pertama berbentuk seperti kubus, terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan dua bola berbahan metal di dalamnya, masing-masing untuk sumbu X dan Y. Mouse pertama ini juga hanya mempunyai satu tombol pada bagian pinggirnya.

Mouse ini diluncurkan ke publik bersamaan dengan perangkat PC Xerox 8010 Star Information System. Perangkat ini sebenarnya terbilang revolusioner, karena menjadi PC pertama yang punya tampilan antarmuka grafis, dan bisa dikontrol dengan mengklik ikon, bukan lewat mengetik perintah dalam bentuk teks.

Namun sayangnya, Xerox tak melihat produk ini sebagai sesuatu yang bakal mengubah dunia, dan tak tertarik mengembangkannya lebih lanjut. Eksekutif Xerox menjual inovasinya ini ke Steve Jobs, atau tepatnya menukarnya dengan saham Apple.

Jobs diberikan akses ke divisi inovasi Xerox, yaitu Xerox PARC (Palo Alto Research Center). Jobs kemudian kembali ke Apple dan memutuskan untuk meneruskan proyek PC ini. Ia pun memberi instruksi khusus ke tim desainer untuk membuat mouse yang lebih baik.

"(Mouse Xerox) adalah mouse yang membutuhkan 300 dolar untuk pembuatannya dan bakal rusak dalam dua minggu. Ini spek yang seharusnya: Mouse kita harus bisa dibuat dengan kurang dari 15 dolar. Ini perlu bertahan selama beberapa tahun, dan saya mau menggunakannya di Formica dan celana jeans," ujarnya.

Mouse akhirnya baru benar-benar tersedia untuk konsumen saat Apple merilis Macintosh pada 1984, padahal pada 1987 paten milik Engelbart sudah tak berlaku lagi dan desain mouse bisa dipakai oleh publik secara bebas.

Alhasil, seperti dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (5/7/2020), Engelbart dan rekan-rekannya pun tak mendapat royalti untuk perangkat ciptaannya itu saat mouse sudah banyak dipakai oleh pengguna PC hingga sekarang.

Indonesia-Kosta Rika Kolaborasi Riset Terapi Pengobatan COVID-19

Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) jajaki kolaborasi riset terapi pengobatan COVID-19 dengan Instituto Clodomiro Picado (ICP) Kosta Rika.
Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, Ali Ghufron Mukti mengatakan, kolaborasi Indonesia dan Kosta Rika ini selain melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan menghadapi COVID-19, juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak di luar negeri.

Lewat kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat riset dalam penanganan COVID-19 serta membuka lebih banyak peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis program riset dan inovasi COVID-19.

Ali menjelaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Kosta Rika memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk bergabung di bidang riset dan pengembangan untuk memerangi pandemi yang sedang berlangsung.

"Melalui program Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, kami juga membuka peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis, karena program ini memprioritaskan transfer teknologi antar negara untuk mendukung program riset dan inovasi selama masa pandemi COVID-19," jelasnya dalam siaran persnya, Minggu (5/7/2020).

Sementara itu, Direktur Instituto Clodomiro Picado (ICP) Kosta Rika, Alberto Alape Girón mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang mengembangkan antiserum COVID-19 dari plasma darah pasien. Lebih lanjut dijelaskan, dengan pengalamannya selama puluhan tahun dalam riset dan pengembangan anti racun ular, mereka saat ini berupaya berperan aktif dalam riset terkait COVID-19.
https://nonton08.com/cast/jaeden-noel/