Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) jajaki kolaborasi riset terapi pengobatan COVID-19 dengan Instituto Clodomiro Picado (ICP) Kosta Rika.
Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, Ali Ghufron Mukti mengatakan, kolaborasi Indonesia dan Kosta Rika ini selain melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan menghadapi COVID-19, juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak di luar negeri.
Lewat kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat riset dalam penanganan COVID-19 serta membuka lebih banyak peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis program riset dan inovasi COVID-19.
Ali menjelaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Kosta Rika memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk bergabung di bidang riset dan pengembangan untuk memerangi pandemi yang sedang berlangsung.
"Melalui program Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, kami juga membuka peluang bagi luar negeri untuk menjadi mitra strategis, karena program ini memprioritaskan transfer teknologi antar negara untuk mendukung program riset dan inovasi selama masa pandemi COVID-19," jelasnya dalam siaran persnya, Minggu (5/7/2020).
Sementara itu, Direktur Instituto Clodomiro Picado (ICP) Kosta Rika, Alberto Alape Girón mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang mengembangkan antiserum COVID-19 dari plasma darah pasien. Lebih lanjut dijelaskan, dengan pengalamannya selama puluhan tahun dalam riset dan pengembangan anti racun ular, mereka saat ini berupaya berperan aktif dalam riset terkait COVID-19.
"Institusi kami sudah berdiri selama 50 tahun, program penelitian kami intensif mengenai ular dan racunnya untuk memproduksi anti racun ular," ungkapnya.
"Jadi, kami memiliki infrastruktur dan peralatan yang memadai terkait penelitian tentang antibodi. Beberapa bulan terakhir kami sedang meneliti untuk mengembangkan antibodi melalui metode plasma convalescent dari pasien COVID-19," jelas Alberto Alape Girón.
Pada akhir Mei lalu, Indonesia telah menyatakan dukungannya terhadap prakarsa Solidarity Call to Action yang diusulkan oleh pemerintah Costa Rica kepada WHO. Hal ini penting sebagai tanda dibukanya hubungan diplomatik antar kedua negara.
Ilmuwan Ungkap Rahasia Ular Bisa Terbang
Sebagai hewan melata, ular memang dikenal tidak bisa terbang. Namun, ada beberapa jenis ular yang bisa terbang sehingga bisa meluncur pada jarak yang lebih jauh. Para ilmuwan kini mengungkapkan rahasia ular bisa melakukannya.
Perlu dipahami, fenomena ular terbang yang dimaksud adalah ular yang bisa melompat dari cabang pohon, menggeliat di udara, dan mendarat ke pohon yang lain.
Dikutip dari IFL Science, ular dari genus Chrysoplelea bisa memanjat pohon dan mendorong dirinya sedemikian rupa untuk melompat sehingga bisa terbang hingga 100 meter.
Tekanan evolusioner memberikan kekuatan pada reptil ini untuk meratakan bentuk tubuhnya sehingga memiliki aerodinamika yang lebih baik. Jenis ular ini juga bergelombang di udara, persis seperti yang diungkapkan di berbagai film dokumenter alam.
Isaac Yeaton dari Virginia Tech menyebutkan bahwa spesies ular terbang selalu melakukan gerakan bergelombang ketika meloncat dan 'terbang' di udara. Gerakan ini mirip dengan gerakan ular saat ada di tanah atau gerakan ular air saat berenang.
Dalam pemaparannya di jurnal ilmiah Nature, Yeaton menjelaskan bahwa gerakan ular terbang melibatkan gelombang di kedua arah yakni horizontal dan vertikal. Selain itu, ular juga melakukan gerakan bergelombang atau menggeliat di udara agar stabil saat meloncat dari pohon.
Yeaton menemukan bahwa Chrysoplelea perlu melakukan gerakan bergelombang di udara untuk menghasilkan jangkauan pendaratan yang lebih jauh. Tanpa gerakan bergelombang, ular dapat langsung jatuh dengan jarak luncur yang semakin pendek.
https://nonton08.com/cast/ayushmann-khurrana/