Senin, 06 Juli 2020

WHO Ungkap Kronologi Terbaru Riwayat Penyebaran Virus Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbarui catatannya terkait kronologi awal krisis COVID-19. Mereka menyebut mendapatkan informasi mengenai virus ini dari kantornya yang berada di China, bukan oleh Pemerintah China sendiri.
Pada 9 April lalu, WHO menerbitkan rentang waktu awal wabah untuk menjawab kritik atas respons terhadap penanganan Corona. Dalam kronologi itu, WHO hanya mengatakan bahwa Komisi Kesehatan Kota Wuhan di Provinsi Hubei pada 31 Desember 2019 melaporkan kasus pneumonia. Tetapi, tidak disebutkan secara spesifik dari mana informasi itu berasal.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada konferensi pers 20 April lalu mengatakan laporan pertama kasus virus itu datang dari China, tanpa menyebutkan secara rinci apakah laporan tersebut dikirim dari otoritas China atau sumber lain.

Namun, kronologi baru yang diterbitkan minggu ini dibeberkan oleh organisasi itu dengan versi yang lebih rinci dari berbagai peristiwa. Dikutip dari MedicalXpress, kantor WHO di China pada 31 Desember disebut yang memberitahukan titik kontak regionalnya mengenai kasus 'pneumonia virus' itu.

Pada hari yang sama, layanan informasi epidemi WHO menerima laporan lain dari jaringan pengawasan epidemiologi internasional Promed, yang berbasis di Amerika Serikat. Laporan itu berisi tentang kasus pneumonia yang sama, dari penyebab yang belum diketahui di Wuhan.

Setelah itu, WHO meminta pihak berwenang China pada 1 dan 2 Januari untuk menginformasikan kasus-kasus ini. Tetapi, informasi tersebut baru disampaikan pada 3 Januari.

Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan, mengatakan pada konferensi pers di hari Jumat bahwa setiap negara memiliki waktu 24-48 jam untuk memverifikasi suatu peristiwa dan melaporkannya. Ryan menyebut otoritas China memang segera menghubungi WHO setelah diminta untuk memverifikasi laporan.

WHO pun dinilai gagal dalam menangani pandemi virus Corona oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia menganggap WHO terlalu dekat dengan China, hingga akhirnya menyetop bantuan dari AS untuk organisasi dunia tersebut

239 Pakar Klaim Virus Corona Menular Lewat Udara, Desak WHO Revisi Rekomendasi

 Virus Corona kini diklaim menyebar lewat udara atau airborne. Jika udara merupakan peran penting dalam penularan virus Corona, maka protokol kesehatan yang selama ini diterapkan seperti memakai masker dan menjaga jarak tidak cukup menahan penyebaran virus Corona.
Dikutip dari New York Times, dalam surat terbuka kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 239 ilmuwan di 32 negara, telah menguraikan bukti yang menunjukkan bahwa virus Corona memiliki partikel yang lebih kecil dan dapat menginfeksi manusia, para ahli juga mendesak WHO untuk merevisi rekomendasinya. Para peneliti berencana untuk menerbitkan surat mereka dalam jurnal ilmiah minggu depan.

Dalam update terbarunya tentang virus Corona, dirilis 29 Juni, WHO mengatakan penularan virus Corona lewat udara hanya mungkin terjadi jika droplet atau percikan yang keluar saat batuk dan bersin lebih kecil dari 5 mikron. Benedetta Allegranzi, pimpinan teknis WHO tentang pengendalian infeksi mengatakan bukti virus Corona menyebar melalui udara tidak meyakinkan.

"Terutama dalam beberapa bulan terakhir, kami telah menyatakan beberapa kali kami menganggap transmisi udara mungkin, tetapi tentu saja tidak didukung oleh bukti yang kuat atau bahkan jelas. Ada perdebatan kuat tentang ini," kataAllegranzi.

Namun, para ahli mengatakan komite pencegahan dan pengendalian infeksi WHO terikat oleh pandangan yang kaku dan terlalu medis tentang bukti ilmiah, lambat, dan tidak mau mengambil risiko dalam memperbarui panduannya dan menerima beberapa suara konservatif untuk mengajukan perbedaan pendapat. "Mereka akan mati mempertahankan pandangan mereka," kata seorang WHO konsultan yang tidak ingin diidentifikasi karena dia terus bekerja untuk WHO.

Pakar lain juga mendukung agar WHO melonggarkan kriteria pembuktian atas temuan studi. Terutama dalam wabah yang bergerak sangat cepat.

"Saya benar-benar frustrasi tentang masalah penyebaran lewat udara dan ukuran partikel, tentu saja," kata Mary-Louise McLaws, anggota komite dan ahli epidemiologi di Universitas New South Wales di Sydney.

"Jika kita mulai meninjau kembali aliran udara, kita harus siap untuk mengubah banyak hal yang kita lakukan," kata Mary.

Pada awal April, sekelompok pakar yang meneliti soal kualitas udara mendesak WHO untuk mempertimbangkan bukti yang berkembang tentang penularan virus Corona melalui udara. Agensi merespons segera, memanggil Lidia Morawska, pemimpin kelompok dan WHO konsultan, untuk mengatur pertemuan. Tetapi diskusi yang berlangsung menurut beberapa peserta tidak mengubah saran komite dalam rekomendasi penularan virus Corona lewat udara.
https://cinemamovie28.com/cast/malin-akerman/

Virus Corona Disebut Sebabkan Kerusakan Otak pada Anak

Sebuah studi menemukan komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi pada anak-anak yang mengidap kondisi serius terkait virus Corona. Studi yang dipublikasikan di JAMA Neurology awal pekan ini, mengamati kasus anak-anak dengan kondisi tersebut, sekarang dikenal sebagai multi-system inflammatory syndrome pada anak-anak (MIS-C).
Dikutip dari Daily Star, hal ini dapat menyebabkan anak-anak mengembangkan gejala apa saja mulai dari sakit kepala, kelemahan otot, dan tanda-tanda kerusakan otak. MIS-C adalah kondisi langka yang mungkin dapat mengancam jiwa dalam beberapa kasus selama atau tidak lama setelah seorang anak terinfeksi virus Corona.

Gejala dari kondisi buruk termasuk demam, ruam kulit, masalah pernapasan dan penurunan tajam dalam tekanan darah dapat menghambat pasokan oksigen bahkan hingga menyebabkan kematian.

Sindrom ini diyakini disebabkan oleh respons imun yang lemah terhadap virus, bukan dari gejala yang disebabkan oleh penyakit. Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati 27 anak yang memiliki gejala yang konsisten dengan MIS-C, empat di antaranya juga memiliki gejala neurologis.

Sebagian besar anak-anak tidak mengalami gejala virus Corona yang serius dan kecil kemungkinan memiliki tanda-tanda mirip flu yang terkait dengan penyakit ini dibandingkan orang dewasa.

Tes menunjukkan ada tanda-tanda kerusakan otak pada corpus callosum, bagian yang membantu kedua sisi organ berkomunikasi satu sama lain. Tetapi, tidak ada anak yang melaporkan memiliki gejala pernapasan meskipun mereka semua dinyatakan positif virus Corona atau memiliki antibodi terhadapnya.

"Anak-anak dengan COVID-19 dapat mengalami gejala neurologis baru yang melibatkan sistem saraf pusat dan perifer," sebut para penulis penelitian.

Para peneliti mengatakan setidaknya ada empat anak yang dilaporkan mengalami kerusakan otak sehingga mereka membutuhkan perawatan intensif setelah mengalami syok dan juga harus menggunakan ventilator. Sementara dua anak lain yang mengidap penyakit tersebut pulih sepenuhnya.

WHO Ungkap Kronologi Terbaru Riwayat Penyebaran Virus Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbarui catatannya terkait kronologi awal krisis COVID-19. Mereka menyebut mendapatkan informasi mengenai virus ini dari kantornya yang berada di China, bukan oleh Pemerintah China sendiri.
Pada 9 April lalu, WHO menerbitkan rentang waktu awal wabah untuk menjawab kritik atas respons terhadap penanganan Corona. Dalam kronologi itu, WHO hanya mengatakan bahwa Komisi Kesehatan Kota Wuhan di Provinsi Hubei pada 31 Desember 2019 melaporkan kasus pneumonia. Tetapi, tidak disebutkan secara spesifik dari mana informasi itu berasal.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada konferensi pers 20 April lalu mengatakan laporan pertama kasus virus itu datang dari China, tanpa menyebutkan secara rinci apakah laporan tersebut dikirim dari otoritas China atau sumber lain.

Namun, kronologi baru yang diterbitkan minggu ini dibeberkan oleh organisasi itu dengan versi yang lebih rinci dari berbagai peristiwa. Dikutip dari MedicalXpress, kantor WHO di China pada 31 Desember disebut yang memberitahukan titik kontak regionalnya mengenai kasus 'pneumonia virus' itu.

Pada hari yang sama, layanan informasi epidemi WHO menerima laporan lain dari jaringan pengawasan epidemiologi internasional Promed, yang berbasis di Amerika Serikat. Laporan itu berisi tentang kasus pneumonia yang sama, dari penyebab yang belum diketahui di Wuhan.

Setelah itu, WHO meminta pihak berwenang China pada 1 dan 2 Januari untuk menginformasikan kasus-kasus ini. Tetapi, informasi tersebut baru disampaikan pada 3 Januari.

Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan, mengatakan pada konferensi pers di hari Jumat bahwa setiap negara memiliki waktu 24-48 jam untuk memverifikasi suatu peristiwa dan melaporkannya. Ryan menyebut otoritas China memang segera menghubungi WHO setelah diminta untuk memverifikasi laporan.

WHO pun dinilai gagal dalam menangani pandemi virus Corona oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia menganggap WHO terlalu dekat dengan China, hingga akhirnya menyetop bantuan dari AS untuk organisasi dunia tersebut
https://cinemamovie28.com/cast/ko-chang-seok/