Senin, 06 Juli 2020

Ngetren Layanan Bike Sharing, Dokter Ingatkan Hati-hati Soal Ini

Layanan bike sharing kini makin mudah ditemukan. Ada bagusnya karena tidak perlu beli sepeda kalau hanya ingin coba-coba, tetapi tetapi harus ada yang diperhatikan.
Praktisi kesehatan olahraga dr Michael Triangto, SpKO mengingatkan, persewaan sepeda maupun skuter yang kini mudah ditemukan juga menyimpan potensi penularan penyakit termasuk virus Corona COVID-19. Tak lain karena sepeda maupun skuter tersebut dipegang oleh banyak orang.

Menurut dr Michael, idealnya memang semua orang membersihkan benda yang telah dipakainya. Namun hal itu tentu sulit dikontrol, sehingga masing-masing orang sebaiknya bertanggung jawab pada diri sendiri.

Misalnya, dr Michael mencontohkan, selama menggunakan sepeda sewaan tidak memegang-megang wajah sebelum cuci tangan. Juga tidak sembarangan makan di pinggir jalan, harus selalu menjaga kebersihan.

"Kita harus bertanggung jawab pada diri kita sendiri," pesan dr Michael.

Misteri Temuan 'Wanita Kelelawar' di Balik Asal Usul COVID-19

Ilmuwan China secara sembunyi-sembunyi telah menemukan strain baru virus Corona 7 tahun lalu, mirip SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Investigasi The Sunday Times menyebut virus tersebut disimpan di sebuah lab di Wuhan.
Strain ini ditemukan di sebbuah tambang tembaga di barat daya China. Diyakini sebagai petunjuk terkuat untuk mengungkap kapan sebenarnya pandemi bermula.

Pada 2012, 6 orang dilaporkan mengalami demam, batuk dan pneumonia usai bekerja di tambang. Separuh di antaranya fatal.

Disebutkan, hasil tes antibodi menunjukkan 4 di antaranya positif. Sedangkan dua lainnya meninggal sebelum tes dilakukan.

Dr Shi Zhengli yang dijuluki 'wanita kelelawar' oleh koleganya di Wuhan Institute of Virology (WIV) pada Februari menulis laporan akademis paling luas pada saat itu.

Laporan yang dipublikasikan di Nature mengungkap bahwa WIV memiliki sampel dari kelelawar yang dinamakan RaTG13. Deskripsi genetik menyebut ada 96,2 persen kemiripan dengan COVID-19.

Kabar ini terungkap setelah pada April lalu presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan punya kepercayaan diri tingkat tinggi bahwa COVID-19 berasal dari WIV. China telah melakukan investigasi terkait klaim ini.

Pada 1 dari 10 Pasien Corona, Indra Perasa dan Penciuman Hilang Permanen

Satu dari 10 pasien virus Corona disebut kehilangan indra perasa dan penciuman secara permanen. Gangguan pada indra perasa dan penciuman ini dikenal sebagai anosmia dan termasuk gejala virus Corona COVID-19 yang diakui secara resmi.
Gejala virus Corona terkait gangguan indra perasa dan penciuman sering disebut sebagai tanda awal seseorang terinfeksi Corona. Namun, baru-baru ini sebuah penelitian menyebut gejala Corona ini bisa dialami secara permanen.

Para peneliti mensurvei 187 warga Italia positif Corona tetapi tidak dirawat di rumah sakit. Peserta diminta untuk menilai perkembangan kemampuan indra penciuman dan perasa mereka sendiri ketika pertama kali sejak dinyatakan positif Corona.

Hasil yang dipublikasikan dalam JAMA Otolaryngology menemukan bahwa 113 peserta melaporkan perubahan serius terkait indra penciuman dan perasa mereka saat mengidap virus Corona. 55 orang di antaranya dilaporkan pulih dari gejala Corona tersebut. Sementara 46 orang lainnya mengatakan kemampuan indra pencium dan perasa mereka jauh membaik sejak pertama kali dinyatakan positif Corona.

Namun, ada 12 orang mengaku mereka masih mengalami gangguan indra perasa dan penciuman bahkan semakin parah. Mereka yang melaporkan gejala parah mengatakan perlu waktu lebih lama untuk pulih kembali.

Para peneliti memperingatkan bahwa ribuan pasien virus Corona yang pulih dapat menghadapi kehilangan kemampuan untuk mencium atau merasakan sesuatu dalam jangka panjang. Dr Joshua Levy, seorang spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Emory, mengatakan ada 'intervensi yang sangat rendah' untuk pasien yang mengalami anosmia.

"Banyak pasien Corona yang mungkin untuk pengobatan gejalanya tidak terselesaikan," tulis Dr Joshua, dikutip dari Daily Star.

"Mereka yang belum pulih harus mempertimbangkan untuk menjalani 'pelatihan penciuman' demi melatih kembali kemampuan penciuman mereka. Diyakini beberapa orang mengidap anosmia sebagai gejala virus Corona karena virus tersebut telah merusak saraf yang mempengaruhi indra penciuman," lanjut Dr Joshua.
https://cinemamovie28.com/cast/angela-schijf/

239 Pakar Klaim Virus Corona Menular Lewat Udara, Desak WHO Revisi Rekomendasi

 Virus Corona kini diklaim menyebar lewat udara atau airborne. Jika udara merupakan peran penting dalam penularan virus Corona, maka protokol kesehatan yang selama ini diterapkan seperti memakai masker dan menjaga jarak tidak cukup menahan penyebaran virus Corona.
Dikutip dari New York Times, dalam surat terbuka kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 239 ilmuwan di 32 negara, telah menguraikan bukti yang menunjukkan bahwa virus Corona memiliki partikel yang lebih kecil dan dapat menginfeksi manusia, para ahli juga mendesak WHO untuk merevisi rekomendasinya. Para peneliti berencana untuk menerbitkan surat mereka dalam jurnal ilmiah minggu depan.

Dalam update terbarunya tentang virus Corona, dirilis 29 Juni, WHO mengatakan penularan virus Corona lewat udara hanya mungkin terjadi jika droplet atau percikan yang keluar saat batuk dan bersin lebih kecil dari 5 mikron. Benedetta Allegranzi, pimpinan teknis WHO tentang pengendalian infeksi mengatakan bukti virus Corona menyebar melalui udara tidak meyakinkan.

"Terutama dalam beberapa bulan terakhir, kami telah menyatakan beberapa kali kami menganggap transmisi udara mungkin, tetapi tentu saja tidak didukung oleh bukti yang kuat atau bahkan jelas. Ada perdebatan kuat tentang ini," kataAllegranzi.

Namun, para ahli mengatakan komite pencegahan dan pengendalian infeksi WHO terikat oleh pandangan yang kaku dan terlalu medis tentang bukti ilmiah, lambat, dan tidak mau mengambil risiko dalam memperbarui panduannya dan menerima beberapa suara konservatif untuk mengajukan perbedaan pendapat. "Mereka akan mati mempertahankan pandangan mereka," kata seorang WHO konsultan yang tidak ingin diidentifikasi karena dia terus bekerja untuk WHO.

Pakar lain juga mendukung agar WHO melonggarkan kriteria pembuktian atas temuan studi. Terutama dalam wabah yang bergerak sangat cepat.

"Saya benar-benar frustrasi tentang masalah penyebaran lewat udara dan ukuran partikel, tentu saja," kata Mary-Louise McLaws, anggota komite dan ahli epidemiologi di Universitas New South Wales di Sydney.

"Jika kita mulai meninjau kembali aliran udara, kita harus siap untuk mengubah banyak hal yang kita lakukan," kata Mary.

Pada awal April, sekelompok pakar yang meneliti soal kualitas udara mendesak WHO untuk mempertimbangkan bukti yang berkembang tentang penularan virus Corona melalui udara. Agensi merespons segera, memanggil Lidia Morawska, pemimpin kelompok dan WHO konsultan, untuk mengatur pertemuan. Tetapi diskusi yang berlangsung menurut beberapa peserta tidak mengubah saran komite dalam rekomendasi penularan virus Corona lewat udara.

Dr Morawska dan lainnya menunjuk beberapa insiden yang mengindikasikan penularan virus melalui udara, terutama di ruangan tertutup yang berventilasi buruk. Mereka mengatakan WHO membuat perbedaan 'buatan' antara aerosol kecil dan percikan yang lebih besar, meskipun orang disebut bisa terinfeksi karena keduanya.

"Kami sudah tahu sejak 1946 bahwa batuk dan berbicara menghasilkan aerosol," kata Linsey Marr, seorang ahli dalam penularan virus melalui udara di Virginia Tech.

Para ilmuwan belum dapat membuktikan virus Corona menyebar lewat udara di laboratorium. Namun, bukan berarti peran udara dalam penularan virus Corona tidak berarti.

"Sebagian besar sampel dalam percobaan tersebut berasal dari kamar rumah sakit dengan aliran udara yang baik yang akan melemahkan tingkat virus. Di sebagian besar bangunan," kata Dr Marr.

WHO meyakini bahwa patogen yang ditularkan melalui udara contohnya seperti virus campak, harus sangat menular, dan virus bisa menempuh jarak jauh.

"Orang umumnya berpikir dan berbicara tentang penularan virus melalui udara dengan sangat bodoh," kata Bill Hanage, seorang ahli epidemiologi di Harvard T H Chan School of Public Health.

"Kami memiliki anggapan bahwa transmisi melalui udara berarti droplet atau percikan bertahan di udara dan dapat menginfeksi seseorang berjam-jam kemudian, bertahan di jalanan, menyebar ke rumah di mana-mana," kata Dr Hanage.

Semua ahli sepakat bahwa virus Corona tidak menyebar seperti itu. Dr Marr dan yang lainnya mengatakan bahwa virus Corona tampaknya paling menular ketika orang-orang berada dalam kontak jarak dekat di waktu yang lama, terutama di dalam ruangan, dan bahkan lebih menular jika peristiwa penyebaran terjadi seperti kasus-kasus super spreader.

WHO sebelumnya telah menemukan dirinya berselisih dengan kelompok ilmuwan lebih dari sekali selama pandemi Corona. WHO tertinggal di belakang dari sebagian besar negara yang sudah mendukung masker wajah untuk digunakan saat wabah Corona. Sementara organisasi lain, termasuk CDC, telah sejak lama mengakui pentingnya penularan oleh orang-orang tanpa gejala, WHO masih berpendapat bahwa transmisi asimptomatik jarang terjadi.
https://cinemamovie28.com/star/irina-voronina/