Di era new normal, ketika hampir semua bidang bergantung pada teknologi, platform open source diandalkan dan menjadi pahlawan.
Disebutkan Julyanto Sutandang, CEO Equnix Business Solutions, perusahaan lokal penyedia solusi IT berbasis software open source, platform open source adalah masa depan karena menawarkan efisiensi, kemandirian, kedaulatan dan kebebasan dalam mengadopsi teknologi.
"Sejak awal kami selalu optimistis dan percaya bahwa open source adalah solusi masa depan. Selain efisiensi, open source memungkinkan kita mengadopsi teknologi apapun secara bebas dan mandiri serta future proof," sebutnya dalam keterangan tertulis.
Di usianya yang menginjak 13 tahun pada Selasa (7/7) lalu, disebutkan Julyanto bahwa identitas perusahaannya sebagai solusi IT andal untuk segala kebutuhan, kini semakin kuat.
"Terbukti ketika pandemi COVID-19 menghantam dunia, kami tetap bisa melaluinya dengan mulus dan tidak gagap dalam menghadapi tuntutan perubahan teknologi yang berubah drastis," sambungnya.
Selama itu, Equnix diklaim konsisten mengembangkan ekosistem open source di semua lini penting di Indonesia, dari hulu hingga hilir. Di dunia pendidikan misalnya, Equnix sejak 2018 sudah membangun ekosistem yang paling dasar, yakni sumber daya manusia melalui kampanye 'Open source goes to campus'.
Kampanye tersebut terus berlangsung hingga kini ke berbagai perguruan tinggi dan swasta di Malang, Surabaya, Kediri, Jember, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan Palembang.
Di era disrupsi dan Revolusi Industri 4.0, mahasiswa perlu mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan yang dinamis. Kampanye edukasi tentang software open source diharapkan bisa memberikan pengetahuan kepada para mahasiswa tentang manfaat dan efisiensi software open source di lingkungan bisnis.
Sedangkan di dunia korporat, Equnix tak hanya menyediakan solusi IT untuk bisnis, tetapi juga terlibat menyiapkan sumber daya manusia bekerja sama dengan APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (APTIKOM). Jumlah anggotanya mencapai 850 kampus informatika dan komputer serta 1.560 program studi.
Kondisi new normal yang bertumpu pada teknologi juga menghadirkan risiko keamanan. Equnix menjawabnya dengan menghadirkan 11DB, produk Relational Database Management System (RDBMS) dengan lisensi komersial yang bisa dengan mudah bekerja dalam sistem ANSI-SQL dan PostgreSQL open source.
Solusi ini ditujukan bagi segmen bisnis terutama untuk kebutuhan finansial yang membutuhkan kemampuan memproses transaksi yang tinggi dan aman.
11DB diklaim menjamin semua kebutuhan utama di segmen tersebut bisa dipenuhi dengan baik karena merupakan area of core competence dari 11DB, yakni Reliability, High Availability, dan Scalability.
Pada masa pandemic seperti saat ini, untuk bisa bersaing, perusahaan harus memiliki infrastruktur IT yang mumpuni, manajemen data yang mandiri, aman, luwes, dan andal. Sistem database open source terlihat bisa diandalkan.
Lumba-lumba Dulunya Predator yang Menyeramkan
Mendengar kata lumba-lumba hal pertama yang terbersit di pikiran adalah mamalia laut yang lucu dan menggemaskan. Tapi siapa sangka dulunya lumba-lumba merupakan predator yang mirip paus pembunuh.
Studi yang diterbitkan di jurnal Current Biology menjelaskan bagaimana tengkorak berukuran raksasa yang ditinggalkan oleh lumba-lumba purbakala menunjukkan tanda-tanda evolusi yang paralel dengan paus bergigi.
Dikutip detikINET dari Cnet, Sabtu (11/7/2020) tengkorak dengan panjang 4,5 meter tersebut ditemukan di South Carolina dan diperkirakan hidup 25 juta tahun yang lalu di zaman Oligocene.
Dilihat dari tengkorak, gigi, ukuran dan moncongnya, lumba-lumba purba ini dulunya merupakan predator teratas di lautan.
Fosil tengkorak lumba-lumba ini pertama kali ditemukan pada akhir 1800-an dan hanya dalam bentuk pecahan. Kemudian temuan yang hampir utuh ditemukan pada 1990-an dan direstorasi selama beberapa dekade.
Lumba-lumba yang diberi nama Ankylorhiza tiedemani ini memiliki ciri-ciri postkranial yang mirip dengan paus modern. Hal ini mengindikasikan habitat lautan yang serupa yang kemudian mengarah kepada adaptasi khusus.
"Beberapa contoh meliputi penyempitan stok ekor, peningkatan jumlah vertebra ekor dan pemendekan humerus (tulang lengan atas) pada sirip," kata penulis utama studi ini, Robert Boessenecker.
"Ini tidak terlihat dalam garis silsilah anjing laut dan singa laut yang berbeda, misalnya, yang berubah menjadi berbagai mode berenang dan memiliki kerangka postkranial yang tampak berbeda," sambungnya.
Lumba-lumba dan paus memang saudara dekat yang merupakan bagian dari ordo Cetacean. Sedangkan paus bergigi merupakan bagian dari Odontocetes yang merupakan turunan dari cetacean.
Tengkorak ini juga mengindikasikan Ankylorhiza kemungkinan menjadi Odontocete pertama yang memiliki kemampuan echolocation dan bisa memburu mangsa berukuran besar maupun kecil.
https://kamumovie28.com/mercy/