Artis cantik Vitalia Sesha kembali terjerat narkoba, kali ini diamankan bersama barang bukti sabu dan alat isap. Jenis narkoba yang satu ini cukup populer di kalangan artis maupun orang kebanyakan.
Sabu merupakan golongan obat stimulansia yang digunakan untuk membangkitkan mood dan stamina. Efek jangka pendek antara lain memicu euforia dan rasa percaya diri, sedangkan dalam jangka panjang bisa merusak sistem saraf pusat di otak.
Salah satu pertanyaan yang kerap terlontar terkait sabu adalah, adakah ciri-ciri pemakai yang bisa dikenali?
"Kalau ditanya bagaimana mengenalinya? Nggak bisa kita," kata praktisi kesehatan jiwa dari Universitas Krida Wacana, dr Andri, SpKJ, FACLP dalam wawancara dengan detikcom beberapa waktu lalu.
"Biasa-biasa saja. Kalau ketemu kita juga biasa-biasa saja, kita nggak tahu ketemu pas lagi kena pengaruh atau tidak itu nggak ketahuan, nggak bisa membedakan," jelasnya.
Pemakai sabu yang tidak menampakkan gejala kerap disebut High-Functioning Addict. Meski tak ada ciri yang bisa dikenali, efek jangka panjangnya tetap tidak bisa diremehkan. Kecanduan sabut bisa merusak sistem saraf pusat, memicu gangguan kejiwaan dan bahkan bisa berujung pada kematian.
Sementara ada yang tidak bergejala, sebagian pemakai sabu ada juga yang mengalami perubahan perilaku seperti:
- Kehilangan nafsu makan
- Berat badan berkurang
- Mengalami gangguan emosional.
Virus Corona Bertahan di Benda Mati Hingga 9 Hari, Bagaimana dengan COVID-19?
Peneliti sebut virus corona bisa bertahan mulai dari 5 menit hingga 9 hari saat menempel di benda mati. Alasannya, virus disebut bisa bertahan hingga selama itu jika tidak didisinfektan.
Mengutip CNN, hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap virus corona SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndome). Penelitian ini memicu kemungkinan adanya penyebaran dari benda mati. Misalnya, saat seseorang menyentuh permukaan yang sudah terinfeksi virus corona baru.
"Lalu menyentuh mulut, hidung, atau mungkin mata mereka," jelas badan kesehatan AS (Centers for Disease Control and Prevention/ CDC).
Hal ini sempat memicu kekhawatiran di China terkait berapa lama virus corona bisa menempel di benda mati. Indonesia pun sempat membatasi pengiriman barang impor dari China dan Hong Kong untuk mencegah penyebaran virus corona baru.
Meski sejumlah peneliti telah melakukan penelitian pada SARS dan MERS. Hingga saat ini belum ditemukan penelitian spesifik terkait ketahanan virus corona COVID-19 pada benda mati.
Bagaimanapun, penularan virus lebih mudah menyebar antar manusia melalui kontak langsung.
Kata dr Boyke Soal Alasan Renang dengan Lawan Jenis Tak Akan Bikin Hamil
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitti Hikmawatty, membuat heboh ketika menyebut wanita bisa hamil bila berenang bersama pria. Sitti menjelaskan hal ini terjadi karena sperma yang kuat dapat berenang di air kemudian masuk ke organ intim wanita membuahi sel telur.
Pengamat kesehatan seksual sekaligus ahli kandungan dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, mengomentari pernyataan tersebut. Menurut dr Boyke kehamilan tidak mungkin terjadi hanya karena berenang bersama dengan lawan jenis.
"Pertama ketika sperma itu keluar dia akan menyentuh air langsung mati dalam beberapa detik. Apalagi air yang mengandung kaporit, pasti masti. Sperma tidak bisa hidup di luar tempatnya kecuali di dalam vagina," kata dr Boyke beberapa waktu lalu.
"Sekuat apapun sperma itu. Mau dari Afrika, dari orang bule, mau orang Arab, enggak ada sperma yang kuat," lanjutnya.
dr Boyke lebih jauh menjelaskan kemampuan sperma membuahi sel telur hanya dipengaruhi oleh faktor seperti jumlah, bentuk, dan kelincahannya.
Ketakutan terhadap anggapan berenang bersama lawan jenis bisa membuat hamil bisa jadi tanda bahwa Indonesia masih minim pendidikan kesehatan reproduksi.
"Kenapa masyarakat sampai seperti ini? Akhirnya mereka takut memberikan putrinya ke kolam renang karena mereka tidak mendapatkan pendidikan seks yang cukup," pungkas dr Boyke.