Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menemukan paparan radioaktif di area di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan (Tangsel). Unsur radioaktif yang ditemukan adalah Cs 137.
"Sementara informasi masih terbatas, tapi dugaannya adalah Cs 137," kata Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Indra Gunawan, kepada wartawan, Sabtu (15/2/2020).
Paparan radioaktif telah disebut bisa membahayakan kesehatan. Kathryn Higley, direktur departemen teknik nuklir dan fisika kesehatan radiasi di Oregon State University, sebagai bahan radioaktif meluruh, energi yang dilepaskan ke lingkungan memiliki dua cara untuk merusak tubuh yang terpapar.
"Ini dapat langsung membunuh sel, atau dapat menyebabkan mutasi pada DNA. Jika mutasi tersebut tidak diperbaiki, sel dapat berubah menjadi kanker," katanya dikutip dari Live Science.
Yodium radioaktif cenderung diserap oleh kelenjar tiroid dan dapat menyebabkan kanker tiroid. Kendati demikian yodium radioaktif berumur pendek dan akan ada hanya sekitar dua bulan setelah kecelakaan.
Anak-anak paling berisiko terkena kanker tiroid karena kelenjar mereka 10 kali lebih kecil daripada orang dewasa. Kebanyakan anak-anak terpapar bahan radioaktif dari kontaminasi sayuran dan susu.
"Meski demikian secara umum, dibutuhkan paparan radiasi yang cukup tinggi untuk meningkatkan risiko kanker," sebut Highley.
Misalnya jika ada seseorang yang terpapar 10 rem (100 millisievert, mSV) radiasi, risiko kankernya akan naik sekitar setengah persen. Dosis ini setara dengan sekitar lima kali pemeriksaan CT Scan.
Risiko paparan radioaktif sejatinya tergantung pada seberapa banyak radiasi yang diserap tubuh. Mereka yang terpapar radiasi tingkat tinggi, sekitar 200 rem (2000 milisievert) dapat mengembangkan penyakit akibat radiasi.
Badan Energi Atom Internasional mengatakan pemeriksaan X-ray memiliki tingkat radiasi sekitar 0,02 rem. Sehari-hari, kita juga terpapar sekitar 0,24 rem per tahun dari radiasi alami di lingkungan.
Tingkatan paparan radiasi yang berbahaya apabila seseorang sudah terpapar 400 hingga 600 rem. Bahkan paparan di tingkat tersebut dapat menyebabkan kematian.
Tak Ada Tes Spesimen dalam Karantina di Natuna, Ini Alasannya
Pemulangan 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan, China, menandai berakhirnya masa karantina di Natuna. Selama proses observasi, dipastikan tidak ada pemeriksaan spesimen terhadap para WNI.
"Nggak ada tes spesimen. Karena kita memang observasi, bukan konfirmasi," tegas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr Anung Sugihantono, Sabtu (15/2/2020).
Meski tidak ada tes spesimen, para WNI yang telah menyelesaikan karantina diimbau untuk melaporkan diri apabila merasakan hal-hal yang tidak nyaman pada tubuhnya. Kemenkes telah menyampaikan notifikasi soal ini ke tiap-tiap provinsi, agar kebutuhan ini bisa difasilitasi.
Dalam wawancara sebelumnya, Sekretaris Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) dr Achmad Yurianto menjelaskan pemeriksaan spesimen yang diambil lewat swab atau sapan lendir dilakukan untuk orang yang memiliki gejala saja.
"Yang pertama prosedurnya adalah klinis tidak semua orang diperiksa, harus ada klinis yg mendukung. Seperti influenza berat, badan panas, gangguan pernapasan, ditambah batuk, screening pemeriksaan fisik, tidak langsung tiba-tiba swab," jelasnya, ditemui baru-baru ini.
https://nonton08.com/infini/