Rabu, 02 September 2020

5 Tips Supaya Seks Oral Jadi Lebih Aman dan Menyenangkan

Seks oral merupakan variasi aktivitas seksual yang bisa dilakukan saat menghabiskan momen intim dengan pasangan. Meski tidak ada penetrasi dan tidak menyebabkan kehamilan, ahli menyebut seks oral sama saja seperti seks konvensional karena risikonya serupa.
Beberapa penyakit seperti herpes bahkan hingga human immunodeficiency virus (HIV) dapat menular lewat seks oral. Oleh karena itu agar seks oral lebih aman, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Berikut 5 tips seks oral yang dirangkum detikcom dari berbagai sumber:

1. Hindari bila sedang sariawan

Bila mulut sedang ada sariawan, sakit tenggorokan, atau luka di gusi maka sebaiknya hindari seks oral. Alasannya karena kuman penyakit dapat masuk menginfeksi tubuh dari luka terbuka yang ada di mulut.

2. Pakai kondom

Kondom bisa digunakan saat melakukan seks oral untuk semakin mengurangi risiko penularan kuman penyakit.

Inilah alasan kenapa beberapa produsen kondom secara spesifik mengeluarkan produk yang memiliki rasa. Tujuannya untuk menyamarkan rasa lateks sehingga seks oral menjadi lebih menyenangkan.

3. Cari ritme

Cari ritme hisapan atau jilatan yang disenangi pasangan. Beberapa pakar seks menyebut bila sudah menemukan ritme yang tepat maka pertahankan dan jangan sering diubah-ubah agar pasangan cepat mencapai orgasme.

4. Pakai tangan

Jangan lupa gunakan tangan untuk memberikan stimulasi tambahan. Coba stimulasi area sensitif pasangan yang tak bisa dijangkau dengan mulut.

5. Komunikasi

Hal yang juga penting saat melakukan seks oral adalah komunikasi. Jangan malu untuk memberitahu pasangan hal apa saja yang kamu sukai atau sebaliknya. Komunikasi yang baik adalah kunci pengalaman seks menyenangkan.

5 Kondisi Mr P yang Bikin Cairan Sperma 'Merembes' Tak Terkontrol

 Air mani yang mengandung sperma biasanya keluar dari penis saat orgasme. Namun demikian kadang ada beberapa kondisi yang bisa buat sperma keluar di luar kendali.
Biasanya kondisi sperma yang keluar sendiri ini bukan masalah kesehatan serius, namun kadang ada juga yang terjadi karena masalah tertentu.

Berikut penjelasannya seperti dikutip dari Medical News Today pada Rabu (5/2/2020):

1. Saat terangsang

Beberapa pria dapat mengeluarkan cairan yang bisa mengandung sperma saat sedang terangsang. Para ahli menyebutnya sebagai cairan praejakulasi atau precum.

Oleh karena itu disarankan selalu memakai kontrasepsi saat melakukan aktivitas seksual dengan pasangan bila ingin menghindari kehamilan.

2. Kencing

Sperma juga bisa keluar dari penis saat kencing. Hal ini biasanya terjadi ketika seorang pria sebelumnya mengalami ejakulasi. Urine yang tercampur oleh sperma mungkin tampak sedikit keruh.

3. Mimpi basah

Mimpi basah adalah fenomena yang terjadi ketika seorang pria mengalami ejakulasi dalam tidurnya. Biasanya terjadi ketika mimpi mengandung hal berbau seksual.

Mimpi basah paling umum selama masa pubertas, namun bisa juga terjadi saat dewasa. Mimpi basah cenderung terjadi lebih sering pada masa pubertas karena perubahan hormon.

4. Efek obat

Beberapa obat seperti antidepresan atau terapi hormon disebut dapat memiliki efek samping memengaruhi dorongan seksual. Oleh karena itu hal ini juga bisa memengaruhi pola ejakulasi seorang pria.

5. Cedera saraf

Cedera pada saraf di daerah tulang belakang, kantung kemih, atau area lain yang memengaruhi ejakulasi bisa berdampak pada aliran air mani. Bisa saja air mani jadi 'bocor' di luar kendali.
https://nonton08.com/guilty/

10 Alat Kontrasepsi Hormonal dan Non Hormonal

Untuk mencegah kehamilan biasanya disarankan menggunakan alat kontrasepsi. Apa saja jenis-jenis alat kontrasepsi yang populer di Indonesia?
Alat kontrasepsi adalah obat atau prosedur bedah yang berfungsi untuk menunda atau berhenti memiliki anak. Ragam alat kontrasepsi juga banyak, mulai dari pil KB, suntik KB hingga kondom.

Alat kontrasepsi ini banyak digunakan bagi mereka yang ingin menunda momongan dengan berbagai alasan seperti karier, pendidikan hingga finansial. Berikut ini beberapa jenis alat kontrasepsi hormonal dan non hormonal yang populer di Indonesia:

1. Pil KB

Pil KB dibuat dengan kombinasi hormon estrogen dan progesteron yang dapat mencegah terjadinya ovulasi. Pil KB juga memicu pengentalan lendir serviks sehingga dinding rongga rahim tidak siap menerima pembuahan.

Jika kamu sudah memutuskan untuk menggunakan pil KB, seorang perempuan harus mengonsumsinya sesuai aturan yang dianjurkan. Pil KB disarankan untuk diminum di waktu yang sama. Misalnya selalu pagi, selalu siang atau selalu malam.

Pil KB sebaiknya mulai dikonsumsi saat hari pertama menstruasi. Efektivitas pil KB bisa dirasakan setelah mengonsumsi 7 tablet.

2. IUD (Intra-Uterina Device)

Alat kontasepsi IUD spiral ini dikenal sebagai salah satu metode pengendali kehamilan paling efektif. IUD juga murah dan mudah digunakan untuk mencegah waktu kehamilan hingga 5 tahun.

IUD juga menjadi salah satu jenis alat kontrasepsi non hormonal. IUD memiliki bentuk berbentuk T yang dimasukkan ke dalam rahim guna mencegah terjadinya pembuahan. Ada 2 jenis IUD, yaitu:

- IUD tembaga: tidak mengandung hormon dan kandungan tembaganya bertindak sebagai spermisida untuk membunuh sperma yang masuk.

- IUD hormonal: mengandung porgestin, fungsinya untuk mencegah sperma membuahi sel telur.

Tingkat efektivitas IUD mencapai 99,8 persen dalam mencegah kehamilan.

3. Suntik KB

Suntik KB mengandung hormon progesteron atau kombinasi progesteron dan estrogen dan disuntikkan pada lengan bagian atas atau bagian bokong setiap 3 bulan guna melindungi wanita dari kehamilan.

Setelah disuntikkan kadar hormon akan meningkat dan kemudian menurun secara bertahap hingga suntikan selanjutnya. Suntik KB ada yang dilakukan per 3 bulan dan 1 bulan.

4. Kondom

Kondom menjadi salah satu alat kontrasepsi non hormonal. Kelebihan kondom dapat mencegah penularan penyakit kelamin dan praktis digunakan di mana saja. Namun kondom memiliki kekurangan yakni penggunaannya dapat menimbulkan alergi dari bahan yang digunakan untuk membuat kondom dan pemakaiannya jua harus tepat agar terjadinya risiko terlepas kecil.

5. Diafragma

Meskipun orang Indonesia agak jarang menggunakan alat kontrasepsi diafragma, namun diafragma bisa menjadi pilihan. Alat kontrasepsi ini berbentuk kubah dan terbuat dari silikon. Setengah bagian kubah tersebut diisi krim atau spermisida untuk membunuh sel sperma agar tidak masuk ke vagina. Setelah itu alat ini dimasukkan ke dalam vagina dan diletakkan di atas serviks sebelum berhubungan intim.

6. Spermisida

Spermisida mengandung bahan kimia nonoxynol-9 yang dapat membunuh sperma atau menghambat pergerakannya. Spermisida umumnya diletakkan di dekat leher rahim dan harus segera dimasukkan sebelum berhubungan intim. Efek alat KB ini umumnya mulai bekerja sekitar 15 menit setelah digunakan.

7. Vasektomi

Alat kontasepsi tidak selalu dipasang dalam tubuh wanita, pria juga dapat menggunakan alatnya demi mencegah kehamilan. Vasektomi merupakan metode kontrasepsi jangka panjang berupa vasektomi atau operasi pemotongan vas deferens yakni saluran berbentuk lubang tabung kecil dalam skrotum yang membawa sperma dari testis menuju penis.

Sehingga akses sperma menuju air mani jadi tertutup sehingga mencegah pembuahan. Vasektomi bukanlah proses kebiri, sehingga pria masih bisa merasakan ereksi dan tak mempengaruhi kejantanan pria.

8. KB Implan

Alat kontrasepsi jenis ini dilakukan dengan memasukkan KB implan atau susuk KB di bawah kulit lengan atas. KB dengan cara ini cukup banyak diminati karena pemasangannya cukup mudah, efektif dan memberikan perlindungan yang cukup lama serta mencegah kehamilan selama 3 tahun.

9. Tubektomi

Tubektomi adalah salah satu jenis alat kontrasepsi permanen dengan cara memotong kedua tuba falopii atau saluran tuba. Ketika tuba falopii dipotong, maka sel telur tidak dapat masuk ke dalam rahim dan sperma pun tidak bisa membuahi sel telur. Tubektomi ini biasanya ditargetkan untuk pasangan usia subur yang tidak ingin memiliki anak lagi.

10. Senggama Terputus

Jika tak ingin menggunakan alat kontasepsi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Beberapa pasangan memilih untuk melakukan senggama terputus. Metode ini menjadi salah satu kontasepsi non hormonal yang dilakukan dengan cara mencabut penis sebelum ejakulasi saat berhubungan seksual.
Metode senggama ini bisa mencegah kehamilan sekitar 80 persen. Namun yang perlu diperhatikan adalah untuk memastikan ejakulasi benar-benar dilakukan di luar vagina.