Kamis, 10 September 2020

Dukung DKI PSBB Ketat 14 September, Pakar Soroti Nakes yang Bertumbangan

 Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta kembali menerapkan PSBB ketat 14 September mendatang. PSBB ketat kembali diterapkan karena rumah sakit diprediksi kolaps, tidak sanggup menampung lebih banyak pasien Corona.
Seluruh perkantoran kembali ditutup, tetapi masih ada beberapa kantor yang masih diperbolehkan beroperasi. Bagaimana tanggapan ahli epidemiologi terkait hal ini?

Dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menjelaskan PSBB kali ini sangat tepat diberlakukan. Pasalnya, menurut Dr Pane kasus selama 1 minggu di Jakarta mengalami peningkatan tajam.

"Pada PSBB pertama saya tidak setuju dengan PSBB karena jumlah kasus masih sangat rendah dan bisa dilakukan containment melalui isolasi dan karantina yang ketat mulai dari rumah dan bertingkat menuju wilayah lebih besar, juga karena terlalu banyak sektor usaha yang terbuka, praktis hanya pendidikan, keagamaan dan perdagangan untuk kebutuhan sekunder yang di-lock," bebernya saat dihubungi detikcom Kamis (10/9/2020).

"Tetapi kali ini saya setuju karena jumlah kasus dalam 1 minggu terus meningkat tajam dan terutama kapasitas kritis occupancy-nya melewati 85 persen, ditambah lagi petugas kesehatan kita juga mulai banyak yang terinfeksi dan beberapa meninggal yang dapat mempengaruhi pemberian pelayanan essential," lanjutnya.

dr Pane juga menyoroti beberapa tenaga kesehatan khusus menangani COVID-19 sangat letih dalam menghadapi wabah yang tak kunjung selesai dalam 6-7 bulan ini. dr Pane berharap sebagian dari mereka tidak kehilangan harapan meskipun sudah bekerja secara maksimal.

"Petugas khusus covid juga sangat letih dan jenuh dalam 6 bulan ini, semoga mereka tidak hopeless dengan penambahan kasus terus menerus dalam 1 minggu terakhir," kata Dr Pane.

Kronologi Relawan Vaksin Terinfeksi Virus Corona Sepulang dari Semarang

 Seorang subjek atau relawan uji klinis vaksin COVID-19 dilaporkan terpapar COVID-19 saat akan mendapatkan suntik vaksin yang kedua. Relawan yang tak disebutkan identitasnya itu diketahui positif setelah melaksanakan swab test.
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Unpad Prof Kusnandi Rusmil memastikan, infeksi virus Corona bukan dari vaksin yang disuntikkan. Tetapi, diduga kuat dari kontak yang dilakukan setelah relawan tersebut melakukan perjalanan ke Semarang, Jawa Tengah.

"Jadi dia sudah disuntik, suntik pertama kali. Kemudian pergi ke Semarang, pas pulang dicek lagi swabnya positif," ujar Kusnandi saat ditemui di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Kota Bandung, Rabu (9/9/2020).

"Positif bukan dari vaksin, kalau dari vaksin kan itu virus yang mati. Dia kontak (pergi) ke Semarang," ujar Kusnandi melanjutkan.

Walau demikian, relawan tersebut tak dikeluarkan (drop out) dari uji klinis yang dilakukan. Akan tetapi, pihaknya akan memberikan jadwal penyuntikan ulang setelah kondisi fisik relawan tersebut sehat kembali.

"Kalau di penelitian memang kalau yang positif di awal (sebelum penyuntikkan) enggak boleh ikut, tapi kalau dia positif karena pergi darimana-mana itu akan kita suntik ulang, tapi dengan pemantauan," ucapnya.

Secara umum, Kusnandi memaparkan sejauh ini sudah ada 450 orang yang telah mendapatkan suntik vaksin pabrikan Sinovac, Tiongkok. 200 relawan mendapatkan suntikkan yang kedua, dan 250 lainnya baru menjalani penyuntikkan yang pertama.

"Sampai sekarang belum ada yang masuk ke rumah sakit karena sakit, semuanya biasa saja. Keluhannya dmema sedikit, nyeri yang dalam dua hari hilang. Seperti suntik biasa-biasa saja di puskesmas saja kalau mau imunisasi, demam minum parasetamol, nyeri nanti hilang dalam dua hari. Kita ikuti kan setelah suntuk 30 menit pertama kita lihat, ada alergi atau tidak, ada memar atau tidak, terus dihubungi lagi dua hari berturut-turut dengan telepon," katanya.

Ditargetkan uji klinis ini bisa rampung awal tahun depan, dan produksi vaksin ini akan dilakukan oleh Biofarma.
https://cinemamovie28.com/man-hunting-horny-woman-in-sex-2/

Seperti Ini Kondisi RS di DKI yang Terancam Kolaps kalau Tak PSBB Total

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diberlakukan di DKI Jakarta mulai 14 September 2020 nanti. Penerapan PSBB ini dilakukan karena tingkat penularan virus Corona semakin tidak terkendali, sehingga berdampak pada fasilitas kesehatan yang terancam kolaps.
Berdasarkan data per 6 September 2020, jumlah tempat tidur di ICU 67 rumah sakit (RS) rujukan COVID-19 hampir terisi penuh, sekitar 83 persen. Sementara tempat tidur di ruang isolasi sudah terisi sampai 77 persen.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memprediksi pada 17 September 2020, 4.052 tempat tidur isolasi di wilayah tersebut akan terisi penuh sampai 100 persen.

"Sekali lagi ini soal menyelamatkan warga Jakarta. Bila ini dibiarkan, maka RS tidak akan sanggup lagi menampung dan efeknya kematian akan tinggi terjadi di Jakarta," kata Anies saat konferensi pers di kanal YouTube Pemprov DKI Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Pemprov DKI Jakarta pun mengungkap data proyeksi dari Dinas Kesehatan terkait jumlah tempat tidur di ruang ICU di rumah sakit jika 'rem darurat' tidak dilakukan.

Sampai 15 September 2020 nanti, jumlah tempat tidur ICU yang berjumlah 528 akan terisi penuh.
Setelah 15 September 2020 itu, pasien COVID-19 yang membutuhkan ICU kemungkinan sudah tidak bisa tertampung lagi.
Hingga 15 September 2020, jumlah pasien akan mencapai 636 orang. Sementara 636 tempat tidur ICU baru bisa terpenuhi sampai 8 Oktober 2020 mendatang.
Selain itu, data tersebut juga mengungkap proyeksi jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS di Jakarta, jika PSBB tidak diberlakukan.

Sampai 17 September 2020 nanti, jumlah tempat tidur isolasi yang berjumlah 4.053 akan terisi penuh.
Setelah 17 September 2020 itu, pasien COVID-19 yang membutuhkan ruang isolasi kemungkinan sudah tidak bisa tertampung.
Hingga 6 Oktober 2020 mendatang, jumlah pasien akan mencapai 4.807 orang, padahal 4.807 tempat tidur itu baru bisa terpenuhi pada tanggal 8 Oktober 2020.

Dukung DKI PSBB Ketat 14 September, Pakar Soroti Nakes yang Bertumbangan

 Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta kembali menerapkan PSBB ketat 14 September mendatang. PSBB ketat kembali diterapkan karena rumah sakit diprediksi kolaps, tidak sanggup menampung lebih banyak pasien Corona.
Seluruh perkantoran kembali ditutup, tetapi masih ada beberapa kantor yang masih diperbolehkan beroperasi. Bagaimana tanggapan ahli epidemiologi terkait hal ini?

Dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menjelaskan PSBB kali ini sangat tepat diberlakukan. Pasalnya, menurut Dr Pane kasus selama 1 minggu di Jakarta mengalami peningkatan tajam.

"Pada PSBB pertama saya tidak setuju dengan PSBB karena jumlah kasus masih sangat rendah dan bisa dilakukan containment melalui isolasi dan karantina yang ketat mulai dari rumah dan bertingkat menuju wilayah lebih besar, juga karena terlalu banyak sektor usaha yang terbuka, praktis hanya pendidikan, keagamaan dan perdagangan untuk kebutuhan sekunder yang di-lock," bebernya saat dihubungi detikcom Kamis (10/9/2020).

"Tetapi kali ini saya setuju karena jumlah kasus dalam 1 minggu terus meningkat tajam dan terutama kapasitas kritis occupancy-nya melewati 85 persen, ditambah lagi petugas kesehatan kita juga mulai banyak yang terinfeksi dan beberapa meninggal yang dapat mempengaruhi pemberian pelayanan essential," lanjutnya.

dr Pane juga menyoroti beberapa tenaga kesehatan khusus menangani COVID-19 sangat letih dalam menghadapi wabah yang tak kunjung selesai dalam 6-7 bulan ini. dr Pane berharap sebagian dari mereka tidak kehilangan harapan meskipun sudah bekerja secara maksimal.

"Petugas khusus covid juga sangat letih dan jenuh dalam 6 bulan ini, semoga mereka tidak hopeless dengan penambahan kasus terus menerus dalam 1 minggu terakhir," kata Dr Pane.
https://cinemamovie28.com/hitman-agent-jun/