Minggu, 04 Oktober 2020

Trump Diduga Alami Kondisi Kritis 2 Hari ke Depan Akibat Terinfeksi COVID-19

 Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dinyatakan positif COVID-19 pada Kamis malam (1/10/2020). The Washington Post melaporkan, masih belum jelas kapan Trump positif terpapar COVID-19 dan bagaimana kondisi kesehatan Trump terkini.

Namun, dalam konferensi pers Sabtu pagi, anggota tim medis Trump di Walter Reed National Military Medical Center mengatakan presiden tidak demam sama sekali. Para tim medis sangat senang terkait kondisi Trump yang membaik.


Sebuah pernyataan berbeda datang dari Gedung Putih. Mark Meadows, kepala staf Gedung Putih, mengatakan Trump mengalami periode yang 'sangat mengkhawatirkan' selama 24 jam terakhir.


"Tanda-tanda vital presiden selama 24 jam terakhir sangat memprihatinkan, dan 48 jam ke depan akan sangat penting dalam hal perawatannya," kata Meadows.


"Kami masih belum berada di jalur yang jelas menuju pemulihan penuh," lanjutnya.


Sementara itu, dokter Trump, Sean P Conley menyebut Trump bisa saja dinyatakan terinfeksi COVID-19 jauh sebelum hasil tes keluar. Namun, tim medis enggan menjawab kapan Trump pertama kali terinfeksi, kapan pertama kali mengidap gejala COVID-19, dan apakah dugaan menggunakan oksigen tambahan benar adanya.


Seorang pejabat senior pemerintahan kemudian mengkonfirmasi laporan bahwa Trump diberi oksigen di Gedung Putih pada hari Jumat sebelum pergi ke Walter Reed.


Setidaknya tujuh orang, termasuk dua senator AS, yang menghadiri upacara Rose Garden hari Sabtu, mengumumkan Amy Coney Barrett sebagai calon Mahkamah Agung Presiden Trump, dinyatakan positif mengidap virus Corona.

https://nonton08.com/coven/


Catat! Ini 5 Jenis Diet yang Tak Disarankan Ahli


Memiliki tubuh yang ideal dan sehat adalah impian semua orang. Namun, alih-alih menerapkan diet yang sehat, banyak orang melakukan diet ekstrem yang instan.

Tahukah Anda bahwa diet tersebut memiliki efek samping yang berbahaya bagi tubuh. Dikutip dari Prevention, simak 5 jenis diet yang tidak disarankan oleh ahli di bawah ini.


1. Diet keto

Diet ketogenik pada hakikatnya menekan asupan karbohidrat dalam tubuh dengan makanan tinggi lemak serta protein sedang. Asupan makanan diet keto dapat membuat tubuh membakar cadangan lemak menjadi sumber energi.


Dalam sejarahnya, diet jenis ini digunakan untuk pengobatan pasien dengan epilepsi pada tahun 1930-an. Namun, seiring berjalannya waktu, jenis diet ini dimanfaatkan untuk menurunkan berat badan.


Maka dari itu diet ini sangat tidak dianjurkan karena pada dasarnya tubuh kita tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Dampaknya bagi tubuh yaitu kondisi sembelit (konstipasi) karena kurangnya konsumsi biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran yang identik mengandung karbohidrat.


2. Diet slim tea atau teatox

Diet ini tergolong sangat ekstrem namun menjadi diet yang populer di masyarakat. Slim tea atau teh pelangsing ini mengandung bahan yang dapat memaksa tubuh untuk melakukan buang air besar. Padahal tanpa bahan tersebut, teh hijau alami terbukti mampu menurunkan berat badan. Jika dikonsumsi secara terus menerus, hal ini akan menyebabkan tubuh mengalami dehidrasi hingga diare.


3. Diet golongan darah

Diet ini pertama kali dicetuskan oleh Peter D'Adamo, seorang dokter naturophatic yang menuntut metode diet yang disesuaikan dengan tipe golongan darah. Alasan D'Amo adalah karena golongan darah bersifat genetis sehingga mempengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan. Untuk itulah metode diet juga harus menyesuaikan golongan darah. Ahli tidak menyarankan diet ini karena sumbernya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait golongan darah dengan metode diet.


4. Diet detoks jus

Dalam diet ini, jus detoks dikonsumsi untuk membersihkan usus besar. Para pelaku diet ini kerap kali hanya mengkonsumsi jus detoks tanpa memperhatikan asupan lainnya. Sehingga diet ini dapat membuat badan lemas, pusing, sakit perut bahkan sampai pingsan. Ketika jus bekerja untuk membersihkan usus besar, maka bakteri baik yang berfungsi menyerap air dan mineral dari makanan sampai berbentuk tinja akn mati. Implikasinya adalah keluhan pada pencernaan karena usus tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik.


5. Diet cuka apel

Dalam diet ini, orang mengkonsumsi cuka apel yang dipercaya memberikan efek kenyang sehingga dapat menahan gairah untuk makan. Namun perlu Anda ketahui, efek yang dihasilkan diet cuka apel dapat mengacak-acak nafsu makan Anda. Dampak yang kerap kali ditemukan adalah timbulnya rasa mual dan sakit perut akibat keasaman cuka yang dikonsumsi.

https://nonton08.com/knowing/

Viral Kisah Nakes Disebut Idap DBD, Ternyata Positif Terinfeksi COVID-19

 Viral kisah tenaga kesehatan yang disebut mengidap DBD ternyata positif COVID-19. Cerita ini dikisahkan akun TikTok milik Nofha atau @Nurfhazila dalam sebuah video pada Jumat (/18/09/2020). Ia merupakan seorang tenaga kesehatan (nakes) dari salah satu rumah sakit di Bengkulu.

"Jauh sebelum virus ini ditemukan, aku adalah salah satu orang yang selalu pakai masker. Hingga akhirnya virus ini ditemukan, aku semakin yakin pakai masker, bahkan tiap kerja, aku pakai APD yang lengkap dan kenyataannya, aku masih terpapar dengan virus ini," ujar @Nurfhazila pada akun TikToknya.


Sejumlah dukungan pun diberikan oleh para netizen di kolom komentar TikTok milik Nofha.


"Semangat mbk.. semoga kuat dan cepet sembuh ya.. amin," ujar @safeea.


"Allah Swt mbk utk kita lebih mendekatkan diri pada sang pencipta segala yang ada di dunia ini," ujar @SOLMET.


Nofha menceritakan pengalamannya bahwa sebelum diswab, ia mengalami demam tinggi selama seminggu dan hilangnya indra penciuman. Namun, saat diperiksa melalui laboratorium, ia malah dicurigai terkena sakit DBD karena trombositnya turun.


"Indra penciumanku hilang, sampai-sampai buang air besar aja ga kecium baunya. Aku uda feeling sih, kayaknya COVID deh, tapi pas dicek, hasilnya malah DBD. Iya aku mikir antara demam COVID-19 sama DBD emang ga jauh beda gejalanya," ujar Nofha, saat dihubungi detikcom, Jumat (02/10/2020).

https://nonton08.com/mole-of-life/


Selain itu, Nofha juga menceritakan bahwa ia berkonsultasi dengan dokter pribadi khusus nakes. Akhirnya, ia disarankan untuk melakukan rapid. Namun, hasil rapidnya menunjukkan non reaktif.


"Jadi syarat dikasih fasilitas swab itu kalau hasil rapidnya reaktif. Masalahnya, hasil rontgen-ku juga belom kelihatan. Akhirnya, di rumah sakit, aku dirawat di ruangan biasa," ujar Nofha.


Saat beristirahat di ruangan biasa selama tiga hari, tiba-tiba Nofha mendapatkan informasi bahwa beberapa teman-teman nakesnya mengeluh hilangnya indra penciuman. Karena itu, pada 10 September, rumah sakit melakukan swab kepada seluruh nakes, tak terkecuali dengan Nofha. Pada 13 September, ada tujuh orang nakes di rumah sakit itu yang positif COVID-19.


"Tapi namaku nggak tercantum di daftar positif COVID-19, atasanku bilang, artinya aku negatif. Aku masih tanda tanya, kok aku jelas-jelas bergejala gini, dibilangnya negatif? sedangkan beberapa temenku yang gak bergejala, dinyatakan positif," ujar Nofha.


Dengan firasat yang kuat bahwa dirinya pasti positif COVID-19, ia berinisiatif untuk langsung menghubungi orang laboratorium. Rupanya, hasil swab milik Nofha belum keluar. Oleh sebab itu, sambil menunggu hasil keluar, Nofha berupaya untuk tidak melakukan kontak fisik kepada siapapun, termasuk melakukan jaga jarak kepada orang-orang yang ada di rumahnya.


Pada 15 September, hasil swab milik Nofha keluar. Benar saja, ia dinyatakan positif COVID-19. Ia segera dijemput ambulans pada pukul satu pagi untuk dikarantina di rumah sakit, tempat dirinya bekerja.


"Aku sedih karena masih banyak orang yang nggak percaya sama virus Corona. Aku saja yang udah menggunakan APD lengkap masih bisa kena virus ini. Kecil kemungkinan kenanya saat pelepasan APD, tapi besar kemungkinan kenanya saat aku sehari-hari ke luar, misalnya ke pasar," pungkasnya.

https://nonton08.com/hit-run/