Kamis, 15 Oktober 2020

Seberapa Sering Pria Harus Ejakulasi Agar Tak Kena Kanker Prostat?

  - Ejakulasi atau keluarnya sperma memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh. Beberapa manfaatnya seperti sarana membakar kalori, meredakan stres, memperbaiki suasana hati dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, seberapa sering idealnya seorang pria ejakulasi?


Dalam kondisi normal, pria dapat menghasilkan 1.500 sel sperma setiap detik dan jutaan dalam sehari. Dikutip dari Medical News Today, tidak ada patokan baku mengenai ejakulasi yang harus dilakukan pria dalam seminggu. Hal ini karena patokan tersebut dapat berbeda bagi tiap individu tergantung kondisi kesehatan, status hubungan, dan faktor lainnya.


Hal ini diperkuat dengan studi di Amerika Serikat pada tahun 2015, yang meneliti mengenai ejakulasi yang dilakukan pria. Faktanya, pria paling sering ejakulasi dari bercinta dengan pasangannya saat berusia 25-29 tahun.


Frekuensi ini cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Hingga kini, belum ada patokan baku frekuensi ideal pria mengeluarkan sperma dalam seminggu, baik itu melalui masturbasi atau bersama pasangannya. Dampak sering ejakulasi bagi tubuh juga tidak dapat disamaratakan tiap individu.


Namun pada penelitian yang dilakukan European Urology pada akhir 2016 yang meneliti 31.925 pria menemukan bahwa ejakulasi setidaknya 21 kali sebulan bisa mengurangi risiko kanker prostat pada pria. Maka dalam seminggu, pria dianjurkan untuk ejakulasi sebanyak 4 kali untuk mencegah kanker prostat.


Penelitian lebih lanjut untuk mengkaji hubungan antara kanker prostat dan frekuensi ejakulasi harus dilakukan. Hal ini dikarenakan penelitian tersebut hanya mengandalkan laporan dari responden dalam medio 1992 sampai 2010. Perlu adanya uji laboratorium terkontrol untuk menganalisis hal tersebut.


Penelitian lain pada tahun 2004 juga berupaya membuktikan kaitan ejakulasi dengan risiko kanker prostat. Namun, para peneliti menyimpulkan frekuensi ejakulasi tidak signifikan memengaruhi faktor risiko kanker prostat. Faktor kesehatan adalah faktor yang paling mempengaruhi munculnya kanker prostat pada pria.

https://cinemamovie28.com/the-huntresses/


Manfaat Bermain dengan Anak dan Hal-hal yang Harus Diperhatikan


 Bermain bagi anak-anak merupakan kegiatan yang mengasyikkan dan menyenangkan. Selain itu, orang tua harus tahu bahwa ada banyak manfaat yang bisa didapatkan melalui kegiatan bermain ini, lho.

Menurut National Association for the Education of Young Children (NAEYC), bermain menjadi kegiatan yang vital dalam perkembangan bahasa, kognitif, sosial, dan regulasi emosi anak. Bermain juga merupakan bentuk ekspresi kreatif yang dapat memunculkan kreativitas pada anak.


Aisyah Almas Silmina, M.Psi, seorang psikolog klinis anak di RS Pusat Otak Nasional, memaparkan beberapa manfaat bermain bagi anak.


1. Perkembangan fisik dan motorik

Menurut Almas, bermain dapat membantu anak untuk mempelajari bagaimana ia menggunakan ototnya serta mengkoordinasikan visual dan gerakan tubuhnya. Misalnya ketika bermain sambil berlari. Hal ini memacu perkembangan fisik serta motoriknya.


2. Perkembangan kognitif

Psikolog yang juga berpraktik di Layanan Psikologi Bileva tersebut menjelaskan, dalam perkembangan kognitif, bermain menimbulkan rasa ingin tahu, kapasitas untuk menyimpan informasi baru, mengembangkan keterampilan bahasa, dan keterampilan memecahkan masalah anak-anak.


3. Perkembangan sosioemosional

Permainan yang dilakukan anak kerapkali melibatkan orang lain seperti teman di sekitarnya sehingga bermain dalam hal ini juga mendorong kemampuan menjalin pertemanan dan komunikasi, hubungan yang erat dengan orang lain, meningkatkan keterampilan regulasi emosi, melatih kompromi pada regulasi, menunggu giliran, dan masih banyak lagi. Selain itu, bermain juga dapat menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan kepercayaan diri pada anak.


Ketiga perkembangan tersebut yang menjadi manfaat dari kegiatan bermain bagi anak.


"Semakin anak bertumbuh besar, cara anak bermain pun akan berubah. Mereka akan lebih kreatif dan lebih banyak bereksperimen dengan ide maupun permainan," kata Almas, dalam tulisannya di HaiBunda.


Berdasarkan jenisnya, permainan dibagi menjadi dua yaitu permainan terstruktur dan tidak terstruktur.


Permainan terstruktur biasanya permainan yang mengikatkan diri pada aturan tertentu. Sedangkan permainan tidak terstruktur merupakan permainan yang menarik minat anak dan terjadi begitu saja. Contoh permainan tidak terstruktur yaitu seni dan musik, bermain peran, hingga permainan yang mengeksplorasi ruang dan tempat yang ada.

https://cinemamovie28.com/young-husband-young-daddy/

4 Alasan untuk Tidak Makan Sambil Berdiri

 Makan sambil berdiri rupanya bukan saja tidak enak dilihat. Secara anatomi, juga memberikan sejumlah dampak negatif salah satunya jadi cepat gemuk.

Banyak orang menganggap makan sambil berdiri dapat membakar kalori, sehingga bisa menurunkan berat badan. Padahal, makan sambil berdiri bisa bikin nafsu makan tidak terkontrol.


Selain itu, menurut Times of India, ini 4 alasan mengapa makan sambil berdiri tidak dianjurkan untuk kesehatan:


1. Mempengaruhi sistem pencernaan

Postur tubuh saat makan sangat memengaruhi sistem pencernaan. Makan sambil berdiri rupanya dapat mengosongkan perut lebih cepat. Sebelum diproses untuk dipecah menjadi partikel yang sangat halus, makanan akan langsung memasuki usus. Hal ini mengakibatkan meningkatnya tekanan di usus, sehingga terjadilah masalah pencernaan.


2. Mendorong makan berlebihan

Saat berdiri sambil makan, proses pencernaan akan bekerja lebih cepat. Akibatnya, otak tidak pernah tahu apakah perut sudah kenyang atau belum. Hal ini mendorong perilaku makan berlebihan. Berbeda dengan makan sambil duduk yang dapat membuat proses pencernaan menjadi lambat, sehingga mampu meningkatkan perasaan kenyang.


3. Cepat merasa lapar

Cara termudah untuk mengetahui apakah masih lapar atau kenyang adalah dengan merasakan berapa banyak makanan yang ada di perut. Menurut para ahli, makan dalam posisi berdiri dapat membuat sistem pencernaan 30 persen lebih cepat dalam mencerna makanan. Hal ini akan menimbulkan rasa lapar hanya setelah beberapa jam makan.


4. Menyebabkan kembung

Proses pencernaan yang cepat bisa berdampak buruk bagi perut. Sebab, usus hanya memiliki sedikit waktu untuk menyerap makanan. Hal ini dapat menghasilkan gas yang menyebabkan kembung. Terbukti bahwa ketika karbohidrat tidak dicerna dengan baik, mereka cenderung berfermentasi di usus dan menyebabkan gas dan kembung.

https://cinemamovie28.com/madame-freedom/


Seberapa Sering Pria Harus Ejakulasi Agar Tak Kena Kanker Prostat?


 - Ejakulasi atau keluarnya sperma memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh. Beberapa manfaatnya seperti sarana membakar kalori, meredakan stres, memperbaiki suasana hati dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, seberapa sering idealnya seorang pria ejakulasi?


Dalam kondisi normal, pria dapat menghasilkan 1.500 sel sperma setiap detik dan jutaan dalam sehari. Dikutip dari Medical News Today, tidak ada patokan baku mengenai ejakulasi yang harus dilakukan pria dalam seminggu. Hal ini karena patokan tersebut dapat berbeda bagi tiap individu tergantung kondisi kesehatan, status hubungan, dan faktor lainnya.


Hal ini diperkuat dengan studi di Amerika Serikat pada tahun 2015, yang meneliti mengenai ejakulasi yang dilakukan pria. Faktanya, pria paling sering ejakulasi dari bercinta dengan pasangannya saat berusia 25-29 tahun.


Frekuensi ini cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Hingga kini, belum ada patokan baku frekuensi ideal pria mengeluarkan sperma dalam seminggu, baik itu melalui masturbasi atau bersama pasangannya. Dampak sering ejakulasi bagi tubuh juga tidak dapat disamaratakan tiap individu.


Namun pada penelitian yang dilakukan European Urology pada akhir 2016 yang meneliti 31.925 pria menemukan bahwa ejakulasi setidaknya 21 kali sebulan bisa mengurangi risiko kanker prostat pada pria. Maka dalam seminggu, pria dianjurkan untuk ejakulasi sebanyak 4 kali untuk mencegah kanker prostat.


Penelitian lebih lanjut untuk mengkaji hubungan antara kanker prostat dan frekuensi ejakulasi harus dilakukan. Hal ini dikarenakan penelitian tersebut hanya mengandalkan laporan dari responden dalam medio 1992 sampai 2010. Perlu adanya uji laboratorium terkontrol untuk menganalisis hal tersebut.


Penelitian lain pada tahun 2004 juga berupaya membuktikan kaitan ejakulasi dengan risiko kanker prostat. Namun, para peneliti menyimpulkan frekuensi ejakulasi tidak signifikan memengaruhi faktor risiko kanker prostat. Faktor kesehatan adalah faktor yang paling mempengaruhi munculnya kanker prostat pada pria.

https://cinemamovie28.com/thief-thief-super-thief/