Minggu, 08 November 2020

Maradona Alami Pembekuan Darah di Kepala, Begini Detail Kondisinya Kini

 Legenda sepakbola Diego Armando Maradona atau dikenal dengan Diego Maradona dilaporkan akan segera menjalani operasi di klinik Olivos, Ipensa Sanatorium, di La Plata, Argentina akibat pembekuan darah di kepalanya.

Berdasarkan hasil CT scan, ditemukan adanya hematoma subdural di kepala Maradona. Tetapi, masih belum diketahui pasti apa penyebabnya.


"Pasti kepalanya terbentur dan tidak menyadarinya, itu bisa terjadi setelah pil yang dia minum untuk insomnia. Para petugas medis mengatakan kepada saya bahwa ini bukan operasi yang berisiko dan dia akan menjalani operasi malam ini," jelas manajer Maradona, Stefano Ceci.


Hematoma subdural merupakan kumpulan darah di permukaan otak, tepatnya di antara dua lapisan pelindung otak yaitu duramater dan arachnoid. Kondisi ini umumnya disebabkan karena adanya benturan atau pukulan keras di bagian kepala.


Selain itu, dokter Federasi Sepakbola Argentina (AFA), Donato Villani mengatakan operasi ini seharusnya tidak memiliki masalah. Ia juga memastikan bahwa kondisi Maradona pasca diketahui mengalami hematoma subdural.


"Saya melihat di klinik, dia baik-baik saja. Saya memiliki perasaan yang luar biasa karena telah bekerja dengannya. Saya melihat dengan baik dan menunggu apa yang terjadi berdasarkan diagnosis," jelas Villani yang dikutip dari Marca, Rabu (4/11/2020).


Sebelumnya, Maradona sempat memiliki masalah pada kesehatannya. Pada tahun 2005 lalu, dia pernah menjalani operasi untuk menurunkan berat badan.


Di tahun 2013, Maradona juga pernah menjalani operasi mata, dan di 2015 sempat menjalani operasi kesekian kalinya di bagian perut karena mengalami pendarahan.

https://nonton08.com/movies/rain-man/


Sebaran Virus Corona Indonesia 8 November: 3.880 Kasus Baru, 826 dari DKI


Pemerintah melaporkan 3.880 kasus baru COVID-19 yang terkonfirmasi pada hari Minggu (8/11/2020). Total kasus terkonfirmasi saat ini sudah mencapai 437.716 kasus semenjak virus Corona mewabah di Indonesia.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan kasus paling tinggi sebanyak 826 kasus, disusul Jawa Tengah sebanyak 640 kasus baru per 8 November.


Dikutip dari laman covid19.go.id, pada hari ini ada sebanyak 3.881 kasus sembuh, sementara kasus kematian Corona sebanyak 74 orang.


Berikut detail sebaran 3.880 kasus baru Corona di Indonesia pada Minggu (8/11/2020):


DKI Jakarta: 826


Jawa Tengah: 640


Jawa Barat: 479


Jawa Timur: 282


Kalimantan Timur: 201


Sumatera barat: 196


Riau: 158


Kepulauan Riau: 84


Sumatera Utara: 78


Sulawesi Selatan: 77


Lampung: 60


Banten: 59


Sulawesi Tengah: 59


Sulawesi Utara: 58


Kalimantan Tengah: 53


Papua Barat: 52


Kalimantan Selatan: 46


Nusa Tenggara Barat: 46


Sulawesi Tenggara: 46


Bali: 44


Sumatera Selatan: 42


Jambi: 41


Maluku: 40


Bengkulu: 38


Kalimantan Barat: 36


DI Yogyakarta: 34


Papua: 33


Aceh: 26


Bangka Belitung: 16


Nusa Tenggara Timur: 10


Sulawesi Barat: 9


Gorontalo: 8


Kalimantan Utara: 3


Imunisasi Terbukti Mampu Atasi Penyakit Menular, Ini Faktanya


Imunisasi telah terbukti efektif dalam mengentaskan penyebaran penyakit menular. Di Indonesia, imunisasi dinyatakan berhasil mengatasi wabah penyakit.

Mengutip data Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), pada 1980 wabah penyakit cacar dinyatakan berhasil diatasi dengan imunisasi dengan imunisasi. Begitu pula dengan wabah polio diatasi dengan imunisasi sejak 2014. Berlanjut di 2016, imunisasi mengatasi wabah Maternal Neonatal (tetanus pada bayi yang baru dilahirkan).


Ketua ITAGI Prof. Dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro mengatakan imunisasi ampuh untuk mengendalikan wabah, karena dapat melawan penyakit secara spesifik. Imunisasi mengaktifkan imun tubuh untuk melawan penyakit tertentu.


"Untuk diingat, vaksin ini spesifik melawan sakit tertentu. Kalau penyakitnya campak, vaksinnya campak, tidak bisa vaksin campak digunakan untuk melawan TBC. Jadi vaksin ini melatih sistem imun melawan penyakit sehingga bisa mencegah infeksi penyakit tersebut. Tujuannya untuk eradikasi penyakit-penyakit berbahaya," terang Sri Rezeki dalam keterangan tertulis, Minggu (6/11/2020).


Ia menjelaskan untuk mengatasi wabah penyakit yang sangat menular, cakupan imunisasi harus tinggi dengan jumlah individu yang diimunisasi mencapai 80-95 persen dari populasi. Hal itu juga tergantung pada kecepatan penyebaran penyakit menular.

https://nonton08.com/movies/three-monkeys/

Bisa Terjadi pada Anak, Kenali Risiko dan Cara Cegah Stroke

 Masih dalam momen Hari Stroke Sedunia (World Stroke Day) 2020 yang diperingati setiap tanggal 29 Oktober, masyarakat perlu mengetahui penyakit stroke tidak hanya menyerang kalangan dewasa hingga tua saja, namun anak-anak muda pun memiliki risiko yang sama.

Melansir dari American Stroke Association, penyakit stroke juga bisa terjadi pada anak-anak, bayi, bahkan sebelum mereka lahir ke dunia. Faktor risiko yang bisa menyebabkan stroke terjadi antara lain penyakit jantung bawaan, gangguan pada plasenta, gangguan pembekuan darah, hingga infeksi lainnya.


Menjalani gaya hidup sehat sangat penting dilakukan untuk mencegah stroke terjadi. Di antaranya ialah makan makanan yang sehat, aktif secara fisik, memperhatikan berat badan, hidup bebas tembakau, serta kontrol tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan diabetes.


Supaya tahu lebih dalam mengenai gejala, penyebab, hingga cara mencegah stroke yang tepat, Anda bisa mengikuti acara World Stroke Day 2020 yang akan disiarkan secara streaming di detikcom pada tanggal 6 November 2020 pukul 16.00 WIB.


Acara ini merupakan kolaborasi antara Transmedia dan detikcom dengan Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit PON (Pusat Otak Nasional), dan Indonesia Stroke Society serta didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).


Akan ada tiga segmen pada acara ini, pertama Talkshow: Burden Stroke and How to Build The Stroke System, kedua Talkshow: I am a Woman, Stroke Affected Me, Stroke Affected Everyone, ketiga Join Movement: Performance by Isyana Sarasvati, Dance 4 steps & Brain Exercise.


Para pakar akan berbicara mengenai stroke untuk memberi wawasan lebih lanjut kepada masyarakat Indonesia. Mulai dari dr. Yohanna Kusuma, Sp.S, Cert. Neurosonology ASN (USA) & WFN-NSRG; Prof. dr. Jusuf Misbach, Sp.S(K), FAAN; Indonesia Stroke Ambasador, Putri Tanjung; dr. Indah Aprianti putri, Sp.s (MSc Stroke-Med); hingga dr. Mohammad Arief Rachman Kemal, Sp.S yang akan dipandu oleh host Feni Rose.


Selain itu dalam acara ini juga akan ada greetings dari dokter-dokter di daerah, seperti Ketua Umum PP PERDOSSI, Dr. dr. Dodik Tugasworo Pramukarso, Sp. S(K); Prof. Dr. dr. Hasan Sjahrir, Sp.S(K); Dr. dr. Muhammad Hamdan, Sp.S(K); hingga dr. Muhammad Akbar, Sp.S(K), Ph.D. Ada pula testimoni yang akan diberikan oleh Pebalap Nasional, Rifat Sungkar; dr. Rayhan Maditra Indrayanto (cucu Prof. Mahar); dan Ir. Adi Indrayanto, M.Sc., Ph.D (putra Prof. Mahar).


Ikuti acaranya untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit stroke serta langkah-langkah efektif mencegahnya. Saksikan hanya di detikcom klik link ini, 6 November 2020 pukul 16.00 WIB- selesai.

https://nonton08.com/movies/the-golden-dream/


Maradona Alami Pembekuan Darah di Kepala, Begini Detail Kondisinya Kini


Legenda sepakbola Diego Armando Maradona atau dikenal dengan Diego Maradona dilaporkan akan segera menjalani operasi di klinik Olivos, Ipensa Sanatorium, di La Plata, Argentina akibat pembekuan darah di kepalanya.

Berdasarkan hasil CT scan, ditemukan adanya hematoma subdural di kepala Maradona. Tetapi, masih belum diketahui pasti apa penyebabnya.


"Pasti kepalanya terbentur dan tidak menyadarinya, itu bisa terjadi setelah pil yang dia minum untuk insomnia. Para petugas medis mengatakan kepada saya bahwa ini bukan operasi yang berisiko dan dia akan menjalani operasi malam ini," jelas manajer Maradona, Stefano Ceci.


Hematoma subdural merupakan kumpulan darah di permukaan otak, tepatnya di antara dua lapisan pelindung otak yaitu duramater dan arachnoid. Kondisi ini umumnya disebabkan karena adanya benturan atau pukulan keras di bagian kepala.


Selain itu, dokter Federasi Sepakbola Argentina (AFA), Donato Villani mengatakan operasi ini seharusnya tidak memiliki masalah. Ia juga memastikan bahwa kondisi Maradona pasca diketahui mengalami hematoma subdural.


"Saya melihat di klinik, dia baik-baik saja. Saya memiliki perasaan yang luar biasa karena telah bekerja dengannya. Saya melihat dengan baik dan menunggu apa yang terjadi berdasarkan diagnosis," jelas Villani yang dikutip dari Marca, Rabu (4/11/2020).


Sebelumnya, Maradona sempat memiliki masalah pada kesehatannya. Pada tahun 2005 lalu, dia pernah menjalani operasi untuk menurunkan berat badan.


Di tahun 2013, Maradona juga pernah menjalani operasi mata, dan di 2015 sempat menjalani operasi kesekian kalinya di bagian perut karena mengalami pendarahan.

https://nonton08.com/movies/women-who-flirt/