Rabu, 02 Desember 2020

5 Fakta Swab Antigen yang Dipakai Anies Baswedan Sebelum Positif COVID-19

 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan positif COVID-19 berdasarkan tes PCR (polymerase chain reaction) pada Selasa (1/12/2020). Sehari sebelumnya, Anies menjalani tes swab antigen dengan hasil negatif.

Awalnya, Anies melakukan tes PCR pada Rabu (25/1/2020) dengan hasil negatif. Setelah Wakil Gubernur DKI Riza Patria kedapatan positif COVID-19, Anies kembali melakukan swab, kali ini dengan tes antigen, dan hasilnya negatif.


Hasil negatif pada swab antigen dikonfirmasi dengan tes swab PCR pada Senin (30/12/2020) di balaikota. Hasilnya, Anies dinyatakan positif COVID-19.


Sama-sama menggunakan sampel yang diambil melalui swab atau usapan di area nasofaring, apa yang membedakan swab PCR dengan swab antigen?


1. Material yang dideteksi

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo menjelaskan, tes swab antigen bekerja dengan mendeteksi cangkang virus. Sementara itu, tes PCR mendeteksi material genetik virus. Hasil kedua tes ini sama-sama mengindikasikan apakah seseorang memiliki infeksi aktif atau tidak.


2. Akurasi dan sensitivitas

Ahli patollogi klinis dari RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya dr Thyrza Laudamy Darmadi SpPK menjelaskan, sensitivitas tes PCR lebih tinggi dibading swab antigen. Tes swab antigen hanya efektif mendeteksi infeksi ketika jumlah virusnya cukup tinggi.


"Jadi si antigen ini mampu mendeteksi ketika jumlah virus si pasien tersebut tinggi, tetapi ketika jumlah virusnya tidak terlalu tinggi, jadi CT (cycle threshold) valuenya di atas 25 atau di atas 30, antigen itu bisa akan negatif," jelas dr Thyrza saat ditemui detikcom di RSPI Bintaro Jaya Jumat (20/11/2020).


3. Laboratorium yang dibutuhkan

Swab PCR dikerjakan di laboratorium khusus dengan kualifikasi minimal bio safety level (BSL) dua. Kualifikasi ini dibutuhkan untuk memeriksa mikroorganisme dengan potensi bahaya sedang seperti campak. Swab antigen tidak membutuhkan kualifikasi tersebut.


4. Harga

Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan harga maksimal Rp 900 ribu untuk tes swab PCR. Tes swab antigen umumnya mematok harga lebih rendah dibanding PCR, tetapi lebih tinggi dari rapid test biasa.


5. Bedanya dengan rapid test apa dong?

Ada berbagai jenis maupun produk rapid test yang ada di pasaran, masing-masing memiliki cara kerja dan akurasi yang berbeda. Namun secara umum, tes antigen lebih sensitif dan akurat untuk mendeteksi infeksi pada periode minggu pertama, sedangkan rapid test antibodi lebih ditujukan untuk mendeteksi apakah seseorang pernah terpapar infeksi.

https://kamumovie28.com/movies/sex-lies-and-videotape/


Wanita di Jaksel Viral Gara-gara Pangkas Bobot 21 Kg, Ini Menu Dietnya


Setiap orang, khususnya wanita, umumnya menginginkan bentuk tubuh yang ideal. Banyak dari mereka yang berlomba-lomba mengatur pola makan agar postur tubuh tetap terjaga.

Salah satunya adalah Rismawati Meliandini (20). Sering merasa insecure dengan bentuk tubuh yang dimiliki, ia bertekad menjalani program diet dan berhasil turun 21 kg dalam waktu 6 bulan.


Wanita asal Jakarta Selatan ini menuturkan bahwa ia sering diejek sebagai ibu hamil saat berat badannya 83 kg. Sekarang, ia berhasil menjalani program diet dan turun berat badan sampai 62 kg.


Lewat wawancara dengan detikcom, Risma mengungkapkan bahwa selama diet, ia sama sekali tidak mengonsumsi nasi. Ia hanya makan olahan rebus-rebusan, seperti sayur yang direbus, kentang rebus, ayam rebus, dan telur rebus.


Tak hanya olahan rebus-rebusan, terkadang Risma juga mengonsumsi tahu dan tempe sebagai pengganti nasi. Ia menambahkan sambal agar rasanya tidak hambar dan tidak eneg saat memakannya.


Dalam akun TikTok @rmeliandini, Risma bercerita bahwa sebelum diet, ia sangat menyukai makanan cepat saji dan minuman manis. Ia juga tak segan mengonsumsi makanan apapun dalam porsi yang cukup banyak.


"Nah, setelah berat badan aku 63 sampai sekarang di 61, aku kadang makan nasi. Seminggu bisa 3-4 kali dan porsinya ngga banyak-banyak," tambahnya.

https://kamumovie28.com/movies/sensual/

Butuh 2 Tahun Agar Herd Immunity Terbentuk di Indonesia, Ini Alasannya

 Pandemi Corona masih berlangsung di Indonesia. Berbagai laporan terkait hasil uji klinis yang baik dari sejumlah kandidat vaksin COVID-19 menjadi angin segar bagi masyarakat.

Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, mengatakan kekebalan kelompok atau herd immunity bisa terbentuk apabila sebagian besar masyarakat telah mendapat vaksin.


"Pada suatu populasi yang cakupan imunisasinya tinggi, maka orang-orang yang divaksinasi tadi selain dirinya sendiri terlindungi dari penyakit tersebut, dia juga menjadi benteng pelindung agar orang-orang di sekelilingnya itu tidak tertular, inilah yang disebut sebagai herd immunity," kata dr Dirga dalam Virtual Talkshow Kebaikan Vaksin Pulihkan Indonesia bersama detikcom, Selasa (1/12/2020).


Kapan herd immunity COVID-19 bisa terbentuk di Indonesia?

Menurut Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Universitas Padjadjaran Prof Kusnadi Rusmil, SpA(K), butuh waktu yang cukup lama agar sebagian besar warga Indonesia bisa divaksinasi COVID-19. Pasalnya, vaksinasi ini perlu dilakukan secara bertahap.


"Jadi yang paling penting ke petugas dulu, petugas yang akan memberikan imunisasi tentunya, petugas kesehatan, sudah gitu petugas pemerintah yang menjalankan roda pemerintahan, supaya ini jalan semua. Dan biasanya kita lakukan bertahap," jelas Prof Kusnadi dalam kesempatan yang sama.


Prof Kusnadi memprediksi butuh waktu sekitar 2 tahun agar sebagian besar masyarakat di Indonesia bisa divaksinasi COVID-19, sehingga bisa tercipta herd immunity.


"Menurut saya, itu 2 tahun baru bisa kalau kita ada vaksinnya, itu mungkin 2 tahun, karena kita akan mulai dari zona merah dulu, zona kuning, baru zona hijau. Jadi pemberiannya bertahap," ujarnya.

https://kamumovie28.com/movies/naked-gun-33⅓-the-final-insult/


5 Fakta Swab Antigen yang Dipakai Anies Baswedan Sebelum Positif COVID-19


Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan positif COVID-19 berdasarkan tes PCR (polymerase chain reaction) pada Selasa (1/12/2020). Sehari sebelumnya, Anies menjalani tes swab antigen dengan hasil negatif.

Awalnya, Anies melakukan tes PCR pada Rabu (25/1/2020) dengan hasil negatif. Setelah Wakil Gubernur DKI Riza Patria kedapatan positif COVID-19, Anies kembali melakukan swab, kali ini dengan tes antigen, dan hasilnya negatif.


Hasil negatif pada swab antigen dikonfirmasi dengan tes swab PCR pada Senin (30/12/2020) di balaikota. Hasilnya, Anies dinyatakan positif COVID-19.


Sama-sama menggunakan sampel yang diambil melalui swab atau usapan di area nasofaring, apa yang membedakan swab PCR dengan swab antigen?


1. Material yang dideteksi

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo menjelaskan, tes swab antigen bekerja dengan mendeteksi cangkang virus. Sementara itu, tes PCR mendeteksi material genetik virus. Hasil kedua tes ini sama-sama mengindikasikan apakah seseorang memiliki infeksi aktif atau tidak.


2. Akurasi dan sensitivitas

Ahli patollogi klinis dari RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya dr Thyrza Laudamy Darmadi SpPK menjelaskan, sensitivitas tes PCR lebih tinggi dibading swab antigen. Tes swab antigen hanya efektif mendeteksi infeksi ketika jumlah virusnya cukup tinggi.


"Jadi si antigen ini mampu mendeteksi ketika jumlah virus si pasien tersebut tinggi, tetapi ketika jumlah virusnya tidak terlalu tinggi, jadi CT (cycle threshold) valuenya di atas 25 atau di atas 30, antigen itu bisa akan negatif," jelas dr Thyrza saat ditemui detikcom di RSPI Bintaro Jaya Jumat (20/11/2020).

https://kamumovie28.com/movies/naked-singularity/