Mantan artis cilik Iyut Bing Slamet ditangkap polisi atas kepemilikan sabu. Hal ini dibenarkan Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Wadi Sabani saat ditemui di kantornya.
"Dalam penangkapan kami mengamankan barang bukti berupa alat pakai narkoba dan paperclip diduga berisi sabu," ucapnya.
Iyut Bing Slamet menambah daftar deretan artis yang mengonsumsi narkoba. Beberapa mengaku mengonsumsi sabu untuk menambah stamina. Obat yang merupakan jenis stimulan ini memicu pelepasan dopamin.
Hormon ini memicu rasa positif seperti senang, bersemangat, dan percaya diri. Hanya saja, sama seperti narkoba yang lain, sabu berisiko menyebabkan kecanduan dan kematian bagi penggunanya.
Terlebih konsumsi sabu dalam jangka panjang berisiko menyebabkan ketergantungan. Bila pengguna sabu merasa tidak terpenuhi, mereka merasakan gejala depresi, cemas, lelah, dan sakaw.
Kondisi sakaw dicirikan dengan berbagai gejala. Mulai dari konsentrasi berkurang, sakit kepala, depresi dan bahkan halusinasi. Sebaliknya, overdosis bisa berakibat fatal yakni kematian.
Namun pengguna bisa direhabilitasi untuk menghilangkan ketergantungannya. Peneliti dr Hari Nugroho dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) mengatakan, korban narkoba bisa pulih melalui rehabilitasi.
Lamanya proses rehabilitasi pada pemakai sabu bergantung pada besarnya ketergantungan serta faktor pendorong lain hingga menggunakan narkoba.
https://tendabiru21.net/movies/sound-of-the-sea/
Putus Rantai Penyebaran COVID-19 dengan 3M dan Vaksinasi
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengisyaratkan jika proses pembuatan vaksin COVID-19 dapat dipercepat dalam situasi pandemi ini. Kendati demikian, vaksin tidak akan optimal jika 3M seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tidak dilakukan dengan disiplin oleh masyarakat.
"Membuat vaksin itu luar biasa sulit, prosesnya panjang. Untuk vaksin COVID-19 kita tidak bisa menunggu lima hingga sepuluh tahun, itu sebabnya dari Badan Kesehatan Dunia dimungkinkan untuk vaksin dipercepat, tetapi bukan berarti prosesnya asal-asalan," ujar Pakar Imunisasi, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH dalam keterangan tertulis, Jumat (4/12/2020).
Dr. Elizabeth menuturkan proses pembuatan vaksin itu sangat rumit harus dengan prinsip kehati-hatian. Aspek keamanan dan keampuhan juga merupakan hal yang diperhatikan dalam melakukan vaksinasi COVID-19 di berbagai negara termasuk di Indonesia.
"Sejauh ini vaksin COVID-19 sudah menunjukan angka keberhasilan, dan siap digunakan di beberapa negara," imbuhnya dalam Dialog Produktif yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Kamis, (03/12).
Namun ditegaskan dr. Elizabeth, vaksinasi tidak menjamin 100 persen orang tersebut tidak tertular. Walaupun divaksin dengan vaksin yang sangat ampuh, tidak menjamin antibodi terbentuk sepenuhnya. Oleh sebab itu, walaupun sudah divaksinasi, protokol kesehatan tetap harus dijaga.
"Seluruh protokol kesehatan yang dipakai semua negara berasal dari WHO. Protokol tersebut juga tidak asal dan harus dibuktikan dengan penelitian. Oleh sebab itu, jika melakukan disiplin 3M maka risiko penularan akan sangat minim," jelasnya.