Sabtu, 05 Desember 2020

Atasi COVID-19 Tanpa Lockdown dan Masker, Bagaimana Nasib Negara Ini?

 Negara ini tak menerapkan lockdown untuk menangani pandemi COVID-19. Begitu juga dengan penggunaan masker, badan kesehatan Swedia belum menyarankan pemakaian masker kepada seluruh warganya.

"Swedia belum membutuhkan masker wajah," kata seorang pejabat tinggi kesehatan pada hari Kamis, dikutip dari Reuters.


Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperbaharui pedoman COVID-19 soal masker. Termasuk siswa di atas 12 tahun wajib selalu memakai masker, baik di dalam toko, tempat kerja, sekolah yang berventilasi buruk.


Orang yang menerima tamu saat rumah memiliki ventilasi buruk juga diharuskan memakai masker.


Namun, Badan Kesehatan Swedia bersikeras untuk menahan diri merekomendasikan masker. Badan Kesehatan Swedia berdalih soal kemungkinan keefektifannya dan ketakutan bahwa masker dapat digunakan sebagai alasan untuk tidak menjalani isolasi saat mengalami gejala COVID-19.


"Masker wajah mungkin diperlukan dalam beberapa situasi. Situasi tersebut belum muncul di Swedia, menurut dialog kami dengan wilayah (perawatan kesehatan)," jelas Anders Tegnell, kepala ahli epidemiologi Swedia, mengatakan pada konferensi pers pada hari Kamis.


"WHO menjelaskan bahwa bukti untuk masker lemah. Semua penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa jauh lebih penting menjaga jarak daripada memiliki masker wajah," katanya.


Dalam upaya untuk membendung gelombang kedua yang parah, Perdana Menteri Stefan Lofven mengumumkan pada hari Kamis bahwa sekolah menengah akan beralih ke pembelajaran jarak jauh selama sisa tahun ini.


Sementara itu, Swedia mencatat 35 kematian baru COVID-19 pada hari Kamis, sehingga total kematian seluruhnya menjadi 7.007 kasus.


Dikutip dari worldometers hingga kini kasus COVID-19 di Swedia tercatat sebanyak 272.643 kasus.


Tingkat kematian per kapita Swedia beberapa kali lebih tinggi daripada negara tetangganya di Nordik, tetapi lebih rendah dari beberapa negara Eropa yang memilih untuk lockdown.

https://tendabiru21.net/movies/candy/


Ketahui Penyebab Kulit Kering dan Cara Mengatasinya


Kulit kering yang dalam bahasa medisnya disebut xerosis atau xeroderma bisa menyebabkan gatal dan berbagai masalah-masalah kulit lainnya seperti, pecah-pecah, mengelupas, dan sebagainya. Masalah ini bisa dialami siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Ada berbagai penyebab yang membuat kulit menjadi kering, salah satunya terjadi karena faktor lingkungan seperti cuaca panas maupun cuaca dingin. Untuk mengatasinya dibutuhkan pelembap yang ampuh sesuai dengan kondisi kulit, seperti halnya body lotion yang memiliki kadar tertentu.


Banyak yang menganggap semua body lotion itu sama, semuanya pasti memiliki kandungan yang mampu melembapkan kulit. Sehingga kulit tidak terlihat begitu kering dan kusam. Namun, yang jadi persoalan adalah seberapa kuat kandungan pelembap yang ada di dalam produk body lotion tersebut.


"Body Lotion apapun bisa kita gunakan tapi kita harus perhatikan kandungannya dan BPOM nya," ujar Brand Manager Miglioree Nisa dalam keterangan tertulis, JUmat (4/12/2020).


Nisa menjelaskan keunggulan dari Hand & Body Lotion Miglioree selain sudah BPOM Miglioree juga memiliki Bahan Aktif Centella Asiatica yang berfungsi membantu memberikan tambahan nutrisi dan protein yang diperlukan untuk menjaga kelembapan kulit sehingga kulit tetap kencang dan tidak mudah keriput.


"Selain itu juga mengandung SPF 30+ yg dapat memaksimalkan penyerapan nutrisi pada kulit, menjaga kelembapan kulit, melindungi kulit dari sinar uv dan mencegah iritasi pada kulit," jelas Nisa.


Selain Body Lotion, Rangkaian perawatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah Body Wash dan Peeling Scrub. "Untuk Body wash dan peeling scrub miglioree pun memiliki kandungan Centella Asiatica, Nano AHA, Kefir, Collagen serta Niacinamide yg membuat Miglioree Aman digunakan, tanpa efek samping dan semua produk kami sudah BPOM," tambah Nisa.

https://tendabiru21.net/movies/irreversible/

Jadi Pasien Pertama di Kota Bogor, Bima Arya Ceritakan Rasanya Kena Corona

 Wali Kota Bogor Bima Arya menceritakan rasanya saat terinfeksi virus Corona COVID-19. Kala itu, tanggal 17 Maret 2020, ia sedang rapat dengan Dinas Kesehatan dan jajarannya untuk membahas penanganan COVID-19 di Kota Bogor.

"Kita membahas satu hal yang menurut kita penting banget, orang Bogor susah banget dikasih tahu. Orang Bogor diberitahu ancaman COVID, walaupun belum ada kasusnya (saat itu), susah banget," kata Bima Arya dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Jumat (4/12/2020).


Dalam rapat tersebut, Bima Arya yang baru berpulang dari Turki merasa tidak enak badan dan menduga ini hanyalah jet lag. Hingga akhirnya, karena sedikit kesal dengan warga Bogor yang saat itu sulit diberitahu tentang bahaya COVID-19, ia mengatakan "masa harus ada yang positif baru orang Bogor ngerti bahwa COVID itu berbahaya?".


"Sejam kemudian saya ditelepon Pak Gubernur bahwa hasil swab saya positif. Jadi malam itu langsung saya dibawa ke rumah sakit dan mulailah masa-masa berat selama 22 hari di rumah sakit. Gejalanya seperti demam berdarah, lemas, pusing, mual, tapi plus batuk-batuk," jelas Bima Arya.


Bima Arya pun menjadi pasien Corona pertama di Kota Bogor. Namun, sekarang ia telah pulih dari COVID-19.


Meski begitu, Bima Arya mengaku usai sembuh dari COVID-19 hingga kini ia masih suka merasa cepat lelah dan badan seperti meriang.


"Jadi ada dua hal yang masih saya suka rasakan. Pertama, mudah lelah kadang-kadang, kalau dulu dari subuh sampai malam jalan, sekarang sore-sore kita harus sudah atur," keluhnya.


"Kedua, semriwing-semriwing, jadi kaya merasa demam meriang, tapi suhu badan normal, tapi di dalam itu kaya panas terutama saat kecapian," tuturnya.

https://tendabiru21.net/movies/lady-chatterley/


Atasi COVID-19 Tanpa Lockdown dan Masker, Bagaimana Nasib Negara Ini?


Negara ini tak menerapkan lockdown untuk menangani pandemi COVID-19. Begitu juga dengan penggunaan masker, badan kesehatan Swedia belum menyarankan pemakaian masker kepada seluruh warganya.

"Swedia belum membutuhkan masker wajah," kata seorang pejabat tinggi kesehatan pada hari Kamis, dikutip dari Reuters.


Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperbaharui pedoman COVID-19 soal masker. Termasuk siswa di atas 12 tahun wajib selalu memakai masker, baik di dalam toko, tempat kerja, sekolah yang berventilasi buruk.


Orang yang menerima tamu saat rumah memiliki ventilasi buruk juga diharuskan memakai masker.


Namun, Badan Kesehatan Swedia bersikeras untuk menahan diri merekomendasikan masker. Badan Kesehatan Swedia berdalih soal kemungkinan keefektifannya dan ketakutan bahwa masker dapat digunakan sebagai alasan untuk tidak menjalani isolasi saat mengalami gejala COVID-19.


"Masker wajah mungkin diperlukan dalam beberapa situasi. Situasi tersebut belum muncul di Swedia, menurut dialog kami dengan wilayah (perawatan kesehatan)," jelas Anders Tegnell, kepala ahli epidemiologi Swedia, mengatakan pada konferensi pers pada hari Kamis.


"WHO menjelaskan bahwa bukti untuk masker lemah. Semua penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa jauh lebih penting menjaga jarak daripada memiliki masker wajah," katanya.


Dalam upaya untuk membendung gelombang kedua yang parah, Perdana Menteri Stefan Lofven mengumumkan pada hari Kamis bahwa sekolah menengah akan beralih ke pembelajaran jarak jauh selama sisa tahun ini.


Sementara itu, Swedia mencatat 35 kematian baru COVID-19 pada hari Kamis, sehingga total kematian seluruhnya menjadi 7.007 kasus.


Dikutip dari worldometers hingga kini kasus COVID-19 di Swedia tercatat sebanyak 272.643 kasus.


Tingkat kematian per kapita Swedia beberapa kali lebih tinggi daripada negara tetangganya di Nordik, tetapi lebih rendah dari beberapa negara Eropa yang memilih untuk lockdown.

https://tendabiru21.net/movies/a-short-film-about-love/