Sabtu, 12 Desember 2020

Ketua MPR Sebut Kualitas Herbal RI Tak Kalah Dibanding China & Korea

 Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai kualitas herbal Indonesia tidak kalah dibandingkan herbal dari China maupun ginseng Korea. Ia pun mengajak pemerintah dan masyarakat mendorong berbagai perusahaan dalam negeri untuk meningkatkan kemampuan dalam mengolah berbagai bahan tersebut menjadi suplemen kesehatan.

Bamsoet juga memaparkan data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang mencatat tidak kurang dari 30.000 spesies tumbuhan maupun sumber daya laut Indonesia bisa dimanfaatkan untuk kesehatan.


"Prinsipnya, dari alam Indonesia, dikelola perusahaan Indonesia, agar bisa bermanfaat bagi bangsa Indonesia dan menembus pasar dunia," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (11/12/2020).


Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat berbincang dengan Presiden Direktur PT Harvest Gorontalo Indonesia (HGI) Riyanto yang merupakan salah satu produsen jamu herbal dalam Podcast Ngobras sampai Ngompol (Ngobrol Asyik sampai Ngomong Politik), dalam konten youtube Bamsoet Channel, hari ini.


Ketua DPR RI ke-20 ini meyakini, seiring pandemi COVID-19, popularitas jamu akan kembali meningkat. Karena masyarakat akan semakin tergerak menjaga daya tahan tubuh, salah satunya melalui herbal.


"Di tahun 2019, industri jamu dan obat tradisional mampu tumbuh di atas 6 persen. Di tahun 2020 dan selanjutnya, pertumbuhannya bisa jadi naik tajam. Pelaku industri jamu juga semakin menjamur, tercatat sudah ada lebih dari 1.200 pelaku industri jamu, sekitar 129 di antaranya masuk kategori industri obat tradisional," tutur Bamsoet.


Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini juga mengapresiasi kehadiran jamu herbal salah satunya yang diproduksi oleh PT HGI yang terdiri dari ekstraksi 18 macam buah, 14 aneka sayur, dan 7 macam rempah yang dapat membantu memenuhi nutrisi dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sehingga bisa bermanfaat untuk mencegah dan mengobati penderita COVID-19.


"Berpengalaman lebih dari 12 tahun mengembangkan jamu dari alam Indonesia, PT HGI telah mengekspor jamu herbal ke berbagai negara. Antara lain China, Canada, berbagai negara di kawasan Amerika Latin hingga Afrika. Daripada kita mengimpor jamu dari China, lebih baik menggunakan produk dalam negeri saja. Selain sudah terbukti khasiatnya, juga bisa mendatangkan nilai ekonomi bagi para petani tanaman herbal lokal," pungkasnya.

https://movieon28.com/movies/sang-pencerah/


Harga Tes Corona Ala UGM Cuma Rp 15 Ribu, Bagaimana Akurasinya?


Lebih murah dari rapid test maupun swab, tes Corona Genose besutan Universitas Gadjah Mada (UGM) hanya perlu mengeluarkan biaya 15 ribu rupiah setiap tesnya. Hal ini diungkap Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro.

Rincian dari biaya 15 ribu rupiah digunakan untuk operator, energi dan plastik khusus sebagai media pengecekan napas. Tes Corona ini mendeteksi COVID-19 melalui hembusan napas dan berlangsung selama tiga menit.


"Perkiraannya per pemeriksaannya itu, kalau dihitung sama operator, listrik, dan lalu plastiknya Rp 7-8 ribu rupiah, maka perkiraannya per satu tes itu sekitar Rp 15 ribu aja. Jadi ini murah dan akurat," jelas Bambang dalam sebuah webinar, Jumat (11/12/2020).


Bagaimana dengan akurasinya?

Beberapa waktu lalu, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, melalui uji coba tahap pertama di rumah sakit Bhayangkara, tes Corona Genose menunjukkan tingkat akurasi mencapai 97 persen.


Per Oktober lalu, uji klinis disebut akan memasuki tahap kedua dengan target 1.600 pasien atau 1.600 sampel yang dilakukan di 10 rumah sakit. Melalui uji klinis tahap kedua diharapkan tingkat akurasinya bisa lebih besar dan siap dipakai masyarakat luas.


"Saat ini sedang dilakukan uji validasi tahap kedua dari GeNose. Ini adalah inovasi dari UGM (Universitas Gadjah Mada) yang bersifat analisa atau deteksi virus COVID-19 dengan menggunakan hembusan napas kita. Ini adalah suatu inovasi yang luar biasa karena bisa mendeteksi virus COVID-19 secara akurat, di dalam uji validasi tahap pertama di suatu RS di Jogja akurasinya mencapai 97 persen dibandingkan PCR test," kata Bambang dalam konferensi pers virtual tentang Pengembangan Vaksin, Terapi dan Inovasi COVID-19 beberapa waktu lalu.


Kapan akan siap didistribusikan?

Bambang kala itu menyampaikan tes Corona Genose diperkirakan bisa disebar akhir tahun 2020 untuk digunakan pada 100 ribu pengujian. Mulai dari akhir November hingga Desember 2020.


Namun, sayangnya hingga kini tes Corona Genose masih belum bisa diedarkan ke masyarakat. Masih perlu izin edar dari Kementerian Kesehatan.


"Pada dasarnya, alat ini sudah siap semua. Siap juga diproduksi masal dan dipakai. Cuma dari pembicaraan terakhir dengan para pengembang di UGM, mereka bilang masih ada satu final report yang harus di-submit ke Kemenkes untuk dapat izin edar," jelas Bambang.

https://movieon28.com/movies/sang-kiai/

Sakit Mata Jadi Gejala COVID-19 Terbaru, Kenali Ciri-cirinya

 Sakit mata menambah daftar terbaru gejala COVID-19. Hal ini berdasarkan beberapa studi yang menemukan kaitan antara kondisi mata dan infeksi COVID-19.

Studi yang dimuat dalam jurnal BMJ Open Ophthalmology menemukan sakit mata lebih umum terjadi ketika pasien mengidap COVID-19 dan sebelum tertular. Peneliti membagikan kuesioner kepada 83 responden, menanyakan seberapa sering gejala COVID-19 sakit mata terjadi.


Baik saat terinfeksi COVID-19 maupun sebelum tertular Corona. Hasil penelitian sebelumnya menemukan ada 16 persen pasien COVID-19 yang mengalami gejala ini.


Sementara itu, ada 18 persen yang mengidap fotofobia atau sensitivitas cahaya sebelum tertular COVID-19. Hanya 5 persen dari responden pasien COVID-19 yang mengalami gejala ini sebelum terpapar Corona.


Ada 81 persen pasien COVID-19 yang melaporkan sakit mata dua minggu usai terpapar Corona. Gejala paling umum yang dirasakan pasien COVID-19 adalah kelelahan sebanyak 90 persen responden.


Sementara 76 persen lainnya mengalami demam dan 66 persen pasien mengeluhkan batuk kering.


"Meskipun penting bahwa gejala mata dimasukkan dalam daftar kemungkinan gejala COVID-19, kami berpendapat bahwa sakit mata harus menggantikan 'konjungtivitis' karena penting untuk membedakan dari gejala jenis infeksi lain, seperti infeksi bakteri, yang mana bermanifestasi sebagai keluarnya lendir atau mata berpasir," jelas para peneliti.


"Studi ini penting karena membantu kami lebih memahami tentang bagaimana COVID-19 dapat menginfeksi konjungtiva dan bagaimana ini kemudian memungkinkan virus menyebar ke seluruh tubuh," lanjut keterangan studi.


Lalu bagaimana ciri-ciri sakit mata yang menjadi gejala COVID-19?

Sebelum semakin umum dilaporkan, ilmuwan China sempat mengklaim COVID-19 bisa menular dari mata, salah satu tandanya adalah mata berair.


Pada Februari lalu, 12 pasien COVID-19 dalam studi mereka, tujuh di antaranya memproduksi lebih banyak air mata daripada biasanya yang disebut sebagai epifora.


Kondisi ini menyebabkan mata merah, pegal, penglihatan kabur, hingga rasa sakit yang tajam di mata, meskipun belum tentu karena virus Corona. Berikut detail ciri-cirinya.


Mata memerah

Mata terasa terbakar atau berpasir

Keluar cairan dari satu atau kedua mata

Nanah menempel di bulu mata

Timbul rasa gatal dan kemerahan pada mata

https://movieon28.com/movies/perjanjian-dengan-iblis/


Ketua MPR Sebut Kualitas Herbal RI Tak Kalah Dibanding China & Korea


Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai kualitas herbal Indonesia tidak kalah dibandingkan herbal dari China maupun ginseng Korea. Ia pun mengajak pemerintah dan masyarakat mendorong berbagai perusahaan dalam negeri untuk meningkatkan kemampuan dalam mengolah berbagai bahan tersebut menjadi suplemen kesehatan.

Bamsoet juga memaparkan data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang mencatat tidak kurang dari 30.000 spesies tumbuhan maupun sumber daya laut Indonesia bisa dimanfaatkan untuk kesehatan.


"Prinsipnya, dari alam Indonesia, dikelola perusahaan Indonesia, agar bisa bermanfaat bagi bangsa Indonesia dan menembus pasar dunia," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (11/12/2020).


Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat berbincang dengan Presiden Direktur PT Harvest Gorontalo Indonesia (HGI) Riyanto yang merupakan salah satu produsen jamu herbal dalam Podcast Ngobras sampai Ngompol (Ngobrol Asyik sampai Ngomong Politik), dalam konten youtube Bamsoet Channel, hari ini.


Ketua DPR RI ke-20 ini meyakini, seiring pandemi COVID-19, popularitas jamu akan kembali meningkat. Karena masyarakat akan semakin tergerak menjaga daya tahan tubuh, salah satunya melalui herbal.


"Di tahun 2019, industri jamu dan obat tradisional mampu tumbuh di atas 6 persen. Di tahun 2020 dan selanjutnya, pertumbuhannya bisa jadi naik tajam. Pelaku industri jamu juga semakin menjamur, tercatat sudah ada lebih dari 1.200 pelaku industri jamu, sekitar 129 di antaranya masuk kategori industri obat tradisional," tutur Bamsoet.

https://movieon28.com/movies/milly-mamet/