Rabu, 06 Januari 2021

8 Tanda-tanda Gejala COVID-19 Terbaru yang Tak Boleh Diabaikan

  Tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru kini semakin banyak yang diketahui. Umumnya, gejala COVID-19 yang banyak dialami di antaranya demam, batuk, hingga sesak napas.

Salah satu tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru yang belum lama diketahui adalah parosmia atau gangguan pada indra penciuman pasien Corona. Gejala satu ini termasuk aneh dan unik yang dialami oleh pasien COVID-19.


Untuk lebih mengetahuinya, tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru yang perlu diketahui dan diwaspadai.

1. Parosmia

Dikutip dari Healthline, parosmia atau distorsi penciuman ini menyebabkan penderitanya mengalami 'halusinasi penciuman'. Misalnya bau harum mungkin akan tercium busuk di indra penciumannya.


Seorang ahli bedah telinga, hidung, tenggorokan (THT), Profesor Nirmal Kumar menjelaskan gejala satu ini cukup unik dan aneh. Hal ini pun pernah dialami oleh dua pasiennya.


"Yang satu mengatakan saat mencium aroma, bau yang mereka rasakan adalah seperti bau ikan. Dan yang lainnya mencium bau terbakar, meski di sekitarnya tidak ada asap," kata Profesor Kumar yang dikutip dari Daily Star.


"Kami menyebutnya virus neurotropik. Artinya, virus ini mempengaruhi saraf di atap hidung, seperti gangguan pada sistem saraf Anda, dan saraf tidak berfungsi," lanjutnya.


2. Delirium

Tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru lainnya adalah delirium. Ini merupakan gejala mental yang membuat pengidapnya mengalami kebingungan berat dan kesadaran yang berkurang akibat terganggunya sistem saraf pusat. Umumnya, gejala COVID-19 terbaru ini muncul pada kelompok lanjut usia atau lansia.


"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," kata peneliti dari University of Catalonia, Javier Correa.


3. Kelelahan

Kelelahan juga termasuk ke dalam tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru yang banyak dialami pasien Corona. Berdasarkan studi yang di publikasi di Journal of the American Medical Association (JAMA), ini jadi salah satu gejala yang bisa bertahan lama setelah seseorang terinfeksi COVID-19.


Dari studi ini ditemukan sebanyak 53 persen pasien Corona mengalami gejala kelelahan selama sekitar 60 hari, setelah gejala COVID-19 pertama kali muncul.


4. Sakit mata

Berdasarkan studi di Anglia Ruskin University (ARU), Inggris, sebanyak 18 persen pasien Corona mengalami salah satu gejala baru yaitu fotofobia atau sensitivitas cahaya.

Dari 83 responden, 81 persennya melaporkan adanya masalah mata dalam dua minggu pasca gejala COVID-19 lainnya muncul. Dari jumlah tersebut, 80 persen melaporkan masalah mata yang mereka alami berlangsung selama kurang dari dua minggu.


"Ini adalah studi pertama yang menyelidiki berbagai gejala mata yang mengindikasikan konjungtivitis dalam kaitannya dengan COVID-19, kerangka waktunya dalam kaitannya dengan gejala COVID-19 yang diketahui dan durasinya," jelas penulis utama Profesor Shahina Pardhan, Direktur Vision and Eye Research Institute di ARU.

https://trimay98.com/movies/the-victim/


5. Masalah pencernaan

Sebuah studi mengungkapkan infeksi virus Corona bisa mengakibatkan masalah pencernaan, seperti diare dan muntah-muntah. Umumnya, tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru ini terjadi disertai dengan gejala Corona lainnya.


Meski begitu, hanya empat persen orang yang didiagnosis positif COVID-19 dengan diare dan muntah sebagai gejala tunggal tanpa adanya gejala penyerta.


6. Nyeri otot

Penelitian yang dipublikasi di The Journal Annals of Clinical and Translational Neurology menemukan sebanyak 44,8 persen relawan yang berpartisipasi dalam studi ini mengalami nyeri otot akibat COVID-19.


Rasa nyeri yang muncul ini mungkin disebabkan akibat peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat infeksi virus Corona. Tak hanya pasien Corona saja, orang yang sudah sembuh dari infeksi Corona juga bisa mengalami nyeri otot ini.


7. Ruam kulit

Tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru yang juga sudah dialami pasien COVID-19 adalah ruam di kulit. Menurut dokter kulit dari DNI Skin Centre, Dr dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK(K), FINSDV, FAADV, infeksi virus Corona bisa menyebabkan ruam kulit. Namun, cenderung bersifat ringan dan tidak berisiko fatal.


"Kemungkinan muncul ruam pada pasien COVID itu bervariasi risikonya sekitar 0,2-20 persen," jelas dr Darma.


8. Hilang kemampuan indra penciuman dan perasa

Kehilangan kemampuan indra penciuman dan perasa atau anosmia juga termasuk sebagai tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru yang banyak dialami. Bahkan butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sampai fungsi indra tersebut kembali normal.


Beberapa pasien yang mengalami gejala COVID-19 ini seringkali membutuhkan perawatan hingga terapi. Hal ini dilakukan untuk 'memperbaiki' otak agar bisa mengenali rasa, baru, dan aroma yang akurat seperti sebelumnya.

https://trimay98.com/movies/class-of-nuke-em-high/

Dialami Kalina Oktarani, Bagaimana Bedanya Gejala COVID-19 dan Gejala Tipes?

  Kalina Oktarani menambah daftar figur publik yang terpapar COVID-19. Ia positif terpapar Corona seperti dikabarkan putranya, Azka Corbuzier.

Kalina Oktarani kini tengah menjalani perawatan. Azka mendoakan sang ibu agar lekas pulih seperti sedia kala.


"Just wanted to say get well soon ma, I pray that soon you will beat COVID and get cured of it.. hope you all the best, and hopefully we can talk more once you're better.. just the both of us.. I love you," ungkap Azka seperti dilihat di unggahan terbarunya di Instagram, Rabu (4/1/2021).


Sebelum dinyatakan positif COVID-19, Kalina disebut mengidap tipes dan harus dirawat di rumah sakit. Vicky Prasetyo menyebut Kalina mengalami demam tinggi.


"Kayak kecapean, terus demam. Kan tipes, tensi sama suhunya tidak stabil. Mudah-mudahan kondisinya lebih baik karena mau lamaran kan dua minggu ke depan," kata Vicky Prasetyo di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (4/1/2021).


Gejala COVID-19 dan tipes kerap tak bisa dibedakan karena sama-sama memicu kondisi demam tinggi. Namun, apa bedanya gejala COVID-19 dan gejala tipes?


Berikut perbedaannya dikutip detikcom dari berbagai sumber.


1. Gejala tipes

Dalam pengertian sehari-hari, yang dimaksud penyakit tipes adalah demam typhoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella. Tipes dalam keseharian berbeda dengan pengertian typhus yang sebenarnya, yakni penyakit mematikan yang dipicu infeksi bakteri Rickettsia.


Berbeda dengan gejala COVID-19, gejala tipes biasanya muncul pada satu hingga tiga minggu usai tubuh terpapar bakteri. Gejala yang muncul mulai dari demam tinggi, diare, sakit kepala, dan sakit perut.


Bahkan kondisinya bisa memburuk terus selama beberapa minggu. Jika tak ditangani, gejala tipes ini akan memicu komplikasi pada sistem pencernaan.


Pengobatan gejala tipes di awal terpapar, biasanya bisa diberikan antibiotik selama satu hingga dua pekan.


2. Gejala virus Corona

Gejala COVID-19 hingga kini dilaporkan semakin beragam, bahkan terbaru parosmia dan cegukan dicatat menjadi tanda baru terinfeksi Corona. Lantas bagaimana membedakannya dengan gejala tipes?


Umumnya, demam tinggi karena gejala tipes tidak langsung muncul di awal terpapar, berbeda dengan demam karena gejala COVID-19 yang langsung tinggi di awal terinfeksi. Gejala virus Corona ringan juga meliput sakit kepala, sakit tenggorokan, hingga merasa tak enak badan.


Adapun gejala Corona tak biasa lainnya termasuk kelelahan, sakit mata, dan masalah pencernaan. Sementara gejala yang memicu kondisi fatal biasanya ditandai dengan pneumonia, sesak napas, hingga nyeri dada.

https://trimay98.com/movies/daughter-in-law-2/


8 Tanda-tanda Gejala COVID-19 Terbaru yang Tak Boleh Diabaikan


 Tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru kini semakin banyak yang diketahui. Umumnya, gejala COVID-19 yang banyak dialami di antaranya demam, batuk, hingga sesak napas.

Salah satu tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru yang belum lama diketahui adalah parosmia atau gangguan pada indra penciuman pasien Corona. Gejala satu ini termasuk aneh dan unik yang dialami oleh pasien COVID-19.


Untuk lebih mengetahuinya, tanda-tanda gejala COVID-19 terbaru yang perlu diketahui dan diwaspadai.

1. Parosmia

Dikutip dari Healthline, parosmia atau distorsi penciuman ini menyebabkan penderitanya mengalami 'halusinasi penciuman'. Misalnya bau harum mungkin akan tercium busuk di indra penciumannya.


Seorang ahli bedah telinga, hidung, tenggorokan (THT), Profesor Nirmal Kumar menjelaskan gejala satu ini cukup unik dan aneh. Hal ini pun pernah dialami oleh dua pasiennya.


"Yang satu mengatakan saat mencium aroma, bau yang mereka rasakan adalah seperti bau ikan. Dan yang lainnya mencium bau terbakar, meski di sekitarnya tidak ada asap," kata Profesor Kumar yang dikutip dari Daily Star.


"Kami menyebutnya virus neurotropik. Artinya, virus ini mempengaruhi saraf di atap hidung, seperti gangguan pada sistem saraf Anda, dan saraf tidak berfungsi," lanjutnya.

https://trimay98.com/movies/daughter-in-law/