Rabu, 06 Januari 2021

Terus Bertambah, Kasus COVID-19 Diduga Tertular dari Baju Kini Jadi 51 Orang

  Klaster Corona baru terjadi di California. Penularannya diduga terjadi lewat baju santa yang dipakai staf medis setempat saat acara Natal.

Mulanya hanya 44 kasus COVID-19 yang ditemukan berkaitan. Kini jumlah bertambah terus melebihi 50 orang.


Menurut Departemen Kesehatan Masyarakat Santa Clara County, saat ini jumlah kasus yang dikonfirmasi terkait kasus tersebut menjadi 51 orang, salah satunya meninggal dunia. Semua orang yang terinfeksi merupakan karyawan di Kaiser San Jose Medical Center tersebut.


Sebelumnya, juru bicara RS San Jose Medical Center Irene Chavez menjelaskan jumlah orang yang terinfeksi 44 orang, antara 27 Desember hingga hari pertama 2021.


"Setiap paparan atau penularan, jika itu terjadi, akan benar-benar tidak bersalah, dan sangat tidak disengaja, karena individu tersebut tidak memiliki gejala COVID... Hanya berusaha untuk membangkitkan semangat orang-orang di sekitar mereka selama masa yang sangat menegangkan ini," jelas Chavez yang dikutip dari Fox News, Rabu (6/1/2021).


"Jelas, kami tidak akan lagi mengizinkan kostum bertenaga udara di fasilitas kami. Pada saat yang sama, kami mengambil langkah-langkah untuk memperkuat kewaspadaan di antara staf. Termasuk menjaga jarak secara fisik dan tidak berkumpul di ruang istirahat, tidak berbagi makanan, minuman, bahkan masker sama sekali," lanjutnya.


Klaster COVID-19 ini berawal saat salah satu dari mereka menggunakan baju santa yang memiliki aksesoris seperti 'kipas' saat merayakan natal bersama. Chavez menduga faktor penularan tersebut berasal dari baju itu dan masih akan terus diselidiki.


Namun, seorang profesor di University of Colorado Boulder Jose-Luis Jimenez, mengatakan 'kipas' yang ada dalam baju tersebut dapat membantu penyebaran droplet ke seluruh ruangan.


"Ini seperti kasus paduan suara," katanya, dikutip dari Daily Star.


"Tidak ada cara untuk menginfeksi 43 orang saat Anda mengenakan kostum selain melalui transmisi udara, melalui aerosol, karena Anda berada di dalam kostum dan tidak dapat menyentuh benda atau membuat orang terinfeksi melalui permukaan," jelasnya.

https://trimay98.com/movies/the-girl-next-door/


Awalnya Menyambut, Kenapa China Kini 'Halangi' Tim Investigasi WHO?


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui sejak bulan Juli 2020 berusaha mengirim tim peneliti internasional ke China untuk menginvestigasi asal-usul virus Corona penyebab COVID-19. China sempat dikabarkan akan bekerja sama, namun kini terkuak tim tidak mendapat izin masuk.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah China. Tedros menekankan ini adalah misi penting bagi dunia internasional.


"Saya sangat kecewa dengan kabar ini. Mengingat dua anggota dari tim sudah berangkat dan yang lain membatalkan kepergiannya di momen-momen terakhir," kata Tedros seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (6/1/2021).


Dikutip dari Reuters, ebelumnya juru bicara untuk Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, pada hari Senin (4/1/2021), berkomentar akan menyambut tim dari WHO. Berkali-kali otoritas di China membantah menyembunyikan informasi penting terkait virus, bersikeras telah terbuka sejak awal pandemi.


Kepala Global Health Centre di Jenewa, Ilona Kickbusch, menyebut ketegangan geopolitik saat ini menghalangi berbagai upaya negara-negara bersatu menghadapi COVID-19. Termasuk di antaranya upaya untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya pandemi ini bermula.


"Saya pikir sekarang akan sangat sulit mencari tahu dari mana virus berasal. Sudah banyak waktu yang terlewatkan," kata Ilona.


Belakangan diplomat senior China, Wang Yi, mengklaim banyak studi menunjukkan COVID-19 muncul di berbagai wilayah sebelum meledak jadi pandemi. Komentar ini dianggap oleh beberapa pengamat sebagai upaya China untuk membentuk atau mempengaruhi narasi global terkait asal-usul COVID-19.

https://trimay98.com/movies/a-secret-experience-of-delicious-sex-directors-cut/

Jokowi Singgung Lockdown di Negara Lain, Indonesia Menyusul?

 Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatas dengan gubernur mengatakan saat ini tingkat disiplin protokol kesehatan masyarakat mulai menurun yang akan berdampak pada penyebaran COVID-19.

Dalam kesempatan tersebut Jokowi juga menyinggung beberapa negara yang kembali lockdown karena penyebaran COVID-19 sangat masif.


"Kita tahu dua hari lalu, tiga hari lalu Bangkok lockdown, Tokyo dinyatakan dalam keadaan darurat, London juga lockdown, kemudian juga di seluruh Inggris di-lockdown karena penyebaran COVID yang sangat eksponensial," kata Jokowi dalam ratas yang disiarkan virtual di akun YouTube Satpres, Rabu (6/1/2021).


Dari gambaran survei terlihat tingkat kedisiplinan masyarakat mulai kendur. Ia meminta para kepala daerah untuk lebih tegas dalam mengawasi 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.


"Saya minta kepada para gubernur agar menggencarkan kembali masalah yang berkaitan dengan kedisiplinan protokol kesehatan. Disiplin terhadap protokol kesehatan," ujarnya.


Lebih lanjut, ia juga menyampaikan target pemerintah untuk distribusi dan pelaksanaan vaksin di bulan Januari ini hingga 5,8 juta yang akan berlanjut secara bertahap dan berjenjang ke bulan-bulan selanjutnya.


"Oleh sebab itu saya minta kesiapan kita dalam rangka menuju vaksinasi ini betul-betul agar dicek dan dikontrol oleh para gubernur," ujarnya.

https://trimay98.com/movies/is-there-an-empty-room-here/


Terus Bertambah, Kasus COVID-19 Diduga Tertular dari Baju Kini Jadi 51 Orang


 Klaster Corona baru terjadi di California. Penularannya diduga terjadi lewat baju santa yang dipakai staf medis setempat saat acara Natal.

Mulanya hanya 44 kasus COVID-19 yang ditemukan berkaitan. Kini jumlah bertambah terus melebihi 50 orang.


Menurut Departemen Kesehatan Masyarakat Santa Clara County, saat ini jumlah kasus yang dikonfirmasi terkait kasus tersebut menjadi 51 orang, salah satunya meninggal dunia. Semua orang yang terinfeksi merupakan karyawan di Kaiser San Jose Medical Center tersebut.


Sebelumnya, juru bicara RS San Jose Medical Center Irene Chavez menjelaskan jumlah orang yang terinfeksi 44 orang, antara 27 Desember hingga hari pertama 2021.


"Setiap paparan atau penularan, jika itu terjadi, akan benar-benar tidak bersalah, dan sangat tidak disengaja, karena individu tersebut tidak memiliki gejala COVID... Hanya berusaha untuk membangkitkan semangat orang-orang di sekitar mereka selama masa yang sangat menegangkan ini," jelas Chavez yang dikutip dari Fox News, Rabu (6/1/2021).


"Jelas, kami tidak akan lagi mengizinkan kostum bertenaga udara di fasilitas kami. Pada saat yang sama, kami mengambil langkah-langkah untuk memperkuat kewaspadaan di antara staf. Termasuk menjaga jarak secara fisik dan tidak berkumpul di ruang istirahat, tidak berbagi makanan, minuman, bahkan masker sama sekali," lanjutnya.


Klaster COVID-19 ini berawal saat salah satu dari mereka menggunakan baju santa yang memiliki aksesoris seperti 'kipas' saat merayakan natal bersama. Chavez menduga faktor penularan tersebut berasal dari baju itu dan masih akan terus diselidiki.


Namun, seorang profesor di University of Colorado Boulder Jose-Luis Jimenez, mengatakan 'kipas' yang ada dalam baju tersebut dapat membantu penyebaran droplet ke seluruh ruangan.


"Ini seperti kasus paduan suara," katanya, dikutip dari Daily Star.


"Tidak ada cara untuk menginfeksi 43 orang saat Anda mengenakan kostum selain melalui transmisi udara, melalui aerosol, karena Anda berada di dalam kostum dan tidak dapat menyentuh benda atau membuat orang terinfeksi melalui permukaan," jelasnya.

https://trimay98.com/movies/tasty-working-girl/