Selasa, 02 Maret 2021

Sempat Turun Selama Enam Minggu, Kasus Baru COVID-19 Dunia Naik Lagi

 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan jumlah kasus baru COVID-19 selama sepekan terakhir mengalami peningkatan. Padahal sebelumnya sudah enam minggu berturut-turut kasus baru COVID-19 tampak dapat ditekan dan terus menurun.

"Anda mungkin ingat saya mengumumkan penurunan kasus yang terjadi selama enam minggu berturut-turut, tapi untuk pertama kalinya di minggu ketujuh, kita melihat peningkatan," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (2/3/2021).


Tidak dijelaskan lebih detail seberapa jauh peningkatan yang terjadi. Hanya saja diketahui dalam laporan epidemiologi 21 Februari lalu, WHO menyebut ada sekitar 2,4 juta kasus COVID-19 dan 66.000 kematian dalam sepekan.


Tedros menyebut situasi ini sebagai kabar yang mengecewakan, namun tidak mengejutkan. Ia menduga penyebabnya karena ada negara yang mulai melonggarkan protokol kesehatan dan masyarakat yang tidak disiplin karena merasa aman dengan kehadiran vaksin.


Ditambah lagi dengan kemunculan varian-varian baru COVID-19 yang bersifat lebih mudah menular.


"Vaksin akan membantu menyelamatkan nyawa. Tapi bila suatu negara hanya mengandalkan vaksin saja, mereka melakukan sebuah kesalahan," kata Tedros.


"Upaya protokol kesehatan masih menjadi dasar utama respons pandemi. Bagi otoritas kesehatan artinya pengetesan, pelacakan kasus, isolasi, karantina dan perawatan. Sementara untuk individu artinya menjauhi kerumunan, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, dan atur ventilasi," papar Tedros.

https://kamumovie28.com/movies/galaxy-turnpike/


Sederet Barang Ini Pernah Langka di Pasaran Imbas COVID-19, Masih Ingat?


 Tak terasa sudah setahun lamanya virus Corona COVID-19 mewabah di Indonesia. Munculnya virus ini pun sempat memicu kepanikan di masyarakat.

Akibatnya, berbagai barang yang dipercaya dapat mencegah penularan virus Corona sempat langka di pasaran. Dirangkum detikcom, berikut sejumlah barang yang pernah langka di pasaran akibat wabah COVID-19 di Indonesia.


Masker bedah

Sebelum virus Corona masuk ke Indonesia, masker bedah sudah langka di pasaran. Bahkan seandainya ada pun bisa langsung habis dalam waktu kurang dari sehari. Kala itu, kelangkaan masker tak hanya dirasakan oleh para pembeli, tetapi juga penjual.


"Iya lagi langka. Nanti juga kalau ke sini lagi agak siangan juga sudah habis. Makanya kalau mau itu (masker) dari pagi-pagi, stok masih ada," jelas penjaga apotek di Jakarta, Rahmawati, pada detikcom, Rabu (5/2/2020).


Masker N95

Meski masker N95 diperuntukkan untuk tenaga medis, namun masker ini sempat langka di pasaran. Pasalnya, banyak orang berbondong-bondong mencari masker N95, karena takut tertular COVID-19.


Masker N95 merupakan salah satu jenis masker yang memiliki kemampuan dalam mencegah partikel virus berukuran kecil. Oleh karena itu, masker ini sempat banyak dicari oleh masyarakat.


"Kosong itu kosong, sudah lama nggak stok harganya gila banget semenjak booming soal virus Corona," keluh Neni, salah satu pegawai Apotek Titi Murni 128, Jakarta, Rabu (5/2/2020)


Tak tanggung-tanggung harganya sempat mencapai Rp 3 juta per 10 pcs di toko online, yang harga normalnya hanya Rp 20 ribu per pcs.


Hand sanitizer

Disebut praktis dalam membunuh bakteri dan virus, hand sanitizer juga sempat mengalami kelangkaan di pasaran.


Berdasarkan pantauan detikcom kala itu pada bulan Maret 2020 di berbagai minimarket di kawasan Depok, tak ada satu pun hand sanitizer yang tersisa di tempat-tempat tersebut.


"Hand sanitizer semuanya kosong Kak, sudah lama dari semenjak gosip-gosip (COVID-19) itu sudah nggak ada," ucap Dian, pegawai di salah satu minimarket pada detikcom di kawasan Depok, Selasa (3/3/2020).


Imbasnya, tak sedikit orang yang nekat untuk melakukan isi ulang hand sanitizer di ruang publik, seperti KRL dan MRT, yang menyediakan hand sanitizer di beberapa titik untuk umum.


"Kalau hand sanitizer habis di mana-mana, yang akan kulakukan mungkin isi ulang pakai handrub kantor," kata salah satu pengguna Twitter.

https://kamumovie28.com/movies/electric-blue-41/

Kilas Balik Setahun Corona: Cerita Masker Langka, Harganya Sampai Jutaan

 Pada 2 Maret 2020, tepat setahun lalu, presiden Jokowi resmi mengumumkan pasien positif COVID-19 pertama di Indonesia. Baik masyarakat di Indonesia maupun dunia saat itu, belum benar-benar siap mengalami virus corona.

Tak lama dari munculnya kasus positif di Indonesia, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pengumuman itu diungkap Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus Kepala World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020.


Ketidaksiapan menghadapi pandemi ini ditandai dengan berbagai kabar yang simpang siur, khususnya mengenai penggunaan masker.


Masker pada saat itu menjadi perbincangan yang pelik, apakah perlu digunakan atau tidak? Sempat dianjurkan tak pakai masker, begini kilas balik penggunaan masker.


Masker awalnya untuk pasien sakit

Di awal pandemi COVID-19 masuk Indonesia, hingga kasus pertama diumumkan, penggunaan masker selain oleh pasien dan tenaga kesehatan memang tidak disarankan.


Kebijakan ini mengikuti saran WHO yang memang memprioritaskan penggunaan masker bagi yang berisiko.


"Karena itu saya menekankan dari WHO mengatakan yang pakai (masker) itu yang sakit, yang kedua yang bekerja di tempat risiko tinggi RS dengan penyakit infeksi, di ICU pun kalau bukan penyakit menular nggak pakai mereka. Sama saja mereka hanya cuci tangan, atau di kamar operasi. Jadi semua di tempat-tempat yang berisiko pakai masker," sebut Menteri Kesehatan saat itu, Terawan Agus Putranto, Senin (17/2/2020).


"Yang tidak berisiko, masyarakat sehat tidak perlu pakai masker," tegasnya saat itu.

https://kamumovie28.com/movies/sarah-young-the-goddess-of-love-2/


Masker langka dan mahal

Siapa sangka, anjuran tersebut lantas berubah. Hal ini dikarenakan para pakar pun masih mempelajari COVID-19, virus Corona yang kala itu masih diberi nama n-CoV 2019.


Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dan WHO mengeluarkan rekomendasi baru, masker perlu dipakai untuk mencegah orang sakit karena Corona. Namun akibatnya, masker menjadi barang langka dan dijual mahal di beberapa e-commerce.


Masker kain naik pamor

Imbas kelangkaan masker, CDC dan WHO mengimbau masyarakat menggunakan masker kain. Sebab, masker medis lebih disarankan untuk para tenaga kesehatan, terlebih saat berada di zona risiko COVID-19.


George Rutherford, MD epidemolog University of California San Fransisco (UCSF) mengatakan bahwa himbauan CDC masuk akal mengingat terbatasnya persediaan masker. Ia menambahkan, masker bedah dan N95 harus disimpan untuk petugas kesehatan.


Larangan masker scuba di KRL

Saat masker kain ngehits, jenis masker scuba paling banyak diminati. Tidak lain tidak bukan karena bahannya yang cenderung tipis dan membuat beberapa orang seperti lebih 'lega' bernapas saat memakai masker jenis scuba.


Ada pro kontra di balik penggunaan masker scuba hingga akhirnya dilarang mengenakan jenis masker ini bagi para pengguna KRL.


"Masker kain 2-3 lapis dan masker kesehatan mengurangi penyebaran droplet yang masih mungkin terjadi," jelas VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba, saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2020).


SNI untuk masker

Imbas aturan masker yang benar dan paling aman kerap berubah dan begitu banyak jenisnya, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait masker kain.


Berdasarkan standar SNI, masker kain harus terdiri dari minimal dua lapis kain. Namun, aturan ini tidak lantas mewajibkan semua produsen masker kain mengikuti ketentuan SNI yang ditetapkan BSN.


"Saat ini SNI Masker dari Kain bersifat sukarela, yang artinya produsen masker tidak wajib memproduksi masker sesuai SNI tersebut dan tidak wajib untuk di sertifikasi," sebut Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Kerja Sama, dan Layanan Informasi BSN, Zul Amri, kepada detikcom Jumat (25/9/2020).

https://kamumovie28.com/movies/the-love-goddesses/