Jumat, 05 Maret 2021

Golongan Darah Ini Lebih Rentan COVID-19, Mau Tahu Alasannya?

 Sebuah studi terbaru membuktikan bahwa seseorang dengan golongan darah tertentu memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular COVID-19. Dalam studi tersebut dijelaskan bahwa virus SARS-CoV-2 ternyata tertarik pada antigen golongan darah A yang ditemukan pada sel pernapasan.

Pada penelitian tersebut, para peneliti fokus pada protein reseptor binding domain (RBD) yang terdapat pada permukaan SARS-CoV-2 dan merupakan bagian virus yang menempel pada sel inang. RBD SARS-CoV-2 itulah yang dijadikan target penelitian untuk dipelajari bagaimana COVID-19 dapat menginfeksi manusia.


Lebih lanjut, studi tersebut memaparkan bagaimana RBD SARS-CoV-2 berinteraksi dengan sel darah merah dan pernapasan dalam golongan darah A, B, serta O. Menurut hasil penelitian yang diunggah ke jurnal Blood Advances pada 3 Maret itu, RBD SARS-CoV-2 ternyata memiliki preferensi kuat untuk mengikat golongan darah A yang ditemukan di sel pernapasan.


Namun, pada golongan darah lain yang ditemukan pada sel penapasan atau sel darah merah, RBD SARS-CoV-2 tidak memiliki preferensi seperti pada golongan darah A. Pada pasien dengan golongan darah A, preferensi RBD SARS-CoV-2 dapat mengenali dan menempel pada antigen di golongan darah A serta ditemukan di paru-paru pasien.


"Menarik bahwa RBD virus hanya benar-benar lebih menyukai jenis antigen golongan darah A yang ada pada sel pernapasan, yang mungkin merupakan cara virus memasuki sebagian besar pasien dan menginfeksi mereka," ungkap penulis studi Dr. Sean Stowell, dari Brigham dan Rumah Sakit Wanita di Boston, dikutip dari MedicalXpress.


Hal ini lah yang kemudian dapat membantu para peneliti mendapatkan wawasan mengenai hubungan potensial antara golongan darah A serta infeksi COVID-19.


"Golongan darah merupakan tantangan karena diturunkan dan bukan sesuatu yang bisa kami ubah. Tetapi jika kami dapat lebih memahami bagaimana virus berinteraksi dengan golongan darah pada manusia, kami mungkin dapat menemukan obat-obatan baru atau metode pencegahan," lanjutnya.


Tetapi, peneliti juga melampirkan catatan yang menjelaskan bahwa temuan ini rupanya masih belum dapat sepenuhnya menggambarkan atau memprediksi bagaimana COVID-19 akan mempengaruhi pasien dari berbagai golongan darah.

https://indomovie28.net/movies/underwater-3/


4 Gejala COVID-19 yang Paling Bertahan Lama


Melawan infeksi COVID-19 bisa menjadi pertempuran yang panjang dan sulit. Pada saat yang sama, ada juga beberapa tanda dan gejala yang membutuhkan waktu sangat lama untuk hilang.

Bahkan setelah dites negatif untuk virus Corona, beberapa pasien melaporkan banyak masalah, yang memengaruhi mereka secara fisik dan mental.


Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan oleh University of Washington pada 177 orang yang positif Corona, ada beberapa gejala yang lebih umum dan mungkin membutuhkan waktu paling lama untuk hilang.


Berikut di antaranya dikutip dari berbagai sumber:


1. Anosmia

Untuk pasien yang mengidap anosmia, mendapatkan kembali indra penciuman yang rusak akibat Corona bisa sangat sulit. Anosmia pada beberapa pasien bisa menjadi gejala yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.


Menurut para ilmuwan, salah satu alasan utama yang menyebabkan anosmia lama untuk pulih disebabkan karena virus menyerang sel-sel di area indra penciuman.


Meskipun tidak akan hilang secara permanen, melakukan pelatihan penciuman atau aktivitas rutin yang mengaktifkan indra bisa menjadi cara untuk sembuh lebih cepat.


2. Kelelahan ekstrem

Saat ini, mengalami kelelahan ekstrem juga jadi salah satu gejala pasien yang dikeluhkan pasien COVID-19, berminggu-minggu setelah didiagnosa penyakit tersebut.


sementara para peneliti masih mencari hubungan antara kelelahan ekstrim dan COVID-19, mengatasi kelelahan akibat COVID-19 bisa dilakukan dengan cara banyak beristirahat. Tidak memaksakan diri untuk melakukan ragam aktivitas yang berat.

https://indomovie28.net/movies/underwater-2/

Pakar UGM Ungkap Alasan untuk Tak Terlalu Mencemaskan Corona B117

  Varian Corona Inggris B117 yang disebut lebih cepat menular dan menyebar dibanding virus Corona dari Wuhan, China terdeteksi sudah masuk ke Indonesia. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM meminta masyarakat tidak perlu khawatir.

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM dr Gunadi mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan varian baru tersebut. Pasalnya, tidak ada laporan soal hubungan antara varian Inggris ini dengan derajat keparahan pasien COVID-19.


"Riset awal bulan Desember menyatakan tidak ada hubungan antara varian Inggris ini dengan derajat keparahan pasien COVID-19. Riset terbaru menunjukkan bahwa varian ini meningkatkan risiko derajat berat pasien. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (4/3/2021).


Terkait adanya isu bahwa varian virus Corona baru tersebut kebal dari vaksin, Gunadi menampiknya. Mengingat dari data riset menunjukkan varian ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap efikasi vaksin.


"Info itu tidak benar, data riset menunjukkan bahwa varian ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap efikasi vaksin yang sudah beredar, Pfizer, Moderna, AstraZeneca, maupun Sinovac," ucapnya.


Dia menambahkan, untuk mengantisipasi penyebaran varian Inggris ini pemerintah melalui Satgas COVID-19 harus melakukan contact tracing dengan tepat dan cepat, terutama pasien dari perjalanan luar negeri. Selanjutnya, terus meningkatkan surveilans genomik serta membatasi mobilitas warga yang tidak perlu.


Sedangkan untuk mengantisipasi agar tidak terinfeksi mutasi varian Inggris ini, warga masyarakat diharapkan tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat dengan selalu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dengan menghindari kerumunan.


"Masyarakat boleh waspada dengan adanya mutasi baru tersebut, namun tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan. Masyarakat tetap harus menerapkan 3M," ujarnya.


Diberitakan sebelumnya, bertepatan dengan peringatan setahun Corona di Indonesia, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono melaporkan temuan 2 kasus mutasi virus Corona B117 asal Inggris di Indonesia. Ini menjadi kasus pertama di Indonesia sejak varian tersebut sejak mewabah di Inggris September 2020.


"Tepat 1 tahun hari ini, kita menemukan mutasi B117, UK mutation, di Indonesia. Ini fresh from the oven, baru tadi malam ditemukan 2 kasus," ujarnya dalam acara virtual peringatan 1 tahun pandemi oleh akun YouTube Kemenristek/BRIN, Selasa (2/3).


Wamenkes Dante menyebut, dengan ditemukannya kasus ini, penanganan pandemi di Indonesia akan semakin sulit. Dikutip dari USS Today, mutasi virus Corona B117 ditemukan pertama kali di Inggris pada September 2020.


Dikhawatirkan, kasus COVID-19 akibat varian baru ini lebih berbahaya. Pasalnya, penularannya lebih mudah dan cepat.

https://indomovie28.net/movies/underwater/


Golongan Darah Ini Lebih Rentan COVID-19, Mau Tahu Alasannya?


Sebuah studi terbaru membuktikan bahwa seseorang dengan golongan darah tertentu memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular COVID-19. Dalam studi tersebut dijelaskan bahwa virus SARS-CoV-2 ternyata tertarik pada antigen golongan darah A yang ditemukan pada sel pernapasan.

Pada penelitian tersebut, para peneliti fokus pada protein reseptor binding domain (RBD) yang terdapat pada permukaan SARS-CoV-2 dan merupakan bagian virus yang menempel pada sel inang. RBD SARS-CoV-2 itulah yang dijadikan target penelitian untuk dipelajari bagaimana COVID-19 dapat menginfeksi manusia.


Lebih lanjut, studi tersebut memaparkan bagaimana RBD SARS-CoV-2 berinteraksi dengan sel darah merah dan pernapasan dalam golongan darah A, B, serta O. Menurut hasil penelitian yang diunggah ke jurnal Blood Advances pada 3 Maret itu, RBD SARS-CoV-2 ternyata memiliki preferensi kuat untuk mengikat golongan darah A yang ditemukan di sel pernapasan.

https://indomovie28.net/movies/fall-from-grace-2/