Virus Corona COVID-19 diketahui telah bermutasi dan menambah beberapa varian baru Beberapa varian disebut lebih menular.
Berbagai varian baru virus COVID-19 telah muncul, antara lain di Afrika Selatan dan Brasil. Para ilmuwan telah mengetahui bahwa virus COVID-19 berubah dengan cara yang meningkatkan kemampuannya untuk menyebar dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah.
Belum lama ini Tokyo mengidentifikasi mutasi yang diyakini mengurangi efektivitas vaksin yang disebut dengan varian 'Eek', nama lain untuk mutasi E484K. Mutasi ini ditemukan di beberapa varian, seperti varian Inggris atau B117 dan varian Brasil atau P1.
Berikut beberapa fakta mengenai varian 'Eek', seperti dikutip dari berbagai sumber.
Dijuluki dengan varian 'Eek'
Mutasi E484K, yang dijuluki "Eek" oleh beberapa ilmuwan, ditemukan pada 10 dari 14 orang yang dites positif terkena virus di Rumah Sakit Medis Universitas Kedokteran dan Gigi Tokyo pada Maret.
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan pada hari Minggu bahwa ia akan memperluas langkah-langkah darurat yang diperlukan untuk menahan gelombang baru infeksi virus korona, di tengah kekhawatiran penyebaran mutasi virus.
Ditemukan di rumah sakit Tokyo
Sekitar 70 persen pasien virus COVID-19 yang dites di rumah sakit Tokyo bulan lalu membawa mutasi yang diketahui mengurangi perlindungan vaksin, kata penyiar publik Jepang NHK pada hari Minggu (4/4/2021).
Sudah ada belasan orang yang terinfeksi
Selama dua bulan hingga Maret, 12 dari 36 pasien COVID-19 membawa mutasi, disebutkan pula tidak ada dari mereka yang baru-baru ini bepergian ke luar negeri atau melaporkan kontak dengan orang yang mengalaminya.
Pada hari Jumat (2/4/2021), ada 446 infeksi baru dilaporkan di Tokyo, meskipun itu masih jauh di bawah puncak lebih dari 2.500 pada bulan Januari lalu.
Di Osaka, tercatat 666 kasus dilaporkan. Pakar kesehatan telah menyatakan keprihatinan tentang penyebaran di sekitar kota metropolitan barat itu dari galur mutan yang diketahui telah muncul di Inggris.
https://kamumovie28.com/movies/my-best-friends-wedding-3/
Apakah Vaksinasi Corona Saat Puasa Bikin Tubuh Lemah? Begini Penjelasannya
Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan vaksinasi akan tetap dilanjutkan selama bulan puasa. Kegiatan ini terus dilakukan dan akan tetap memperhatikan kondisi umat islam yang menjalankan puasa.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi COVID-19 menyebutkan vaksinasi tidak membatalkan puasa, dan boleh dilakukan pada umat Islam yang sedang berpuasa.
"Fatwa tersebut direkomendasikan MUI agar pemerintah dapat melakukan vaksinasi di bulan Ramadhan demi mencegah penularan COVID-19," katanya dalam konferensi pers virtual, Minggu (4/4/2021).
Menurut dr Nadia, dari sisi kesehatan berpuasa berfungsi untuk detoksifikasi tubuh, sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Ia juga yakin bahwa pemberian vaksin COVID-19 saat berpuasa juga tidak akan berpengaruh pada kondisi tubuh saat puasa.
"Walaupun dalam kondisi berpuasa, kondisi tubuh tidak berpengaruh terhadap pemberian vaksinasi. Ada mekanisme tertentu yang menurun secara kesehatan, kita tahu bahwa kalau berpuasa menghentikan makan," jelas dr Nadia.
"Jadi, kita lihat bahwa puasa bukan suatu beban atau membuat tubuh kita jadi tidak aktif atau jadi lebih lemah pada saat berpuasa," lanjutnya.
dr Nadia mengatakan, tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan sebelum vaksinasi yang dilakukan di bulan puasa. Namun, ia mengingatkan untuk cukup beristirahat dan tidak melewatkan makan sahur sebelum berpuasa.
"Tidak ada persiapan khusus untuk orang yang sedang berpuasa dalam menerima vaksinasi. Artinya, kita memang harus istirahat yang cukup, jangan lupa sahur. Kalau ada gejala sistemik seperti pusing dan mual, bisa segera beristirahat," jelasnya.