Kamis, 08 April 2021

Pakar Sebut Mutasi Corona E484K Bisa Pengaruhi Efektivitas Vaksin

 Menyoal mutasi baru virus Corona E484K yang disebut lebih menular, pakar pun menyebut mutasi ini bisa saja mempengaruhi efikasi dari vaksin COVID-19.

Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengingatkan adanya kemungkinan mutasi baru virus Corona COVID-19 E484K akan berpengaruh terhadap kerja vaksin.


"Karena E484K ini kurang rentan terhadap antibodi, maka akan ada dampaknya pada efikasi vaksin. Tapi, saya masih menunggu hasil studi lanjutan dan bagaimana efeknya terhadap vaksin yang selama ini beredar," jelas Prof Zubairi, dikutip dari dikutip dari akun Twitter @ProfesorZubairi atas izin yang bersangkutan, Kamis (8/4/2021).


Perlu diketahui, E484K merupakan mutasi varian P.1, yang diketahui memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi pada anak muda.


Setidaknya, ada tiga varian yang kini jadi perhatian para ahli. Yaitu, B117 yang berasal dari Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan yang terbaru P1 di Brasil.


"Oleh BBC, E484K dijuluki double mutant atau mutan ganda. Pasalnya, E484K ini mengandung tidak hanya satu, tetapi dua mutasi mengkhawatirkan dalam komposisi genetiknya yang telah diidentifikasi U.S. Centers for Disease Control and Prevention," tambah Prof Zubairi.


Dalam sebuah pengujian di laboratorium, E484K terbukti membantu virus Corona menghindari antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya. Sehingga membuat virus tersebut kurang rentan terhadap obat antibodi, termasuk vaksin.


Terpenting, Prof Zubairi mengingatkan untuk masyarakat agar tetap patuh terhadap protokol kesehatan.


"Yang jelas, tetap pakai masker, cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, plus menjaga jarak. Bismillah, kita bisa melewati pandemi COVID-19 ini dengan benar, dan semoga penjelasan ini tidak dianggap fear mongering," pungkasnya.

https://tendabiru21.net/movies/unspoken/


Parah Banget! Wanita Ini Nyamar Jadi Perawat Demi Jual Vaksin Palsu


Seorang wanita menyamar menjadi perawat di Brasil terancam dibui belasan tahun setelah diduga memberikan vaksin COVID-19 palsu ke perusahaan dan menghasilkan keuntungan hingga Rp 80 juta.

Dikutip dari laman The Sun, perawat bernama tersebut Claudia Monica Pinheiro Torres dituduh menyamar sebagai perawat dan memberikan suntikan vaksin COVID-19 palsu kepada pengusaha seharga Rp 1,5 juta per suntikan di Belo Horizonte, Brasil.


Polisi Federal, yakin perawat palsu tersebut telah memberikan suntikan vaksin COVID-19 palsu kepada setidaknya pada 57 orang bulan lalu.


Perempuan yang berprofesi sebagai pengasuh lansia ini berpura-pura menjadi perawat meski tidak ada catatan mengenai dirinya di Dewan Keperawatan Daerah Minas Gerais.


Rekaman CCTV menunjukkan, Torres mengenakan baju perawat dan memasuki sebuah rumah mewah pada 17 Maret lalu, di mana diyakini memberikan saline alih-alih vaksin kepada pengusaha kaya.


Menurut outlet media setempat, ada catatan dia memasuki properti di lingkungan Gutierrez, di wilayah barat ibu kota pada 5 dan 22 Maret lalu.


Selain mengunjungi rumah-rumah mewah, Torres disebutkan juga telah memberikan suntikan vaksin kepada 40 orang lainnya di garasi bus perusahaan.


Wanita tersebut pun dituduh memalsukan, merusak, atau mengubah produk yang dimaksudkan untuk tujuan terapeutik atau pengobatan.


Awal pekan ini sebuah laporan yang dilihat oleh TV Globo menegaskan bahwa cairan yang ditemukan di rumah wanita itu sebenarnya adalah garam, bukan vaksin.

https://tendabiru21.net/movies/the-unspoken-2/

Eropa Tetap Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca Meski Ada Kemungkinan Risiko

 Regulator di Eropa dan Inggris mengklaim telah menemukan kemungkinan kaitan antara vaksin AstraZeneca dengan kejadian langka pembekuan darah. Meski begitu, mereka tetap merekomendasikan vaksin tersebut.

Pertimbangannya tidak lain karena melindungi orang terhadap COVID-19 tidak kalah penting. Pemberian vaksin merupakan salah satu upaya memberikan perlindungan.


Dikutip dari Reuters, badan penasihat di Inggris mengatakan vaksin ini sebaiknya tidak diberikan pada usia di bawah 30 tahun jika memungkinkan. Namun para pakar menyebut hal itu sebagai bentuk kewaspadaan, bukan benar-benar karena ada masalah keamanan serius.


Sejumlah negara sempat menangguhkan vaksin AstraZeneca. Namun sebagian besar di antaranya telah kembali melanjutkan, termasuk Prancis, Belanda, dan Jerman.


Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memastikan akan terus memantau perkembangan vaksin AstraZeneca dan evaluasi pada pakar di Eropa. Koordinasi dengan para pakar di dalam negeri juga terus menerus dilakukan.


"BPOM terus berkoordinasi dengan KOMNAS KIPI dalam mengevaluasi kejadian pembekuan darah akibat pemberian vaksin AstraZeneca," kata juru bicara vaksinasi BPOM, Lucia Rizka Andalusia, saat dihubungi detikcom Rabu (7/4/2021)

https://tendabiru21.net/movies/the-unspoken/


Pakar Sebut Mutasi Corona E484K Bisa Pengaruhi Efektivitas Vaksin


Menyoal mutasi baru virus Corona E484K yang disebut lebih menular, pakar pun menyebut mutasi ini bisa saja mempengaruhi efikasi dari vaksin COVID-19.

Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengingatkan adanya kemungkinan mutasi baru virus Corona COVID-19 E484K akan berpengaruh terhadap kerja vaksin.


"Karena E484K ini kurang rentan terhadap antibodi, maka akan ada dampaknya pada efikasi vaksin. Tapi, saya masih menunggu hasil studi lanjutan dan bagaimana efeknya terhadap vaksin yang selama ini beredar," jelas Prof Zubairi, dikutip dari dikutip dari akun Twitter @ProfesorZubairi atas izin yang bersangkutan, Kamis (8/4/2021).


Perlu diketahui, E484K merupakan mutasi varian P.1, yang diketahui memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi pada anak muda.


Setidaknya, ada tiga varian yang kini jadi perhatian para ahli. Yaitu, B117 yang berasal dari Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan yang terbaru P1 di Brasil.


"Oleh BBC, E484K dijuluki double mutant atau mutan ganda. Pasalnya, E484K ini mengandung tidak hanya satu, tetapi dua mutasi mengkhawatirkan dalam komposisi genetiknya yang telah diidentifikasi U.S. Centers for Disease Control and Prevention," tambah Prof Zubairi.


Dalam sebuah pengujian di laboratorium, E484K terbukti membantu virus Corona menghindari antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya. Sehingga membuat virus tersebut kurang rentan terhadap obat antibodi, termasuk vaksin.


Terpenting, Prof Zubairi mengingatkan untuk masyarakat agar tetap patuh terhadap protokol kesehatan.


"Yang jelas, tetap pakai masker, cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, plus menjaga jarak. Bismillah, kita bisa melewati pandemi COVID-19 ini dengan benar, dan semoga penjelasan ini tidak dianggap fear mongering," pungkasnya.

https://tendabiru21.net/movies/shang-chi-and-the-legend-of-the-ten-rings/