Senin, 21 Desember 2015

Cara Cegah Kanker Serviks Sebelum Stadium Lanjut


Kanker serviks atau kanker mulut rahim menjadi salah satu kanker yang paling sering mengintai perempuan Indonesia, setelah kanker payudara. Sebanyak 20 ribu kanker serviks terdeteksi setiap tahunnya dan sebagian besar berujung kematian.

Dokter Spesialis Ginekologi dan Ontologi Andriana Kumala mengatakan, kebanyakan pasien yang datang ke dokter sudah memasuki stadium lanjut dan kemungkinan tidak bisa dioperasi lagi. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran para perempuan untuk memeriksakan alat vitalnya.

Kanker serviks terjadi akibat infeksi dari Human Papillomavirus (HPV). Virus ini menginfeksi sel epitel kulit dan membran mukosa (selaput lendir), seperti pada alat kelamin, mulut, dan di beberapa bagian tubuh lainnya. HPV bisa bertumbuh menjadi ganas dan akhirnya menyebabkan kanker.

Untuk itu, sudah seharusnya setiap orang melakukan pemeriksaan tubuh dari HPV karena virus ini bisa menyerang siapa saja dan di mana saja. HPV juga mudah menular, apalagi lewat hubungan seksual. Sehingga prevalensinya terhadap seseorang yang sudah pernah melakukan aktivitas seksual menjadi lebih tinggi.

Tapi, sebenarnya infeksi HPV yang bisa menyebabkan kanker, salah satunya kanker serviks pada perempuan, ini bisa dicegah. Atau setidaknya bisa ditangani sebelum terlambat.

Baca juga : Perubahan Hidup

Andriana mengatakan ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mencegah HPV mengganas. Pertama adalah dengan pencegahan primer dan kedua adalah pencegahan sekunder.

"Yang primer ini dengan melakukan vaksin HPV. Vaksin ini ditemukan sekitar tahun 2008 dan sudah diteliti aman dan efektif. Mendapatkan rekomendasi dari ACIP (Advisory Committee on Immunozation Practices) dan AAP (American Academy of Pediatrics)," kata Andriana dalam temu media di RS Bethsaida, Tangerang, Kamis (17/12).

Vaksin tersebut dianjurkan untuk diberikan pada umur remaja, sekitar 11-12 tahun. Atau paling dini diberikan pada usia sembilan tahun. Ini untuk memastikan kalau kemungkinan mereka terjangkit sangat kecil karena belum pernah berhubungan seksual.

Tapi, bukan berarti orang yang sudah pernah berhubungan seksual tidak bisa diberikan vaksin. Mereka bisa mendapatkan vaksin namun dengan persyaratan khusus.

"Kalau sudah menikah boleh dikasih vaksin dengan syarat screening. Kalau hasilnya bagus, negatif untuk lesi-lesi pre-cancer, baru divaksin. Tapi kita harus konseling dulu karena kalau sudah pernah seks kemungkinan HPV," ujar Andriana.

Cara pencegahan yang kedua adalah dengan melakukan pemeriksaan. Ada tiga jenis tes yang bisa dilakukan yaitu pap smear, Inspeksi Visual Asam (IVA), dan HPV test.

"Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel dengan cara mengusap leher rahim, lalu dioleskan ke gelas objek, dikirim ke laboratorium dan nanti hasilnya bisa dilihat," kata Andriana.

Berbeda dengan pap smear, IVA dilakukan lebih sederhana dan tanpa uji laboratorium. Harganya pun lebih murah. Dokter hanya tinggal melihat langsung perubahan warna pada leher rahim yang telah diteteskan asam asetat 3-5 persen.

"Dibaca langsung saat itu juga dengan posisi pasien seperti melahirkan. Kalau putih berarti ada HPV."

Sementara itu, untuk HPV test menggunakan DNA dan prosesnya lebih rumit lagi. Harganya pun lebih mahal sehingga pemeriksaan ini jarang dipakai.

Pemeriksaan untuk pencegahan kanker serviks dianjurkan setiap tiga tahun sekali untuk perempuan usia 21-30 tahun. Untuk usia 30-60 bisa dilakukan lima tahun sekali dengan beberapa kali pap smear.

Sumber : Mengubah Hidup

Sabtu, 19 Desember 2015

Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Memutuskan Putus


Memutuskan hubungan mungkin adalah hal yang mudah. Tapi, Anda perlu sadari bahwa menemukan pasangan yang ideal adalah hal yang tak mudah. Itulah mengapa sebelum memutuskan untuk mengakhiri hubungan Anda, lebih baik untuk bertanya pada diri sendiri daripasa menyesal di kemudian hari.

Ingat, setiap orang memiliki perbedaan sudut pandang dan skala prioritas, terutama dalam berhubungan. Anda tidak bisa memaksanya untuk mengerti cara pandang Anda. Begitu juga sebaliknya.

Bagi Anda yang ingin menyudahi hubungan dengan kekasih, berikut beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan sebelum 'mengetuk palu'.

Apakah dia selingkuh?
Perselingkuhan adalah salah satu alasan yang paling sering digunakan untuk berpisah. Ini bukan masalah yang sederhana, bila dia pernah selingkuh dari Anda, berpisah memang jalan yang tepat.


Perlakuan buruk
Bila pasangan tidak memperlakukan Anda dengan baik, selalu mengabaikan Anda, tidak perhatian, merendahkan atau bahkan kasar secara fisik, maka putus adalah keputusan terbaik. Anda layak mempertanyakan bila terus bersamanya.

Membuat stres?
Ingat, hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat Anda bahagia dan tidak membuat Anda stres berkelanjutan. Berkutat pada masalah abadi yang itu-itu saja tanpa jalan keluar. Salah satu dari Anda harus mengalah, kalau tidak? Selesaikan dengan cara yang baik.

Mendambakan orang lain yang lebih baik?
Kadang-kadang, Anda cenderung merasa 'kosong' karena beberapa alasan. Mungkin Anda belum puas dengan pasangan Anda atau mungkin kebutuhan emosional Anda tidak terpenuhi dengan baik. Dalam kasus seperti itu, cobalah untuk lebih terbuka dan membiarkan pasangan Anda tahu apa yang Anda rasakan. Siapa tahu dia bisa menjadi orang yang lebih baik seperti yang Anda harapkan.

Sumber : Mengubah hidup