Selasa, 19 November 2019

Tepat Setelah Dapatkan Seks Oral, Wanita Ini Terkena Stroke

 Bercinta seharusnya menjadi momen menyenangkan yang dinikmati sepasang suami-istri. Tapi tidak bagi pasangan dari London Barat ini.

Seorang wanita berusia 44 tahun yang tidak disebutkan namanya jatuh pingsan selama tiga menit setelah mendapatkan seks oral dari pasangannya. Wanita itu pun awalnya mengeluhkan kepalanya sakit sekali dan tubuhnya menjadi kaku.

Dikutip dari Mirror, sesampainya di rumah sakit, dokter menemukan pembuluh darahnya pecah di dalam tengkoraknya.

"Pada pengambilan riwayat yang lebih dekat, pasien melaporkan mendekati orgasme saat menerima seks oral dari pasangannya sebelum kehilangan kesadaran," kata dokter yang menanganinya dalam British Medical Journal.

Wanita itu pun menjalani CT scan dan ditemukan darah antara tengkorak dan otaknya yang menunjukkan bahwa ia mengalami stroke. Dokter juga mengatakan perdarahan yang terjadi adalah subarakhnoid, yaitu jenis perdarahan yang tidak biasa di otak dan berukuran kecil.

Di dalam laporan itu dokter mengakui bahwa aktivitas seksual menjadi penyebab pecahnya pembuluh darah karena meningkatkan tekanan darah.

"Penelitian yang lebih terdahulu dengan pemantauan arteri menunjukkan bahwa selama aktivitas seksual, tekanan darah serta detak jantung sangat mungkin berubah dengan kenaikan tertentu selama orgasme," tulis dokter yang menangani.

Namun wanita itu juga punya riwayat perokok, peminum alkohol, pengidap asma dan malaria di otak pada usia 20-an. Tetapi dokter mengatakan itu tidak terkait langsung dengan stroke.  https://bit.ly/35fBfpz

Gara-gara Telan Cairan Sperma, Wanita Ini Harus Dirawat di RS

 Amankah air mani atau cairan sperma ditelan? Pertanyaan seperti itu cukup sering beredar dan menurut pakar kesehatan seksual, Dr Andri Wanananda MS, jawabannya air mani relatif aman ditelan selama berasal dari pria yang sehat dan higienis.

Namun demikian kadang ada juga beberapa kasus pengecualian tidak biasa seperti yang terjadi pada seorang wanita berusia 31 tahun dari Spanyol. Dilaporkan dalam jurnal BMJ Case Reports, sang wanita harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami reaksi alergi berat (anafilaksis).

Sebelum jatuh sakit sang wanita diketahui sedang memberikan seks oral pada pasangan lalu menelan air maninya. Tidak lama sang wanita langsung muntah-muntah, kesulitan bernapas, dan muncul ruam merah di kulit.

Kepada dokter di Hospital General Universitari d'Alacant sang wanita mengaku punya alergi obat penisilin. Namun demikian ia tidak merasa telah mengonsumsi makanan atau obat yang aneh-aneh.

Setelah dilakukan pemeriksaan dokter menemukan ternyata air mani pasangannya yang mengandung obat antibiotik amoksilin, sejenis penisilin. Sang pasangan diketahui mengonsumsi amoksilin untuk mengobati infeksi telinga.

"Sepengetahuan kami ini kasus pertama kecurigaan anafilaksis dipicu amoksilin pada seorang wanita setelah kontak seksual dengan pria yang mengonsumsi obat. Hipotesis kami obat ditransfer oral lewat air mani," tulis dokter dalam jurnal yang dikutip pada Selasa (12/3/2019).

Penulis laporan mengingatkan agar orang-orang yang mungkin punya alergi obat kedepannya hati-hati terhadap risiko serupa. Disarankan memakai kondom bila tidak yakin sebelum melakukan seks oral. https://bit.ly/2qoydjW

Senin, 18 November 2019

Alasan Mengapa Seks Oral Berbahaya Sehingga Perlu Diatur Undang-undang

Di dalam RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) diatur juga soal hubungan seks yang tidak lazim. Salah satunya adalah seks oral, yang dianggap berbahaya karena bisa menularkan virus dan bakteri ke tubuh.

"Itu berbahaya karena menjadi pintu masuknya virus dan bakteri. Itu yang harus kita informasikan kepada masyarakat kalau jalur mulut itu bukan jalur yang aman," ucap Ketua Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Hanny Nilasari sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa (6/8/2019).

Oleh karena itu, tindakan memaksa pasangan melakukan seks oral dinilai sebagai suatu tindakan yang menyimpang yang perlu diatur lebih lanjut dalam RUU PKS. Diharapkan oleh Hanny, saat UU tersebut disahkan, wanita bisa menolak apabila ada ajakan melakukan seks oral secara paksa.

Seks oral dianggap berbahaya bukanlah hal yang patut dipertanyakan. Hingga kini, sejumlah penyakit dari infeksi hingga kanker dikaitkan dengan seks oral, sehingga praktik seks satu ini juga berisiko tinggi.

Banyak orang yang mengira seks lewat mulut adalah praktik yang aman dan tidak menularkan penyakit apapun. Risiko sebenarnya bisa ditekan apabila menggunakan proteksi seperti kondom. Akan tetapi banyak sekali pasangan yang merasa lebih suka tanpa menggunakan proteksi apapun.

Dirangkum oleh detikHealth dari berbagai sumber, berikut adalah risiko yang bisa terjadi dari seks oral:  https://bit.ly/2XoSFgJ

1. Kanker tenggorokan
Melakukan seks oral bisa membuatmu berisiko menularkan human papillomavirus (HPV) yang bisa menyebabkan kanker tenggorokan atau orofaringeal (bagian tengah tenggorokan). Salah satu studi tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan risiko akan kanker jenis tersebut pada orang yang melakukan seks oral setidaknya enam pasangan berbeda.

Baik pria maupun wanita bisa terkena infeksi ini. Berita baiknya adalah kanker tenggorokan yang disebabkan oleh HPV cenderung lebih mudah ditangani ketimbang yang disebabkan oleh merokok dan minum alkohol.

2. HIV
Meski relatif rendah risiko ketimbang seks melalui vagina atau anal, namun kita bisa tertular HIV (Human Imunodeficiency Virus) melalui seks oral. Terutama apabila saat mempraktikkannya tidak menggunakan proteksi sama sekali.

Risiko tertular HIV semakin meningkat juga apabila jika yang melakukan seks oral sedang sariawan atau ada luka, jika ejakulasi terjadi di dalam mulut, atau yang menerima seks oral mengidap penyakit menular seksual. Pada umumnya, risiko penularan seks oral ini lebih utama terjadi pada yang melakukan seks oral.

3. Herpes
Meski herpes genital dan oral disebabkan oleh strain virus herpes yang berbeda, namun tetap mungkin bagi virus manapun menginfeksi lokasi keeduanya. Sehingga sangat mungkin menularkan herpes melalui seks oral.

Berbeda dengan HIV, virus herpes bisa menyebar dari kedua pasangan saat melakukan oral seks. Penularan herpes saat seks oral sangat berbahaya, bahkan herpes adalah penyakit yang menular meski tanpa gejala.

4. Gonorrhea
Gonorrhea bisa ditularkan saat melakukan seks oral pada pria, dan baik keduanya bisa berisiko terkena penyakit tersebut. Masih sedikit penelitian yang menyebutkan bahwa penularan bisa terjadi saat melakukan seks oral pada wanita.

Risiko gonorrhea dalam seks oral pada wanita cukup kecil karena infeksi tidak mencapai serviks. Menggunakan kondom cukup efektif dalam mencegah penularan gonorrhea selama melakukan seks oral.

5. Chlamydia
Chlamydia merupakan salah satu penyakit menular seksual, dan jika tertular maka kedua belah pihak berisiko tinggi terkena penyakit tersebut. Risiko penularan chlamydia hampir sama seperti gonorrhea.

6. Sifilis
Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang sangat mudah ditularkan melalui seks oral. Meski sifilis hanya bisa ditularkan apabila pengidapnya mengalami gejala selama tahap primer dan sekundernya, terkadang sariawan-sariawan yang tak sakit membuatnya terabaikan.

Oleh sebab itu, banyak orang yang tak mengetahui mereka memiliki gejala sifilis saat mereka menularkan ke pasangan mereka.

7. Hepatitis B
Penelitian soal hal ini masih belum dapat disimpulkan apakah hepatitis B benar-benar bisa ditularkan melalui seks oral. Namun kontak anal-oral merupakan faktor risiko infeksi hepatitis A, dan juga bagi hepatitis B.

Untungnya, kedua tipe hepatitis tersebut bisa dicegah dengan vaksin.

Soal RUU PKS, Perempuan Diminta Berani Tolak Oral Sex

RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) mencakup sejumlah larangan, salah satunya soal hubungan seks yang tidak lazim. Oleh sebab itu, nantinya perempuan harus berani menolak ajakan seks oral bila UU itu disahkan.

"Itu berbahaya karena menjadi pintu masuknya virus dan bakteri. Itu yang harus kita informasikan kepada masyarakat kalau jalur mulut itu bukan jalur yang aman," ucap Ketua Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Hanny Nilasari sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa (6/8/2019).  https://bit.ly/33ZeBS7