Selasa, 19 November 2019

Ingat! Antibiotik Bukan 'Obat Dewa', Tak Dibutuhkan untuk Batuk-Pilek

Dewasa ini, permasalahan soal antibiotik semakin berkembang. Antibiotik kerap dianggap obat dewa oleh sebagian masyarakat. Apapun sakitnya, antibiotik lah obatnya.

Dokter anak dr Purnamawati SpA(K), MMPAed merasa khawatir soal kebiasaan masyarakat Indonesia tersebut. Pasalnya, tidak semua penyakit memerlukan antibiotik untuk sembuh. Penyakit yang memerlukan antibiotik adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sementara penyakit yang disebabkan oleh virus seperti batuk dan pilek tidak memerlukan antibiotik.

"Batuk nggak butuh antibiotik. Diare kalau tanpa darah nggak butuh antibiotik. Pilek nggak perlu antibiotik, kalau awal mucus atau ingusnya bening tapi sekarang sudah hijau juga nggak perlu (antibiotik)," jelasnya saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (14/11/2019).

"Muntah tidak perlu antibiotik. Radang tenggorokan, nggak (perlu antibiotik). Kalau tenggorokan merah itu respon tubuh kita pembuluh darah melebar karena harus membawa antibodi untuk membunuh virus," lanjut dokter yang disapa Wati itu.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat berdampak pada kesehatan, yaitu membuat bakteri yang ada di tubuh menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. dr Wati pun menegaskan bahwa resisten antibiotik justru bisa menyebabkan tubuh mudah sakit.

"Makin sering kamu makan antibiotik justru kamu akan sering sakit, karena antibiotik membunuh kuman baik yang ada di badan kamu. Kamu nggak punya kuman baik lagi di perut di kulit. Yang tadinya kavling di tempati kuman baik, justru ditempati kuman jahat. Kebanyakan penyakit tidak butuh antibiotik," tuturnya.

Sayangnya hingga kini masih banyak dokter yang meresepkan antibiotik pada penyakit yang bukan disebabkan oleh bakteri. dr Wati menyarankan masyarakat untuk tidak mengonsumsinya meskipun diresepkan.

"Kalau diresepkan antibiotik padahal bukan karena bakteri sakitnya, ya nggak usah ditebus, nggak usah diminum," sarannya.

 Antibiotik menjadi salah satu jenis obat yang sangat umum digunakan. Dokter selalu menganjurkan untuk menghabiskan stok antibiotik yang telah diberikan. Sebagian orang menjadikan obat ini sebagai obat dasar dari berbagai penyakit. Karena luasnya kategori obat ini, seringkali diresepkan secara berlebihan. https://bit.ly/2NZWoOU

Berlebihan Pakai Antibotik Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Usus Besar

Dikutip dari Washington Post, sebuah penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik dapat meningkatkan risiko kanker usus besar atau kolorektal. Seorang Profesor Imunoterapi Kanker di Johns Hopkins Kimmel Cancer Center, Bloomberg Kimmel, mengatakan penggunaan antibiotik harus diminimalisir.

"Perlu ada kebijaksanaan dalam penggunaan obat ini. Mulai Tidak mengobati infeksi virus yang umum dengan antibiotik, gunakan untuk periode waktu yang sesingkat mungkin, dan hanya gunakan untuk keperluan yang sangat khusus," jelas Kimmel.

Dua peneliti dari Inggris, Sears dan Jiajia Zhang, bersama-sama meneliti bahwa obat dengan kategori yang luas ini, memiliki efek yang cukup berbahaya. Mereka menganalisis data pasien dari Clinical Practice Research Datalink (CPRD). Selama 23 tahun, dari 1 Januari 1989 hingga 31 Desember 2012, mereka menemukan 28.890 kasus kanker kolorektal.

"Penelitian ini menambah pemahaman kami bahwa obat ini dapat memiliki efek yang besar dan signifikan, termasuk menyebabkan penyakit kronis," tambah Sears.

Mereka kemudian menggunakan catatan medis untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi setiap riwayat kasus untuk faktor risiko kanker kolorektal, seperti riwayat obesitas, merokok, penggunaan alkohol, dan diabetes, serta penggunaan antibiotik.

Para peneliti menemukan bahwa penderita kanker usus besar lebih besar disebabkan karena konsumsi antibiotik. Ketika diteliti lebih lanjut, paparan antibiotik meningkatkan risiko kanker di usus besar proksimal (bagian pertama dan tengah usus besar) sebesar 15 persen. Tetapi itu tidak terjadi pada usus besar bagian distal (bagian terakhir dari usus besar).

"Antibiotik mempercepat peningkatan risiko kanker usus setelah dikonsumsi selama 15-30 hari. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu tersebut, risikonya meningkat hingga 8 persen. Tetapi jika dikonsumsi selama lebih dari 30 hari, risikonya meningkat hingga 15 persen," jelasnya.

Namun, efek ini tidak berpengaruh pada kanker rektum. Jika paparan antibiotik semakin banyak hingga 60 hari atau lebih, kecil kemungkinannya kanker akan tumbuh di daerah tersebut. Kanker yang berkembang di usus besar akan terjadi setelah 10 tahun, tetapi ketika paparannya kurang dari 10 tahun, belum menimbulkan risiko yang fatal. https://bit.ly/37hp25F

Mengapa Seseorang Menangis Saat Terharu?

Mengenang sesuatu yang mengharukan bisa membuat seseorang menangis, seperti yang baru-baru ini terjadi dalam persidangan gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ada mekanisme biologis di otak sehingga orang bisa meneteskan air mata.

Dalam artikelnya di The Independent, dr Nick Knight menjelaskan bahwa air mata ada beberapa jenis. Salah satunya air mata yang keluar ketika mengalami emosi yang kuat, baik sedih, marah, maupun bahagia. Ini adalah air mata yang dikenal sebagai 'psychic tears' atau 'crying tears'.

Sama seperti jenis air mata yang lain, psychic tears diproduksi oleh lacrimal system yang terletak di antara kelopak dan bola mata. Ketika ada reaksi emosional, hipotalamus di otak yang terhubung dengan sistem saraf otonom akan memerintahkan kelenjar-kelenjar tersebut untuk memproduksi air mata. Sistem ini bekerja di luar kontrol kesadaran.

Salah satu fakta menarik adalah air mata mengandung senyawa leucine enkephalin, yang merupakan pereda nyeri alamiah. Ini menjelaskan anggapan umum bahwa menangis bisa membuat seseorang merasa lega, lebih nyaman dibandingkan terus-terusan memendam atau menahan perasaan.

Sebuah penelitian terhadap 200 perempuan di Belanda membuktikan bahwa sebagian besar responden merasa lebih nyaman setelah menangis. Namun seperti dikutip dari WebMD, tidak semua orang mengalami hal yang sama. Partisipan dengan skor depresi dan ansietas yang tinggi cenderung justru merasa lebih terpuruk setelah menangis.

Meski demikian, emosi bukan satu-satunya penyebab seseorang menangis. Selain psychic tears, dikenal juga berbagai jenis air mata non-emosional. Di antaranya adalah air mata basal, yang secara terus menerus diproduksi dalam jumlah tertentu untuk menjaga kelembaban bola mata.

Ada pula air mata refleks yang diproduksi untuk mencegah iritasi ketika ada benda asing menempel di bola mata. Fungsinya untuk membasuh partikel debu maupun paparan senyawa lain yang bisa memicu iritasi, termasuk uap sulfur yang membuat mata pedih saat mengupas bawang. https://bit.ly/341MBNJ

Jangan Malu, Ini 5 Manfaat Kesehatan yang Didapat dari Menangis

Menangis bukanlah hal yang memalukan. Bahkan pakar mengatakan menangis adalah hal yang lumrah bagi manusia, apapun penyebabnya.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 5 mafaat kesehatan yang didapat dari menangis:

1. Detoks

Proses membuang racun dari dalam tubuh atau detoks bisa dilakukan dengan menangis. Dr Willian H Frey II, seorang ahli biokimia dari Psychiatry Research Laboratories di St. Paul-Ramsey Medical Centre menemukan menangis mengeluarkan zat seperti tubuh ketika menghembuskan napas, buang air kecil dan berkeringat.

Beberapa zat yang turut serta keluar ketika menangis adalah prolaktin protein, hormon adrenokortikotropik dan endrorphin leucine-enkephalin yang bisa mengurangi rasa sakit.

2. Membunuh bakteri

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Food Microbiology menemukan fakta bahwa air mata memiliki kekuatan antimikroba yang kuat dalam melindungi terhadap kontaminasi anthrax.  Air mata mengandung lisozim yang berguna untuk membunuh 90 sampai 95 persen bakteri dalam tubuh hanya dalam waktu lima sampai sepuluh menit.

Lisozim dapat membunuh bakeri tertentu dengan cara menghancurkan dinding sel bakteri.

3. Menjaga kesehatan mata

Ketika selaput mata mengalami dehidrasi, mata bisa menurun kualitas penglihatannya. Nah, Air mata diproduksi oleh kelenjar lakrimal yang terbukti bisa menjaga kesehatan mata dengan cara melumasi bola mata dan kelopak mata.

Peneliti dari National Eye Institute mengatakan air mata bisa menjaga bola mata agar tetap lembab dan melunturkan debu.

4. Memperbaiki mood

Sebuah penelitian di tahun 2008 dari University of South Florida menemukan menangis dapat menenangkan dan memperbaiki mood lebih baik daripada antidepresan apapun. Hampir dari 90 persen suasana hati bisa diperbaiki dengan menangis.

Namun catat, seseorang dengan gangguan kecemasan atau gangguan bipolar mungkin saja tidak bisa mengalami efek positif dari menangis.

5. Mengungkapkan perasaan

Menangis dapat menjadi sarana saat Anda tak bisa mengungkapkan kata-kata, terutama kepada pasangan. Sebabnya, menangis tidak selalu berasal dari hal buruk namun bisa saja dari hal yang membahagiakan.

Tangisan adalah reaksi dari seseorang yang memiliki emosi baik ataupun buruk yang harus diluapkan karena hal ini sangat wajar terjadi. Tangisan bisa meredamkan perkelahian, membuang rasa amarah dan membuka dialog dengan orang lain. https://bit.ly/2CUapHr