Selasa, 19 November 2019

Seloroh Tito: Saya di Akabri di Belakang Terus karena Stunting, Makan Kerupuk

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan Indonesia menghadapi berbagai masalah serius, salah satunya persoalan stunting. Di hadapan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto, Tito lantas berkelakar dirinya mungkin merupakan salah satu produk stunting zaman dulu.

Pernyataan itu disampaikan Tito saat menyampaikan sambutan di acara pemberian penghargaan Swasti Saba kabupaten/kota sehat tahun 2019, di Kantor Kemendagri, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2019). Tito menegaskan stunting merupakan persoalan serius yang perlu segera ditangani.

"Kita banyak mengalami problema masalah kesehatan, contoh masalah stunting yang disampaikan tadi oleh Pak Menkes. Ini problem serius kita, angkanya cukup besar yang pernah stunting atau yang masih sedang proses stunting alias kurang gizi sehingga terjadi kekerdilan. Saya mungkin salah satu saya produk stunting zaman dulu," kata Tito.

Tito mengatakan, hal ini karena dirinya memiliki tubuh yang tidak tinggi dibandingkan teman angkatannya di Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Tito menuturkan hal ini menyebabkan dirinya selalu berbaris di paling belakang."Karena saya masuk Akabri saya paling belakang terus, Pak Terawan, yang lain tinggi-tinggi. Saya paling belakang karena stunting, makan kerupuk tok di paling belakang," ," sambungnya.

Tito mengatakan, stunting merupakan salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi). Oleh sebab itu, dia menyebut Jokowi menunjuk Terawan untuk mengatasi masalah tersebut.

"Stunting ini adalah program bersama, ini salah satu program prioritas Bapak presiden. Kenapa ini jadi konsen Bapak Presiden? Dan beliau tunjuk terawan sebagai Menkes, yang diharapkan keluarkan banyak terobosan," tuturnya. https://bit.ly/2r28iie

Mendagri Minta Ada Kajian soal Daerah Siap-Tak Siap Pilkada Langsung

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta ada kajian akademik dalam mengevaluasi pilkada langsung agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Tito ingin ada kajian soal kedewasaan demokrasi tiap daerah jika nantinya hasil kajian akademik menunjukkan perlu adanya sistem asimetris untuk pilkada.

"Kemudian, kalau seandainya dianggap bahwa sistem pilkada langsung ini dalam temuan kajian akademik dianggap lebih banyak negatifnya, berarti harus ada sistem yang lain, salah satunya sistem asimetris sistem yang tadi disampaikan. Kalau asimetris berarti kita harus membuat Index Democratic Maturity, yaitu kedewasaan demokrasi tiap daerah," ujar Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Menurut Tito, di daerah yang dianggap mengerti demokrasi, pilkada langsung bisa diterapkan. Namun, kata Tito, lain cerita jika di daerah tersebut penduduknya belum memiliki kedewasaan demokrasi yang mumpuni.

"Tapi di daerah tertentu yang tingkat kedewasaan demokrasi rendah, itu mau berbusa-busa calon kepala daerah bicara tentang programnya, nggak didengar. Karena memang kemampuan intelektual literasi rendah, nggak nyampai," ujarnya.

Karena itulah, Tito mengatakan ada alternatif pilkada dengan sistem asimetris. Hal itu dikarenakan kesiapan setiap daerah menghadapi pilkada langsung berbeda-beda.

"Sehingga alternatifnya asimetris mungkin, yaitu di daerah yang Index Democratic Maturity tinggi, ini pilkada langsung. Yang rendah, maka ini mekanisme lain, apakah melalui DPD, DPRD seperti dulu. Tapi bagaimana reduce damage juga kalau problem di DPRD, bagaimana dengan independen tadi, mereka bisa terakomodir solusinya seperti apa?" ungkap Tito. https://bit.ly/35iSSoG

Sedang Siapkan Pernikahan, Salsis Tewas dalam Kecelakaan Bus di Cipali

Salah seorang korban tewas kecelakaan bus di Tol Cipali, yakni Salsis (24), merupakan warga Pekalongan. Ibunda Salsis, Ratnasari, mengungkap komunikasi terakhir dengan sang anak tentang rencananya menikah awal tahun depan.

"Mak, aku mau kerja ya untuk kumpulin uang untuk nikah," ujar Ratnasari menirukan perkataan Salsis.Hal itu disampaikan Ratnasari kepada detikcom di rumah duka, Kamis (14/11/2019).

Menurut Ratnasari, anaknya bekerja di Jakarta hampir setahun. Dia pulang ke Pekalongan karena Salsih sedang liburan."Anaknya baik, sering membantu saya dan ayahnya," jelas Ratnasari.

Ayah Salsis, Cohardi, mengatakan mendapat kabar bus yang ditumpangi anaknya mengalami kecelakaan dari polisi yang datang ke rumahnya.

"Tadi pagi ada petugas yang datang ke sini mengabarkan bus yang ditumpangi anak saya kecelakaan," tutur Cohardi.Ratnasari kemudian menunjukkan seorang gadis yang juga berada di rumahnya.

"Itu calon menantu saya," kata Ratnasari sembari menunjuk seorang gadis berhijab putih.

Gadis bernama Uril itu tampak masih syok dan enggan diajak bicara. Pihak perwakilan keluarga telah berangkat menjemput jenazah Salsis di RSUD Subang."Ini masih dalam perjalanan. Kalau tidak kemalaman, langsung kami makamkan," tutur Ratnasari. https://bit.ly/2rVoYIt

Warga Tak Berminat, Pilkades di Desa Ini Diikuti 2 Calon dari Luar

 Sudah setahun pendaftaran desa kecil di Magelang, Jawa Tengah, ini menunda Pilkades karena sepi peminat. Akhirnya tahun ini desa tersebut baru akan bisa menggelar Pilkades. Itupun kedua calon yang bertarung bukan warga setempat.

Sebanyak 294 desa akan melangsungkan Pilkades serentak di Kabupaten Magelang, Minggu (24/11) mendatang. Dari 294 desa tersebut, salah satunya Desa Kemutuk, Kecamatan Tempuran.

Camat Tempuran, Daryoko Umar Singgih, mengatakan, Desa Kemutuk memiliki jumlah DPT paling kecil di Magelang, hanya 344 warga yang memiliki hak pilih.

Pilkades di desa tersebut diikuti 2 pasangan calon kades yakni Siswanto, warga Kabupaten Cilacap, dan Mat Roit, warga Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang.

"Pak Siswanto berdomisili di Cilacap, tapi beliau putera desa setempat. Mat Roit, warga Kaliangkrik," kata Daryoko saat dihubungi, Selasa (19/11/2019).

Pejabat (Pj) Kades Kemutuk, Sugiyono, membenarkan bahwa dua calon yang akan bertarung di Pilkades Kemutuk bukan warga Desa Kemutuk.

"Secara adminitratif keduanya bukan warga Kemutuk, yang satu ber-KTP Majenang, Cilacap, yang satu KTP Kaliangkrik, istrinya orang Kemutuk. Sesuai regulasi ini diperbolehkan," ujar dia. https://bit.ly/2Qw5PqT