Rabu, 20 November 2019

Cerita Dokter RI yang Kerja di AS, Benarkah Gaji di Sana Besar Banget?

Membayangkan gaji dokter kayaknya langsung terbayang dengan digit yang besar. Apalagi kalau gaji dokter di negara semaju Amerika Serikat ya. Benar enggak sih sebesar itu? Data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di tahun-tahun sebelumnya menyebutkan meski bukan negara dengan bayaran terbaik di dunia, dokter di Amerika Serikat terbilang digaji dengan sangat baik.

Berapa sih tepatnya? detikHealth menanyakannya langsung kepada dr Medha Satyarengga, MD, salah satu dokter asal Indonesia yang memulai pendidikan spesialis penyakit dalam pada tahun 2014 di New York City, di Mount Sinai St. Luke's and Mount Sinai West Hospitals.

"Dokter spesialis yang sedang sekolah, atau yang biasa disebut dengan residen, dianggap sebagai pegawai rumah sakit sehingga kami mendapat gaji dan tidak perlu membayar uang sekolah sama sekali. Selama menjadi residen, rentang gajinya antara $52.000 hingga $70.000 per tahun, tergantung kota dan tingkatan residensi," jawab dr Medha.

Alamak! Kalau dikonversi ke rupiah jumlahnya memang sangat besar sih, yakni sekitar kurang lebih Rp 734 juta - Rp 988 juta. Namun perlu diingat bahwa biaya hidup di Amerika jauh lebih mahal sehingga gaji yang diterima cukup untuk hidup sehari-hari.

"Kalau sudah lulus dan bekerja, rentang gajinya antara $150.000 (sekitar Rp 2,1 miliar) hingga $500.000 (kira-kira Rp 7 miliar) per tahun, tergantung kota dan jenis spesialisasinya," tuturnya.

Sebelumnya, dikutip dari detikNews, Ketum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Daeng M Faqih menyebut masih banyak dokter di Indonesia yang gajinya di bawah Rp 3 juta perbulan. Menurutnya, mayoritas dokter umum berpraktik pada golongan III dengan masa kerja di bawah 5-10 tahun.

Sementara itu Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyebut profesi dokter umumnya sejahtera karena punya keahlian dan bisa praktik di 3 tempat. Ia mencontohkan dokter-dokter yang tergabung dalam program Nusantara Sehat, gajinya sudah Rp 11 juta.

"Wah banyak kolega saya yang gajinya gede, kalau lihat dari pajaknya, gede-gede," kata Menkes Nila.

Dokter Ganteng Bicara Soal Gaji, Berapa Sih Memangnya?

Gaji dokter tengah jadi sorotan sejak calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menyebut banyak dokter dibayar lebih rendah dari tukang parkir. Pernyataan ini membuat banyak orang penasaran, berapa sih gaji dokter sebenarnya?

Seorang dokter jantung yang juga penulis buku, dr Vito Damay, SpJP(K), FIHA, FICA, angkat bicara soal hal itu. Tampil di channel youtube pribadinya, dr Vito, demikian ia akrab disapa, mengawali penjelasannya dengan proses panjang untuk menjadi seorang dokter.

Butuh sekolah kedokteran selama bertahun-tahun untuk menjadi dokter, kata dr Vito. Biayanya bervariasi. Ada yang gratis, ada yang murah, tapi juga ada yang mencapai ratusan juta rupiah.

Begitu lulus wisuda, gelar dokter tidak serta merta langsung bisa didapat. Masih perlu koas sekitar 2 tahun untuk benar-benar bisa diambil sumpah menjadi seorang dokter umum.

"Apakah sudah bisa praktik mandiri? Belum bisa. Setelah itu kamu boleh mengikuti program internship atau magang. Intinya kamu kerja magang sebagai dokter tapi ada supervisi dari dokter yang lebih senior," jelas dr Vito.

Usai melalui proses panjang tersebut, seorang dokter bisa memilih untuk tetap jadi dokter yang bergerak di bidang klinis, atau menekuni bidang lain seperti duduk di pemerintahan maupun terjun ke dunia entertainment. Mau jadi dokter spesialis juga bisa, tapi tentu saja butuh proses yang lebih panjang lagi.
Kalau menjadi seorang dokter, jangan tanya dulu berapa gaji. Pikirkan bener nggak ini minatmu, bener nggak ini tujuan hidupmu ... menjadi seorang dokter adalah belajar seumur hidup
dr Vito Damay, SpJP(K), FIHA, FICA - Dokter dan penulis buku https://bit.ly/2O3LHL4

Ada satu hal yang dr Vito tekankan di akhir penjelasannya.

"Kalau menjadi seorang dokter, jangan tanya dulu berapa gaji. Pikirkan bener nggak ini minatmu, bener nggak ini tujuan hidupmu. Bener nggak kamu bersiap untuk bisa sekolah lama banget, karena menjadi seorang dokter adalah belajar seumur hidup," kata dr Vito.

Diberitakan oleh detiknews, Ketum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Daeng M Faqih menyebut masih banyak dokter di Indonesia yang gajinya di bawah Rp 3 juta perbulan. Menurutnya, mayoritas dokter umum berpraktik pada golongan III dengan masa kerja di bawah 5-10 tahun.

Sementara Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyebut profesi dokter umumnya sejahtera karena punya keahlian dan bisa praktik di 3 tempat. Dicontohkan, dokter-dokter yang tergabung dalam program Nusantara Sehat gajinya sudah Rp 11 juta.

"Wah banyak kolega saya yang gajinya gede, kalau lihat dari pajaknya, gede-gede," kata Menkes Nila.

Jadi berapa sih gaji dokter sebenarnya? https://bit.ly/2pxZoIJ

Benarkah 'Torpedo' Kambing Bisa Tingkatkan Gairah Seksual?

Daging kambing hasil kurban bisa diolah ke dalam bermacam-macam masakan. Salah satu yang kini diminati adalah 'torpedo' atau testis kambing karena diyakini bisa mendongkrak gairah seksual. Benarkah demikian?

Banyak masyarakat yang mengamankan torpedo kambing saat pemotongan hewan kurban guna mendapatkan manfaatnya. Ada yang sampai menganjurkan para bujangan untuk tidak makan daging kambing berlebihan agar tak repot menyalurkan hasrat setelah mengonsumsinya.

Konsumsi torpedo dan daging kambing setengah matang dengan manfaatnya untuk mendongkrak libido belum dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan. Menurut praktisi kesehatan yang juga akademisi Prof dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, testis kambing memang mengandung hormon testosteron yang bisa meningkatkan gairah seksual. Namun naiknya gairah seksual dapat disebabkan oleh beragam faktor.

"Sebenarnya peningkatan gairah seksual terjadi karena multifaktor dan tidak semata-mata berhubungan dengan makanan," kata Prof Ari dalam rilisnya.

Pada kasus lain, seseorang yang merasa yakin bahwa libidonya meningkat setelah mengonsumsi torpedo kambing dapat menjadi semangat dan makin meningkatkan libidonya. https://bit.ly/2DaO4FT

Kisah di Pedalaman, Masih Ada Dukun Olesi Tali Pusar dengan Kotoran Kambing!

 Bagi masyarakat perkotaan, mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit bisa dibilang hal yang mudah. Hampir setiap sudut kota memiliki puskesmas atau klinik yang bisa didatangi baik untuk sekedar konsultasi atau pemeriksaan kesehatan rutin.

Tapi bagi beberapa daerah yang belum memiliki tenaga kesehatan, satu-satunya cara bagi mereka adalah dengan mengunjungi dukun atau tabib di daerahnya dan dipercaya mampu mengobati mereka yang sedang sakit.

"Dukun menurut saya itu mereka mendekatinya perorangan jadi mereka menyentuhnya sangat-sangat kekeluargaan tapi mereka tidak mempunyai tingkat atau skill profesionalisme," tutur Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, saat dijumpai detikHealth, Rabu (17/7/2019).

Salah satu alumni dari Pencerah Nusantara, organisasi kemanusiaan yang bertujuan dalam upaya pemerataan pembangunan kesehatan, Eka Putri Puspita Arianti, menceritakan pengalamannya saat bertugas di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Gadis yang masih berusia 23 tahun dan berprofesi sebagai bidan ini mengatakan agak sulit di daerahnya untuk mengajak ibu hamil agar ingin mengunjungi fasilitas kesehatan saat akan melahirkan.

"Di sana kan ketika melahirkan, dukun biasanya ngasih tahi kambing atau tahi sapi di tali pusar bayinya dan itu menyebabkan pendarahan tali pusat. Nah itu kan jadinya nanti komplikasi," kata Eka.

Karena budaya yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, dukun beranak dianggap lebih terpercaya dan secara hierarki, tingkatan dukun di satu desa lebih tinggi daripada dokter atau tenaga kesehatan itu sendiri. Karenanya, Eka bersama tim Pencerah Nusantara melakukan pendekatan secara kekeluargaan baik pada pasien dan juga dukunnya itu sendiri.

"Jadi pada saat kita ajak ke fasilitas kesehatan, kita pendekatan ke dukunnya dan keluarganya juga. Karena memang fasilitas kesehatan di sana masih sangat rendah cakupannya," pungkas Eka. https://bit.ly/2O0Y2Qg