Rabu, 20 November 2019

Benarkah 'Torpedo' Kambing Bisa Tingkatkan Gairah Seksual?

Daging kambing hasil kurban bisa diolah ke dalam bermacam-macam masakan. Salah satu yang kini diminati adalah 'torpedo' atau testis kambing karena diyakini bisa mendongkrak gairah seksual. Benarkah demikian?

Banyak masyarakat yang mengamankan torpedo kambing saat pemotongan hewan kurban guna mendapatkan manfaatnya. Ada yang sampai menganjurkan para bujangan untuk tidak makan daging kambing berlebihan agar tak repot menyalurkan hasrat setelah mengonsumsinya.

Konsumsi torpedo dan daging kambing setengah matang dengan manfaatnya untuk mendongkrak libido belum dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan. Menurut praktisi kesehatan yang juga akademisi Prof dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, testis kambing memang mengandung hormon testosteron yang bisa meningkatkan gairah seksual. Namun naiknya gairah seksual dapat disebabkan oleh beragam faktor.

"Sebenarnya peningkatan gairah seksual terjadi karena multifaktor dan tidak semata-mata berhubungan dengan makanan," kata Prof Ari dalam rilisnya.

Pada kasus lain, seseorang yang merasa yakin bahwa libidonya meningkat setelah mengonsumsi torpedo kambing dapat menjadi semangat dan makin meningkatkan libidonya. https://bit.ly/2DaO4FT

Kisah di Pedalaman, Masih Ada Dukun Olesi Tali Pusar dengan Kotoran Kambing!

 Bagi masyarakat perkotaan, mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit bisa dibilang hal yang mudah. Hampir setiap sudut kota memiliki puskesmas atau klinik yang bisa didatangi baik untuk sekedar konsultasi atau pemeriksaan kesehatan rutin.

Tapi bagi beberapa daerah yang belum memiliki tenaga kesehatan, satu-satunya cara bagi mereka adalah dengan mengunjungi dukun atau tabib di daerahnya dan dipercaya mampu mengobati mereka yang sedang sakit.

"Dukun menurut saya itu mereka mendekatinya perorangan jadi mereka menyentuhnya sangat-sangat kekeluargaan tapi mereka tidak mempunyai tingkat atau skill profesionalisme," tutur Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, saat dijumpai detikHealth, Rabu (17/7/2019).

Salah satu alumni dari Pencerah Nusantara, organisasi kemanusiaan yang bertujuan dalam upaya pemerataan pembangunan kesehatan, Eka Putri Puspita Arianti, menceritakan pengalamannya saat bertugas di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Gadis yang masih berusia 23 tahun dan berprofesi sebagai bidan ini mengatakan agak sulit di daerahnya untuk mengajak ibu hamil agar ingin mengunjungi fasilitas kesehatan saat akan melahirkan.

"Di sana kan ketika melahirkan, dukun biasanya ngasih tahi kambing atau tahi sapi di tali pusar bayinya dan itu menyebabkan pendarahan tali pusat. Nah itu kan jadinya nanti komplikasi," kata Eka.

Karena budaya yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, dukun beranak dianggap lebih terpercaya dan secara hierarki, tingkatan dukun di satu desa lebih tinggi daripada dokter atau tenaga kesehatan itu sendiri. Karenanya, Eka bersama tim Pencerah Nusantara melakukan pendekatan secara kekeluargaan baik pada pasien dan juga dukunnya itu sendiri.

"Jadi pada saat kita ajak ke fasilitas kesehatan, kita pendekatan ke dukunnya dan keluarganya juga. Karena memang fasilitas kesehatan di sana masih sangat rendah cakupannya," pungkas Eka. https://bit.ly/2O0Y2Qg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar