Kamis, 21 November 2019

Ngeri, Tak Ada Makhluk Bisa Hidup di Wilayah Bumi Ini

Planet Bumi berlimpah kehidupan. Akan tetapi ada sebuah wilayah yang menurut penelitian terbaru sama sekali tidak mendukung makhluk hidup, bahkan meskipun mengandung air.

Dikutip detikINET dari Science Alert, ilmuwan meneliti sebuah lokasi ekstrim kolam hydrothermal yang berada di Dallol, Ethiopia. Tempat ini berisi air yang super asam dan sangat asin, berwarna hijau, kuning, orange dan coklat.

Terlihat cantik dari jarak jauh, diharapkan makhluk hidup jangan sekali-sekali mendekat karena beracun, di mana di bawahnya terdapat gunung berapi. Pada studi sebelumnya, disebutkan masih mungkin ada kehidupan di situ, yaitu organisme ultra mikro.

Sekarang, riset terbaru membantah temuan itu. "Kami menyanggah klaim bahwa ada kehidupan di kolam hydrothermal Dallol," sebut Jodie Bella dari Universite Paris-Sud, Perancis.

"Apakah ada kehidupan di situ? Kami katakan tidak berdasarkan kombinasi teknik mikroskopik dan molekular," paparnya.

Tim peneliti itu menggunakan berbagai teknik ilmiah untuk menganalisis beragam sampel dari lingkungan Dallol. Tidak ada pertanda kuat ada kehidupan berkembang biak di sana.

"Kebanyakan dari mereka berhubungan dengan kontaminasi laboratorium dan yang lainnya adalah bakteri dari manusia, mungkin dari turis yang datang ke situs itu," sebut penelitian ini.

Mikroba yang hidup dan aktif tidak dijumpai di sana. Kondisinya tidak memungkinkan di mana sel makhluk hidup mudah hancur. Tentu saja temuan ini belum final karena studi yang menyeluruh belum dilakukan. Tapi untuk saat ini disimpulkan, makhluk hidup takkan bertahan di Dallol. https://bit.ly/2KGv326

Asteroid Hujam Bumi 12.800 Tahun Silam, Dampaknya Mengerikan

 Tim ilmuwan di Afrika Selatan menemukan bukti yang mendukung hipotesis bahwa di 12.800 tahun silam, Bumi dihantam oleh asteroid berukuran cukup besar. Dampaknya pun mengerikan.

Dikutip detikINET dari Science Daily, hujaman batu angkasa tersebut mengakibatkan perubahan iklim dan berkontribusi pada kepunahan beberapa spesies binatang besar, dalam episode yang disebut sebagai Younger Dryas.

Tim ilmuwan yang dipimpin oleh profesor Francis Thackeray dari University of the Witwatersrand , Afrika Selatan, menjumpai bukti eksistensi platinum yang berlebihan dalam materi sedimen yang diambil dari sebuah situs di dekat Pretoria.

Mereka mengebor deposit gambut, terutama sampel yang berusia 12 ribuan tahun yang ternyata banyak mengandung platinum. Dipublikasikan dalam jurnal Palaeontologia Africana, disebutkan bahwa meteor atau asteroid kaya akan bahan platinum.

"Penemuan kami secara parsial mendukung Younger Dryas Impact Hypothesis (YDIH). Kita perlu secara serius memeriksa pandangan bahwa hantaman asteroid di Bumi mungkin menyebabkan perubahan iklim dalam skala global," tulis Francis.

"Juga berkontribusi dalam skala tertentu dalam proses kepunahan hewan-hewan besar pada akhir zaman Pleistosen, setelah zaman es yang terakhir," paparnya.

Kebetulan di saat ini, banyak mamalia di Amerika Utara, Amerika Selatan dan Eropa pada saat peristiwa Younger Dyras. Di Afrika Selatan, beberapa hewan besar juga punah tidak tepat di saat itu, tapi berdekatan waktunya. Megafauna yang lenyap di antaranya banteng afrika ataupun zebra besar. https://bit.ly/2QDm0CX

Malam Ini Puncak Terjadinya Hujan Meteor Leonid

Peristiwa indah di malam hari ini, Minggu (17/11/2019), jangan sampai terlewat begitu saja, khususnya bagi kalian sebagai pecinta astronomi. Sebab hujan meteor Leonid mengalami akan mengalami puncaknya malam ini.

Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Rhorom Priyatikanto, menjelaskan bahwa hujan meteor Leonid biasa aktif tanggal 6-30 Desember. Hal itu terjadi ketika Bumi melewati jejak serpihan komet Tempel-Tuttle.

"Puncak aktivitas Leonid adalah tanggal 16-17 November dengan intensitas maksimum sekitar 15 meteor per jam," kata Rhorom saat dihubungi detikINET.

Mengenai waktu yang tepat untuk melihat detik-detik hujan meteor Leonid ini, LAPAN mengatakan titik asal Leonid baru akan terbit sekitar tengah malam. Waktu pengamatan terbaik adalah sekitar pukul 03.00 WIB.

Rhorom menambahkan bahwa pada saat ini Bulan pada fase bongkok dengan >75%, maka piringannya tampak bercahaya.

"Kondisi ini agak mengganggu pengamatan hujan meteor saat ini," ucapnya.

Selain itu, faktor lainnya yang dapat menghalangi melihat secara langsung hujan meteor Leonid menghiasi malam ini tentunya soal cuaca.

"Tentu cuaca mendung di sebagian wilayah Indonesia lebih mengganggu pengamatan," pungkasnya. https://bit.ly/2O6uG36

Heboh Asteroid Tabrak Bumi Bulan Desember, Ini Faktanya

Belum lama ini, dikabarkan oleh media asal Inggris, Express, bahwa ada ancaman besar asteroid yang berpotensi menghantam Bumi pada sekitar akhir Desember. Apakah benar?

'Asteroid terror: NASA spot mammoth space rock to hit Earth's orbit five days before X-mas', begitu judulnya, bahwa NASA memantau asteroid sebesar gedung pencakar langit, yang bakal menubruk planet ini 5 hari sebelum Natal.

Disebutkan bahwa asteroid besar itu bisa saja amat merusak dan membawa manusia pada kepunahan. Tak heran jika kemudian netizen cukup banyak yang cemas mendengar kabar tersebut.

Terlebih kemudian, ada beberapa website lain yang turut pula mengabarkannya. Ketika dipantau lebih lanjut, informasi itu dipastikan tidak akurat.

Pihak NASA tidak pernah melakukan pengumuman tersebut dan meskipun benar ada asteroid besar mendekati Bumi pada akhir Desember, nyaris tidak ada peluang terjadi tabrakan.

Tidak salah bahwa asteroid bernama 216258 2006 WH1 akan melintasi dekat Bumi. Akan tetapi bukan berarti batu angkasa tersebut kemungkinan besar akan berujung pada tabrakan yang menghancurkan. https://bit.ly/37j1Wvv