Planet Bumi berlimpah kehidupan. Akan tetapi ada sebuah wilayah yang menurut penelitian terbaru sama sekali tidak mendukung makhluk hidup, bahkan meskipun mengandung air.
Dikutip detikINET dari Science Alert, ilmuwan meneliti sebuah lokasi ekstrim kolam hydrothermal yang berada di Dallol, Ethiopia. Tempat ini berisi air yang super asam dan sangat asin, berwarna hijau, kuning, orange dan coklat.
Terlihat cantik dari jarak jauh, diharapkan makhluk hidup jangan sekali-sekali mendekat karena beracun, di mana di bawahnya terdapat gunung berapi. Pada studi sebelumnya, disebutkan masih mungkin ada kehidupan di situ, yaitu organisme ultra mikro.
Sekarang, riset terbaru membantah temuan itu. "Kami menyanggah klaim bahwa ada kehidupan di kolam hydrothermal Dallol," sebut Jodie Bella dari Universite Paris-Sud, Perancis.
"Apakah ada kehidupan di situ? Kami katakan tidak berdasarkan kombinasi teknik mikroskopik dan molekular," paparnya.
Tim peneliti itu menggunakan berbagai teknik ilmiah untuk menganalisis beragam sampel dari lingkungan Dallol. Tidak ada pertanda kuat ada kehidupan berkembang biak di sana.
"Kebanyakan dari mereka berhubungan dengan kontaminasi laboratorium dan yang lainnya adalah bakteri dari manusia, mungkin dari turis yang datang ke situs itu," sebut penelitian ini.
Mikroba yang hidup dan aktif tidak dijumpai di sana. Kondisinya tidak memungkinkan di mana sel makhluk hidup mudah hancur. Tentu saja temuan ini belum final karena studi yang menyeluruh belum dilakukan. Tapi untuk saat ini disimpulkan, makhluk hidup takkan bertahan di Dallol. https://bit.ly/2KGv326
Asteroid Hujam Bumi 12.800 Tahun Silam, Dampaknya Mengerikan
Tim ilmuwan di Afrika Selatan menemukan bukti yang mendukung hipotesis bahwa di 12.800 tahun silam, Bumi dihantam oleh asteroid berukuran cukup besar. Dampaknya pun mengerikan.
Dikutip detikINET dari Science Daily, hujaman batu angkasa tersebut mengakibatkan perubahan iklim dan berkontribusi pada kepunahan beberapa spesies binatang besar, dalam episode yang disebut sebagai Younger Dryas.
Tim ilmuwan yang dipimpin oleh profesor Francis Thackeray dari University of the Witwatersrand , Afrika Selatan, menjumpai bukti eksistensi platinum yang berlebihan dalam materi sedimen yang diambil dari sebuah situs di dekat Pretoria.
Mereka mengebor deposit gambut, terutama sampel yang berusia 12 ribuan tahun yang ternyata banyak mengandung platinum. Dipublikasikan dalam jurnal Palaeontologia Africana, disebutkan bahwa meteor atau asteroid kaya akan bahan platinum.
"Penemuan kami secara parsial mendukung Younger Dryas Impact Hypothesis (YDIH). Kita perlu secara serius memeriksa pandangan bahwa hantaman asteroid di Bumi mungkin menyebabkan perubahan iklim dalam skala global," tulis Francis.
"Juga berkontribusi dalam skala tertentu dalam proses kepunahan hewan-hewan besar pada akhir zaman Pleistosen, setelah zaman es yang terakhir," paparnya.
Kebetulan di saat ini, banyak mamalia di Amerika Utara, Amerika Selatan dan Eropa pada saat peristiwa Younger Dyras. Di Afrika Selatan, beberapa hewan besar juga punah tidak tepat di saat itu, tapi berdekatan waktunya. Megafauna yang lenyap di antaranya banteng afrika ataupun zebra besar. https://bit.ly/2QDm0CX
Tidak ada komentar:
Posting Komentar