Kamis, 21 November 2019

Studi: 'Kiamat' Serangga Ancam Kehidupan di Bumi

Kepunahan beragam serangga yang saat ini kurang mendapatkan perhatian patut diwaspadai. Menurut peneliti, hal itu jika tak ditanggulangi bisa menimbulkan konsekuensi besar bagi manusia dan seluruh kehidupan di Bumi.

Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Wildlife Trust, separuh dari semua serangga mungkin telah lenyap sejak tahun 1970 lantaran kerusakan alam dan penggunaan pestisida yang berlebihan. 40% dari 1 juta spesies serangga menghadapi kepunahan pada saat ini.

Dikutip detikINET dari Guardian, studi bersangkutan dilakukan di Inggris, tapi penurunan besar populasi serangga sebelumnya juga dilaporkan di Jerman dan Brasil. Sebuah laporan global belum lama ini menyebutkan bahwa rata-rata, angka serangga menurun sebesar 2,5% per tahun.

Di Inggris, 23 spesies lebah dan tawon telah punah. Kupu-kupu di sana anjlok populasinya sebesar 70% dari pertengahan tahun 1970. Akibatnya, pemangsa mereka seperti burung spotted flycatcher ikut turun jumlahnya sebanyak 93% sejak 1967.

Ilmuwan menyebut eksistensi serangga sangat penting bagi seluruh ekosistem di alam untuk membantu penyerbukan ataupun sebagai makanan bagi spesies lain.

"Tiga perempat dari tanaman kita bergantung pada penyerbukan serangga. Tanaman akan gagal berkembang. Kita tidak akan punya buah seperti stroberi. Kita tidak bisa memberi makan 7,5 miliar orang tanpa serangga," cetus penulis riset ini, profesor Dave Goulson dari University of Sussex.

Goulson menyebut ada lebih dari 70 studi menunjukkan penurunan populasi serangga di berbagai tempat. Namun demikian, masih banyak studi perlu dilakukan, khususnya di luar Eropa dan Amerika Utara.

"Kami tidak bisa memastikan, tapi dalam soal jumlah, kita mungkin kehilangan 50% atau lebih serangga kita sejak 1970, bisa lebih lagi. Kita tidak tahu dan itu menakutkan. Jika kita tidak menghentikannya, akan ada dampak besar bagi seluruh kehidupan di Bumi dan manusia," katanya.

Kera Purba Aneh, Kaki Mirip Manusia dan Berlengan Orangutan

Lebih dari 11 juta tahun lalu, pernah ada kera yang perawakannya tidak umum jika dibandingkan kera zaman sekarang. Kera tersebut punya kaki seperti manusia dan lengan panjang seperti orangutan. Dengan perawakannya tersebut, cara berjalannya pun tak seperti makhluk Bumi lainnya.

Kira-kira seperti itulah gambaran yang dikumpulkan para ilmuwan mengenai spesies baru kera purba, berdasarkan fosil terbaru yang mereka temukan di Bavaria, Jerman. https://bit.ly/2XwhnvT

Para ahli paleontologi menamai spesies ini Danuvius guggenmosi. Danuvius berasal dari nama dewa sungai Celtic-Roma Danuvius, dan guggenmosi adalah penghargaan untuk Sigulf Guggenmos, yang menemukan situs tempat fosil itu ditemukan.

"Menariknya, Danuvius seperti kera dan hominin menjadi satu," kata pemimpin riset Madelaine Böhme, ahli paleontologi dari Eberhard Karls University of Tübingen, Jerman, dikutip dari Live Science, Kamis (7/11/2019).

Makhluk tersebut kemungkinan juga menggunakan penggerak aneh yang belum pernah kita lihat sampai sekarang. Para ilmuwan penemu fosil mengatakan, temuan ini menjelaskan bagaimana nenek moyang manusia berevolusi untuk berjalan dengan dua kaki.

"Temuan ini juga mengemukakan wawasan tentang bagaimana nenek moyang kera besar modern berevolusi mendukung alat mereka untuk bergerak," kata Madelaine.

Temuan Kerangka Ungkap Kera Purba Berkaki Mirip Manusia dan Berlengan Orangutan Foto: Christoph Jäckle via Live Science


Ciri utama yang membedakan manusia dari kerabat terdekatnya--kera besar modern termasuk simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan--adalah bagaimana manusia berdiri tegak dan berjalan di atas kaki. Postur bipedal ini yang akhirnya membantu membebaskan tangan kita untuk menggunakan alat, dan membantu umat manusia menyebar ke seluruh planet.

Sebaliknya, kera besar modern memiliki lengan memanjang yang mereka gunakan untuk bergerak. Misalnya, simpanse, bonobo, dan gorila, berlatih berjalan dengan jari. Sedangkan orangutan berjalan menggunakan kepalan tinju tangannya di tanah.

Semua kera besar modern juga memiliki sifat anatomi yang memungkinkan mereka berayun dari cabang pohon satu ke cabang pohon lainnya hanya dengan menggunakan tangan mereka. Metode penggerak ini disebut brachiation.

Masih banyak ketidakpastian tentang asal usul pergerakan hominin--kelompok spesies yang mencakup manusia dan kerabat mereka setelah berpisah dari garis keturunan simpanse--karena para ilmuwan tidak memiliki bukti fosil yang sesuai.

Penelitian sebelumnya menduga, manusia berevolusi dari binatang berkaki empat yang meletakkan telapak tangan dan telapak kaki mereka di tanah saat berjalan, mirip dengan monyet hidup, atau lebih suka menggantungkan tubuh mereka dari pohon saat mereka bergerak, serupa simpanse modern. https://bit.ly/3348TNx

Pencetus Konferensi Bumi Datar: Matahari dan Bulan Ada di Kubah

Robbie Davidson adalah sosok cukup terkenal di kalangan penganut Bumi datar. Ia adalah penggagas konferensi Bumi datar yang dihadiri cukup banyak orang.

Davidson yang asal Amerika Serikat ini mengaku dulu menertawakan gagasan Bumi datar. "Aku hanya tertawa dan bilang mereka tentu adalah orang paling bodoh. Bagaimana mereka bisa percaya sesuatu yang begitu tolol?" katanya, dikutip detikINET dari CNN.

Namun lambat laun, Davidson malah berbalik arah, memeluk keyakinan Bumi datar dan menggagas konferensinya. Menurutnya, pernyataan bahwa manusia hidup di tempat random di alam semesta yang tak terbatas adalah perbuatan setan.

"Dia (setan-red) melakukan pekerjaan luar biasa meyakinkan orang dengan ide bahwa kita hanyalah bintik random di alam semesta," cetusnya.

Ia meyakini jika Bumi, Matahari, Bulan dan bintang-bintang ada di semacam kubah, teori yang banyak diamini oleh penganut Bumi datar. Adapun foto-foto Bumi bulat disebutnya hanyalah rekayasa Photoshop.

Keyakinan lainnya adalah bahwa luar angkasa tidak ada, pendaratan di Bulan adalah palsu dan dunia ini tidak bergerak melainkan tetap pada tempatnya. Satu lagi, Antartika adalah batas Bumi sehingga orang takkan terjatuh dari pinggiran.

Para penganut Bumi datar cenderung banyak percaya teori konspirasi. "Mereka punya mungkin 20 teori konspirasi teratas. Tapi yang paling utama selalu adalah Bumi datar," ujar Mark Sargent, seorang sutradara pendukung Bumi datar. https://bit.ly/2XzfNcy

Cenderung fanatik, apa yang membuat mereka begitu yakin di tengah banjir bukti bahwa Bumi itu bulat? "Orang pada intinya hanya mencoba memahami dunia," kata Daniel Jolley, akademisi di Northumbria University, Inggris.

"Mereka mungkin punya ketidakpercayaan pada orang atau kelompok powerful, yang bisa saja pemerintah atau NASA dan ketika mencari bukti yang masuk akal bagi mereka, pandangan dunianya menjadi didukung. Sulit untuk mendobrak mindset itu," tandasnya.

Menguak Sepak Terjang Komunitas Bumi Datar

Mereka yang meyakini Bumi datar memang jumlahnya sangat sedikit dibandingkan populasi. Namun komunitasnya boleh dibilang solid dan rajin menyebarkan pahamnya. Tak jarang yang sudah yakin bumi Bulat mendadak 'pindah' keyakinan karenanya.

"Saya dulu tidak ingin jadi flat Earther. Apakah Anda ingin bangun pagi dan semua orang jadi menganggap Anda idiot?" kata David Weiss, seorang warga Amerika Serikat kepada CNN yang dikutip detikINET.

Tapi Weiss malah kemudian mantap menjadi penganut Bumi datar. "Saya tak bermasalah dengan orang yang ingin percaya kita hidup di sebuah bola. Itu pilihan mereka. Hanya saja itu adalah sesuatu yang tidak saya percaya," cetusnya.

Weiss mendapat teman di komunitas Bumi datar yang cukup besar. Minggu ini, dia menghadiri Flat Earth National Conference yang diadakan di sebuah hotel di Dallas. Ada sekitar 600 orang yang datang.

Konferensi serupa sudah pernah diadakan di Brasil, Italia sampai Inggris. Acaranya digelar dengan serius, tapi topik yang dibahas adalah soal Bumi itu datar, bukan bulat, dengan segenap argumennya.

"Kami semua berkomunikasi online, tapi event ini membuat kami bisa berjabat tangan dan memeluk satu sama lain. Kami bisa berkolaborasi, membuat teman baru, karena teman lama kami hilang," tutur Weiss. https://bit.ly/2pAYX0f