Sabtu, 23 November 2019

Selalu Dipecat dari Pekerjaan, Ternyata Mengidap Gangguan Kepribadian Ambang

Bethan Rees mengaku bingung karena ia selalu dipecat dari pekerjaannya. Saat berusia 22 tahun, Rees sudah berkali-kali berganti pekerjaan yang membuat perjalanan karirnya terhambat.

Pertama kali bekerja di kantor publikasi, wanita asal Wales ini mengaku merasa cukup tertantang. Ritme pekerjaannya cukup cepat dengan deadline yang ketat dan beban kerja yang berat.

"Anehnya meskipun aku memiliki kemampuan untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu, aku selalu tertinggal. Rekan-rekan kerjaku menyebut aku sering melamun saat kerja dan sulit konsentrasi," ujarnya, dikutip dari BBC.

Ketika akhirnya mendapat teguran dari atasannya, Rees tiba-tiba menangis. Ia pun diberhentikan dengan alasan tidak memenuuhi kriteria standar karyawan.

Namun hal yang sama berulang kali terjadi di pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Rees selalu tertinggal dari rekan kerjanya, dan akan menangis, marah atau sedih ketika mendapat teguran dari atasan.

Tidak memiliki pekerjaan membuatnya pulang ke rumah orangtuanya. Tak hanya itu, hubungan dengan kekasihnya yang sudah terjalin lama pun harus kandas karena kekasihnya tak tahan dengan perilaku Rees.

"Aku pun mencoba berobat ke dokter, yang menyebut aku mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Aku diresepkan obat antidepresan untuk diminum setiap hari," ujarnya lagi. https://bit.ly/2qtCVxb

Masalah Rees tidak berhenti meski sudah rutin minum antidepresan. Ia malah mengantuk, yang membuatnya lagi-lagi mendapat masalah di kantornya. Ia kembali dipecat, dan kembali hidup bersama orang tuanya.

Pikiran untuk mengakhiri hidup pun muncul. Rees merasa dirinya lemah dan tidak kompeten. Ia juga mulai sulit mengendalikan emosi dan kerap melempar barang-barang hingga merobek bantal untuk melampiaskan emosinya.

Sampai akhirnya, ia bertemu dengan seorang pria yang tertarik padanya. Saat berkencan, Rees menunjukkan emosi marah yang berlebihan tanpa ada pemicu.

Sang kekasih, Karl Powell, mengajaknya untuk menemui psikiater untuk mengetahui apa penyakitnya. Pemeriksaan psikiater menunjukkan ia ternyata mengidap gangguan kepribadian ambang dan tidak membutuhkan antidepresan.

"Aku melihat-lihat gejala gangguan kepribadian ambang, dan merasa kaget karena apa yang disebutkan sangat mirip dengan apa yang aku alami, termasuk kesulitan membina hubungan serius, emosi yang tidak stabil, hingga sering merasa paranoid," ujarnya.

Terapi dan obat pengendali mood pun berhasil membuat hidupnya lebih baik. Di pekerjaan barunya, ia mendapatkan atasan yang mengerti tentang kondisinya.

Kini di usianya yang sudah 30 tahun, Rees memiliki hidup normal seperti wanita lainnya. Ia bahkan mulai rutin olahraga untuk mengurangi kecemasan yang dialaminya. Tak hanya itu, Rees juga menjadi motivator dan sering membicarakan kondisinya kepada wanita lainnya di Wales.

"Jika Anda perempuan dan merasa ada yang salah dengan keadaan jiwa Anda, jangan ragu untuk bercerita dan mencari bantuan. Stigma dan diskriminasi harus dihilangkan dari tempat kerja agar para pasien gangguan kejiwaan bisa mendapat penghidupan," ujarnya. https://bit.ly/2saQlhV

Beda Lho dengan Sedih Biasa, Jangan Ngaku-ngaku Depresi kalau Tidak Periksa

Menyusul popularitas film Joker dan kematian mendadak Sulli f(x), belakangan isu terkait kesehatan mental menjadi perhatian khusus. Baik Joker maupun Sulli memiliki kesamaan yaitu dilatarbelakangi kondisi depresi.

Menurut ahli kejiwaan, dr Yaniar Mulyantini, SpKJ, dari Poli Psikiatri Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, depresi merupakan salah satu jenis dari mental illness.
Depresi biasanya dicirikan dengan perubahan perasaan menjadi lebih sedih, murung, putus asa, tidak semangat, kesepian, dan mulai menarik diri dari lingkungan.

"Ini sifatnya bukan sesaat, bisa berlangsung setiap hari dalam waktu setidaknya dua minggu atau sebulan. Jadi kalau murung atau sedih cuma satu atau dua hari, ini belum bisa dikategorikan depresi. Jadi kita harus bedakan," terang dokter Yaniar beberapa waktu lalu.

Meskipun begitu, dokter Yaniar mengingatkan bahwa setiap orang bisa memiliki gambaran yang berbeda-beda ketika depresi. Tidak melulu sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan.

Oleh sebab itu, mencari bantuan profesional menjadi penting. Hindari self diagnosed hanya dengan membaca di internet.

"Hal paling penting adalah cari tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater. Jangan self diagnosed, karena belum tentu juga. Perlu cari pertolongan kalau merasa ada yang salah dengan diri," pungkasnya. https://bit.ly/2QKyMPS

Ciri-ciri Borderline Personality Disorder, Gangguan yang Diidap Ariel Tatum

Artis belia Ariel Tatum mengaku pernah melakukan percobaan bunuh diri. Ia mengidap borderline personality disorder (BPD), gangguan kesehatan mental serius yang mempengaruhi emosi dan perilaku.

Gangguan yang disebut juga gangguan kepribadian ambang ini, menurut praktisi kesehatan jiwa dr Andri, SpKJ, berhubungan dengan perilaku menyakiti diri sendiri. Dalam banyak kasus, ini dilakukan untuk mengalihkan emosi yang dialaminya ke rasa sakit secara fisik.

Tipe kepribadian 'dependent' cenderung rentan mengalami kondisi ini. Perasaan tergantung pada orang lain membuatnya mudah merasa kecewa dan tersakiti apabila mengalami penolakan atau ada kebutuhan yang tidak terpenuhi dari orang lain maupun lingkungannya.

"Biasanya dia akan mencoba mencari cara melepaskan rasa sakit hati tersebut dan biasanya yang dia pilih adalah dengan menyakiti diri sendiri seperti menyanyat pergelangan tangan dengan silet atau membenturkan kepala ke tembok," jelas dr Andri di rubrik konsultasi detikHealth.

Dikutip dari Mayoclinic, ada beberapa ciri atau gejala yang bisa dikenali pada pengidap BPD. Di antaranya sebagai berikut:

- Kekhawatiran yang sangat kuat akan mengalami situasi terabaikan, tertolak, dan tercampakkan.
- Punya pola berhubungan yang labil dan intens. Misalnya mengagumi seseorang pada suatu saat, lalu tiba-tiba menganggapnya tidak peduli atau bahkan jahat.
- Peribahan yang sering terkait identitas diri dan citra diri, termasuk perubahan nilai dan tujuan hidup. Kadang menganggap diri sendiri jelek seperti tidak pernah ada.
- Mengalami masa-masa ketakutan terkait stres dan kehilangan kontak dengan realita.
- Menunjukkan perilaku impulsif dan berbahaya, seperti judi, berkendara ugal-ugalan, seks tidak aman, makan sembarangan, menyalahgunakan obat terlarang, dan sebagainya.
- Menunjukkan perilaku membahayakan diri sendiri dan bahkan upaya bunuh diri.
- Perubahan mood atau suasana hati yang cepat, dari sangat bahagia jadi gampang tersinggung dan gelisah tidak menentu.
- Selalu merasa kesepian.
- Marah-marah untuk sebab yang tidak jelas, nyinyir, dan bahkan sering berkelahi.

Bila mengalami gejala-gejala tersebut, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jiwa. Bisa juga dengan menghubungi berbagai layanan konseling kejiwaan ketika muncul pikiran-pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. https://bit.ly/34dRByY