Sabtu, 23 November 2019

Beda Lho dengan Sedih Biasa, Jangan Ngaku-ngaku Depresi kalau Tidak Periksa

Menyusul popularitas film Joker dan kematian mendadak Sulli f(x), belakangan isu terkait kesehatan mental menjadi perhatian khusus. Baik Joker maupun Sulli memiliki kesamaan yaitu dilatarbelakangi kondisi depresi.

Menurut ahli kejiwaan, dr Yaniar Mulyantini, SpKJ, dari Poli Psikiatri Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, depresi merupakan salah satu jenis dari mental illness.
Depresi biasanya dicirikan dengan perubahan perasaan menjadi lebih sedih, murung, putus asa, tidak semangat, kesepian, dan mulai menarik diri dari lingkungan.

"Ini sifatnya bukan sesaat, bisa berlangsung setiap hari dalam waktu setidaknya dua minggu atau sebulan. Jadi kalau murung atau sedih cuma satu atau dua hari, ini belum bisa dikategorikan depresi. Jadi kita harus bedakan," terang dokter Yaniar beberapa waktu lalu.

Meskipun begitu, dokter Yaniar mengingatkan bahwa setiap orang bisa memiliki gambaran yang berbeda-beda ketika depresi. Tidak melulu sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan.

Oleh sebab itu, mencari bantuan profesional menjadi penting. Hindari self diagnosed hanya dengan membaca di internet.

"Hal paling penting adalah cari tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater. Jangan self diagnosed, karena belum tentu juga. Perlu cari pertolongan kalau merasa ada yang salah dengan diri," pungkasnya. https://bit.ly/2QKyMPS

Ciri-ciri Borderline Personality Disorder, Gangguan yang Diidap Ariel Tatum

Artis belia Ariel Tatum mengaku pernah melakukan percobaan bunuh diri. Ia mengidap borderline personality disorder (BPD), gangguan kesehatan mental serius yang mempengaruhi emosi dan perilaku.

Gangguan yang disebut juga gangguan kepribadian ambang ini, menurut praktisi kesehatan jiwa dr Andri, SpKJ, berhubungan dengan perilaku menyakiti diri sendiri. Dalam banyak kasus, ini dilakukan untuk mengalihkan emosi yang dialaminya ke rasa sakit secara fisik.

Tipe kepribadian 'dependent' cenderung rentan mengalami kondisi ini. Perasaan tergantung pada orang lain membuatnya mudah merasa kecewa dan tersakiti apabila mengalami penolakan atau ada kebutuhan yang tidak terpenuhi dari orang lain maupun lingkungannya.

"Biasanya dia akan mencoba mencari cara melepaskan rasa sakit hati tersebut dan biasanya yang dia pilih adalah dengan menyakiti diri sendiri seperti menyanyat pergelangan tangan dengan silet atau membenturkan kepala ke tembok," jelas dr Andri di rubrik konsultasi detikHealth.

Dikutip dari Mayoclinic, ada beberapa ciri atau gejala yang bisa dikenali pada pengidap BPD. Di antaranya sebagai berikut:

- Kekhawatiran yang sangat kuat akan mengalami situasi terabaikan, tertolak, dan tercampakkan.
- Punya pola berhubungan yang labil dan intens. Misalnya mengagumi seseorang pada suatu saat, lalu tiba-tiba menganggapnya tidak peduli atau bahkan jahat.
- Peribahan yang sering terkait identitas diri dan citra diri, termasuk perubahan nilai dan tujuan hidup. Kadang menganggap diri sendiri jelek seperti tidak pernah ada.
- Mengalami masa-masa ketakutan terkait stres dan kehilangan kontak dengan realita.
- Menunjukkan perilaku impulsif dan berbahaya, seperti judi, berkendara ugal-ugalan, seks tidak aman, makan sembarangan, menyalahgunakan obat terlarang, dan sebagainya.
- Menunjukkan perilaku membahayakan diri sendiri dan bahkan upaya bunuh diri.
- Perubahan mood atau suasana hati yang cepat, dari sangat bahagia jadi gampang tersinggung dan gelisah tidak menentu.
- Selalu merasa kesepian.
- Marah-marah untuk sebab yang tidak jelas, nyinyir, dan bahkan sering berkelahi.

Bila mengalami gejala-gejala tersebut, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jiwa. Bisa juga dengan menghubungi berbagai layanan konseling kejiwaan ketika muncul pikiran-pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. https://bit.ly/34dRByY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar