Sabtu, 23 November 2019

'Bisa Dibuat 15 Juta Pil Ekstasi', Polisi Gagalkan Pengiriman Narkoba ke Australia

Bahan narkoba jenis ekstasi sebanyak 700 kg yang akan dikirim ke Brisbane, Australia, dari Rotterdam, Belanda, berhasil digagalkan pihak berwajib kedua negara.

Kepolisian Federal Australia (AFP) menjelaskan ekstasi tersebut dideteksi petugas sejak tiga bulan lalu di Rotterdam yang disusul dengan operasi penggerebekan dan penangkapan di tiga negara termasuk Belgia.

Bahan kimia MDMA tersebut ditemukan dalam kaleng tomat yang sudah berada dalam kontainer kapal.

AFP menyatakan keseluruhan narkoba yang berhasil disita petugas diperkirakan bernilai 301 juta dolar atau lebih dari Rp 3 triliun.

Selain itu, 11 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk wanita berusia 48 tahun dari New South Wales yang telah diekstradisi ke Brisbane.

Tersangka ini akan diajukan ke pengadilan bulan depan dengan dakwaan berupaya memiliki narkoba dalam jumlah besar.

Dua warga Australia lainnya kini masih dalam penyelidikan.

Terbongkarnya kasus ini merupakan hasil investigasi Kepolisian Nasional Belanda yang melakukan penggerebekan di 15 lokasi di negara itu dan di Belgia awal bulan ini.

Di Belgia sendiri, polisi menyita lebih banyak lagi narkoba dan 50 ton bahan kimia pembuat narkoba.

Mendagri Australia Peter Dutton menduga narkoba itu kemungkinan akan diedarkan di kawasan wisata Gold Coast pada musim liburan sekolah saat ini.

"Kita sudah melihat adanya pengedar narkoba secara khusus menargetkan anak-anak sekolah," jelasnya.

Komisaris Kraag menyatakan pihaknya masih mungkin melakukan penangkapan lebih lanjut.

Sebelumnya, pihak berwajib baru saja menyita MDMA dengan jumlah terbesar ketiga dalam sejarah Australia.

Kritik dari Profesor di Australia: Masyarakat Indonesia Susah Terima Perbedaan

Dua ideologi besar dianggap sedang bertarung di Indonesia saat ini, mereka adalah ideologi nasionalisme dan Islam, kata seorang Profesor Kajian Indonesia di Monash University. Dari keduanya, masing-masing memiliki elemen ekstrimis. Karenanya tak heran, masyarakat Indonesia terkesan khawatir terhadap perbedaan.

Berbicara di Jakarta (20/11/2019), Profesor Ariel Heryanto menyebut masyarakat Indonesia begitu takut terhadap kemajemukan, bahkan termasuk kelompok yang membawa slogan-slogan kemajemukan itu sendiri. https://bit.ly/338nfMN

Ia mengatakan perbedaan tidak boleh dilawan dengan hukuman.

"Kalau mau melawan pikiran orang, ya dengan pikiran, jangan dihukum. Tapi kalau orang itu melakukan tindakan kriminal, silahkan diproses, bukan pikirannya yang disalahkan," utaranya kepada awak media selepas memberi kuliah umum di acara peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Australia di Museum Nasional Jakarta Pusat, Selasa (20/11/2019) lalu.

"Mengapa begitu takut pada perbedaan? Itu salah, harusnya justru bersyukur ada perbedaan," imbuh Ariel.

Namun Profesor asal Indonesia di Monash University, Australia, ini memaklumi jika rezim penguasa terkesan tidak siap menerima perbedaan.

"Mengapa? Karena jadi lama, repot, bikin keputusan ini enggak setuju, itu enggak setuju. Kan orang jadi enggak sabar," kemukanya.

Belajar dari pengalaman Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 April lalu, masyarakat Indonesia seharusnya bisa lebih bersabar dalam menghadapi realita sosial.

"Kenapa sih harus buru-buru? Lebih lama sedikit enggak apa-apa. Contoh kecil aja lah, kalau kita mau agak vulgar ya, lihat tuh Pilpres."

"Berapa korbannya? Ternyata dua calonnya juga dansa-dansi bersama tuh. Jadi sebenarnya kalau anda mau bersabar sedikit, sebenarnya enggak masalah perbedaan itu," tegas Ariel.

Argumen lainnya, Prof Ariel mengatakan perbedaan terlihat mengancam terhadap orang yang berpikiran lemah, selain terhadap mereka yang berkuasa.

"Orang yang pikirannya lemah, dia takut dengan pemikiran lain yang berbeda, yang kuat. 'Hilangkan itu, enggak bener itu'. Salah, seharusnya yang lemah itu diperkuat."

"Tapi jangan larang orang yang berpikiran beda."

Direktur Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre ini tak memungkiri jika kekhawatiran terhadap kemajemukan juga ditemukan dalam kelompok yang mengusung slogan 'NKRI harga mati'. https://bit.ly/34bvuck

WN Australia Terduga Pemilik Narkoba di Sumba Dipindahkan ke Bali

Seorang pria asal Darwin yang diselamatkan di perairan Indonesia setelah mengalami cedera punggung parah di kapalnya yang rusak dan kemudian didakwa dengan kepemilikan narkoba, kini telah dipindahkan ke rumah sakit di Bali untuk perawatan medis lanjutan.

Poin UtamaHaritos
Dokumen polisi menuliskan Tony Haritos sebagai pemilik Sekolah Internasional Dili di Timor-Leste
Polisi diduga menemukan sejumlah kecil sabu di dekat tempat tidurnya
Pelanggaran yang dihadapinya bisa menimbulkan hukuman penjara maksimum 12 tahun
Tony Haritos, 63, berasal dari keluarga Darwin yang terkemuka.

Ia berlayar di sekitar Timor Barat pada akhir Juli ketika kapalnya rusak dua kali di dekat Kepulauan Sabu sebelum mengapung hingga ke Sumba, hampir 80 kilometer ke arah timur.

Sambil menunggu penyelamatan bersama salah satu anggota krunya yang tersisa, Haritos mulai menderita sakit punggung yang parah akibat cedera yang sudah berlangsung lama dan "pingsan", kata pengacaranya, Sienny Karmana.

"Dia tak bisa bergerak dan dia memutuskan untuk menggunakan itu, shabu," katanya.

Beberapa hari kemudian, seorang nelayan setempat melapor ketika ia melihat perahu yang mengapung, dan polisi di wilayah itu membawa Haritos ke rumah sakit.

Tiga hari kemudian mereka meminta rumah sakit melakukan tes urin terhadap Haritos, yang lantas mendeteksi adanya kandungan metamfetamin.

Polisi kemudian menggeledah kapalnya, dan diduga menemukan 0,06 gram metamfetamin atau sabu, beberapa di antaranya berada di dekat tempat tidur, sementara sisanya berada di bawahnya.

Sienny mengatakan Haritos membeli obat-obatan terlarang itu di Bali lebih dari setahun yang lalu, menyimpannya di kabinnya, dan kemudian menggunakannya untuk "mengobati sendiri" lukanya.

"Ketika dia jatuh di perahu dia ingin mengurangi rasa sakit dan kemudian dia menggunakan [obat]-nya lagi," kata Sienny.

Dokumen kepolisian Indonesia menuntut Haritos "melakukan kejahatan yakni membeli, menyimpan dan memiliki narkotika kelas 1".

Ia menghadapi kemungkinan hukuman 12 tahun penjara di bawah undang-undang narkoba Indonesia. https://bit.ly/2s2LIX0

'Kami Ingin Memberi', ColdPlay Tunda Tur Sampai Temukan Konser Ramah Lingkungan

Penggemar berat Coldplay dan vokalisnya Chris Martin yang ingin menonton konser band asal Inggris itu kini harus menunggu beberapa waktu.

Chris Martin dalam wawancara dengan BBC mengatakan grup band ini tidak akan melakukan tur untuk album terbaru mereka Everyday Life, sampai mereka bisa menemukan cara melakukan tur yang tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.

"Kami akan menghabiskan waktu setahun dua tahun ke depan untuk merancang tur yang berkesinambungan, dan juga bermanfaat dari sisi lingkungan," kata Martin.

Dia mengatakan selain tur memberikan manfaat positif, selama ini perjalanan bagi para pemusik, kru, dan juga peralatan mereka menjadi salah satu hambatan besar dari sisi dampaknya terhadap lingkungan.

Chris Martin juga menginginkan bahwa penggunaan plastik sekali pakai dilarang di pertunjukan Coldplay dan pembangkit listrik menggunakan tenaga sinar matahari (solar).

"Kami sudah banyak melakukan pertunjukan besar. Sekarang kami ingin berubah sehingga tidak sekadar mendapatkan sesuatu namun juga bisa memberi."

Coldplay terakhir kali tampil di Australia adalah di tahun 2016 dengan tur A Head Full of Dreams.

Menurut Green Touring Network, sebuah jaringan musik di Jerman, pertunjukan kolosal sebuah band besar selalu merupakan kegiatan yang berdampak besar bagi lingkungan.

Panggung pertunjukan harus dipindahkan dengan truk dari satu kota ke kota lain, bahkan kadang antarbenua

Anggota band dan kru lain yang jumlahnya kadang bisa belasan orang harus diterbangkan dengan pesawat dan kemudian naik bus.

Gedung atau stadion besar memerlukan listrik yang besar dan juga perlu makanan bagi mereka yang hadir dan akhirnya memproduksi sampah dalam jumlah besar.

Belum lagi para penonton yang membawa sampah dan melakukan pencemaran ketika menonton.

Menurut Network's Touring Guide, penyumbang emisi kedua terbesar dalam pertunjukan musik adalah perjalanan yang dilakukan penonton ke tempat acara dilangsungkan.

Radiohead, kelompok pertama yang berusaha melakukan tur yang ramah lingkungan menemukan bahwa dalam tur di tahun 2003 dan 2006 bahwa emisi terbesar berasal dari penonton, karena sebagian besar diantara mereka menggunakan mobil ke tempat pertunjukan.

Band tersebut kemudian mengubah cara mereka melakukan tur dan di tahun 2008 mengadakan tur bernama Carbon Neutral World Tour.

Pertunjukan mereka dilakukan di kawasan pinggir kota, yang dekat dengan transport umum dan penonton dianjurkan menggunakan transport umum tersebut.

Peralatan mereka juga disewa dari lokal dan tempat pertunjukan disarankan ramah lingkungan semaksimal mungkin. https://bit.ly/34fd0HX