Bahan narkoba jenis ekstasi sebanyak 700 kg yang akan dikirim ke Brisbane, Australia, dari Rotterdam, Belanda, berhasil digagalkan pihak berwajib kedua negara.
Kepolisian Federal Australia (AFP) menjelaskan ekstasi tersebut dideteksi petugas sejak tiga bulan lalu di Rotterdam yang disusul dengan operasi penggerebekan dan penangkapan di tiga negara termasuk Belgia.
Bahan kimia MDMA tersebut ditemukan dalam kaleng tomat yang sudah berada dalam kontainer kapal.
AFP menyatakan keseluruhan narkoba yang berhasil disita petugas diperkirakan bernilai 301 juta dolar atau lebih dari Rp 3 triliun.
Selain itu, 11 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk wanita berusia 48 tahun dari New South Wales yang telah diekstradisi ke Brisbane.
Tersangka ini akan diajukan ke pengadilan bulan depan dengan dakwaan berupaya memiliki narkoba dalam jumlah besar.
Dua warga Australia lainnya kini masih dalam penyelidikan.
Terbongkarnya kasus ini merupakan hasil investigasi Kepolisian Nasional Belanda yang melakukan penggerebekan di 15 lokasi di negara itu dan di Belgia awal bulan ini.
Di Belgia sendiri, polisi menyita lebih banyak lagi narkoba dan 50 ton bahan kimia pembuat narkoba.
Mendagri Australia Peter Dutton menduga narkoba itu kemungkinan akan diedarkan di kawasan wisata Gold Coast pada musim liburan sekolah saat ini.
"Kita sudah melihat adanya pengedar narkoba secara khusus menargetkan anak-anak sekolah," jelasnya.
Komisaris Kraag menyatakan pihaknya masih mungkin melakukan penangkapan lebih lanjut.
Sebelumnya, pihak berwajib baru saja menyita MDMA dengan jumlah terbesar ketiga dalam sejarah Australia.
Kritik dari Profesor di Australia: Masyarakat Indonesia Susah Terima Perbedaan
Dua ideologi besar dianggap sedang bertarung di Indonesia saat ini, mereka adalah ideologi nasionalisme dan Islam, kata seorang Profesor Kajian Indonesia di Monash University. Dari keduanya, masing-masing memiliki elemen ekstrimis. Karenanya tak heran, masyarakat Indonesia terkesan khawatir terhadap perbedaan.
Berbicara di Jakarta (20/11/2019), Profesor Ariel Heryanto menyebut masyarakat Indonesia begitu takut terhadap kemajemukan, bahkan termasuk kelompok yang membawa slogan-slogan kemajemukan itu sendiri. https://bit.ly/338nfMN
Ia mengatakan perbedaan tidak boleh dilawan dengan hukuman.
"Kalau mau melawan pikiran orang, ya dengan pikiran, jangan dihukum. Tapi kalau orang itu melakukan tindakan kriminal, silahkan diproses, bukan pikirannya yang disalahkan," utaranya kepada awak media selepas memberi kuliah umum di acara peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Australia di Museum Nasional Jakarta Pusat, Selasa (20/11/2019) lalu.
"Mengapa begitu takut pada perbedaan? Itu salah, harusnya justru bersyukur ada perbedaan," imbuh Ariel.
Namun Profesor asal Indonesia di Monash University, Australia, ini memaklumi jika rezim penguasa terkesan tidak siap menerima perbedaan.
"Mengapa? Karena jadi lama, repot, bikin keputusan ini enggak setuju, itu enggak setuju. Kan orang jadi enggak sabar," kemukanya.
Belajar dari pengalaman Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 April lalu, masyarakat Indonesia seharusnya bisa lebih bersabar dalam menghadapi realita sosial.
"Kenapa sih harus buru-buru? Lebih lama sedikit enggak apa-apa. Contoh kecil aja lah, kalau kita mau agak vulgar ya, lihat tuh Pilpres."
"Berapa korbannya? Ternyata dua calonnya juga dansa-dansi bersama tuh. Jadi sebenarnya kalau anda mau bersabar sedikit, sebenarnya enggak masalah perbedaan itu," tegas Ariel.
Argumen lainnya, Prof Ariel mengatakan perbedaan terlihat mengancam terhadap orang yang berpikiran lemah, selain terhadap mereka yang berkuasa.
"Orang yang pikirannya lemah, dia takut dengan pemikiran lain yang berbeda, yang kuat. 'Hilangkan itu, enggak bener itu'. Salah, seharusnya yang lemah itu diperkuat."
"Tapi jangan larang orang yang berpikiran beda."
Direktur Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre ini tak memungkiri jika kekhawatiran terhadap kemajemukan juga ditemukan dalam kelompok yang mengusung slogan 'NKRI harga mati'. https://bit.ly/34bvuck
Tidak ada komentar:
Posting Komentar