Rabu, 27 November 2019

Pemerintah Ajak Pengusaha Korea Genjot Investasi di RI

Pemerintah mengajak perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang sudah beroperasi di Indonesia menambah investasi mereka. Oleh sebab itu Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan sekaligus makan siang dengan 10 CEO perusahaan raksasa Korsel

Mereka adalah Lotte Corporation, Posco, Hankook Technology Group, SK E&C, CJ Group, LG Chem, GS Global, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Doosan Corporation dan The Korea Exim Bank (Kexim).

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah sangat optimistis iklim investasi di Indonesia akan semakin baik. "Saya pikir ke depan saya semakin optimis seandainya kita mempercepat kemudahan, kita mampu bahu membahu menciptakan iklim investasi yang baik," tutur Bahlil di Busan-Korsel, dalam keterangan tertulis BKPM, Senin (25/11/2019).

Bahlil mengatakan, perusahaan-perusahaan ini telah beroperasi di Indonesia, namun mereka diharapkan meningkatkan investasinya di Indonesia.

"Sudah barang tentu lawatan kali ini adalah bagaimana meningkatkan investasi di Indonesia yang sudah ada, realisasi existing. Kemudian membicarakan potensi bagaimana kita mengelola sumber daya alam. Terutama nikel untuk dijadikan sebagai produsen baterai terbesar di dunia," ujar Bahlil. https://bit.ly/33tkYMF

Pengusaha Otomotif hingga Makanan Korsel Cari Lapak Investasi di RI

Puluhan pelaku usaha asal Korea Selatan berkumpul di Busan untuk mengikuti misi dagang dan forum bisnis yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (RI). Pelaku usaha tersebut beragam mulai dari otomotif sampai industri makanan.

Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan Umar Hadi mengungkapkan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Korsel diharapkan dapat membantu pertumbuhan ekonomi dan perdagangan kedua negara.

Dia menjelaskan perjanjian dagang ini merupakan salah satu cara yang tepat di saat banyak negara yang memilih untuk memproteksi diri, namun RI dan Korsel justru saling membuka kerja sama perdagangan.

"Kami berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik untuk bapak dan ibu agar bisa berinvestasi di Indonesia. Selamat datang bapak ibu keuntungan dari transaksi dagang yang akan diperoleh saat berbisnis di Indonesia akan berlipat di masa yang akan datang," kata Umar dalam pembukaan misi dagang di Hotel Lotte, Busan, Korea Selatan, Rabu (27/11/2019).

Executive Vice President The Busan Chamber of Commerce Industry Lee Kab Jun mengungkapkan anggota Kamar Dagang dan Industri Busan ada sekitar 9.800 perusahaan. Dia menyebut hal ini merupakan potensi yang saling menguntungkan untuk Indonesia dan Korea Selatan.

"Kadin Korea di Busan akan membantu perusahaan asal Busan untuk mencari peluang di Indonesia. Saya akan promosikan dan membantu perusahaan yang akan ke Indonesia," jelas dia. https://bit.ly/35Fq35E

Makin Mesra, RI-Korsel Selangkah Lagi Menuju Mitra Ekonomi Strategis

Indonesia dan Korea Selatan menandatangani Deklarasi Bersama Penyelesaian Perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Indonesia-Korea Comprehensif Economic Partnership Agreement/IK-CEPA) pada hari ini, Senin, (25/11) di Hotel Westin Chosun Busan, Korea Selatan.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto dan Menteri Perdagangan Korea Selatan Yoo Myung-Hee serta disaksikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 30 Tahun Hubungan Kemitraan ASEAN-Korea Selatan (ASEAN-RoK Commemorative Summit). https://bit.ly/33oyXTy

Penandatanganan Deklarasi Bersama ini sekaligus menandai bahwa kedua negara kini selangkah lebih dekat menuju penandatanganan IK-CEPA. Sebelumnya, secara substansial, kedua tim perunding menyelesaikan perundingan IK-CEPA pada Oktober 2019.

"Penyelesaian IK-CEPA merupakan tonggak sejarah baru dalam hubungan ekonomi Indonesia-Korea Selatan. Lebih dari sekadar perjanjian perdagangan bebas (FTA), IK-CEPA merupakan sebuah kemitraan komprehensif kedua negara di bidang perdagangan barang, jasa, penanaman modal, ketentuan asal barang, serta kerja sama ekonomi," kata Agus di Busan, Korea Selatan, Senin (25/11/2019).

Perjanjian dagang ini, menurut Agus juga akan memberikan akses pasar yang lebih luas bagi Indonesia. "Dengan adanya IK-CEPA, Indonesia akan mendapatkan akses pasar yang lebih luas dibandingkan dengan yang selama ini diberikan melalui perjanjian ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA)," imbuhnya.

Melalui IK-CEPA, dalam bidang perdagangan barang, Indonesia akan mendapatkan akses pasar yang lebih baik untuk produk industri, perikanan, dan pertanian di pasar Korea Selatan. Sebaliknya, Indonesia akan memberikan akses pasar untuk bahan baku industri yang memfasilitasi investasi Korea Selatan di Indonesia sehingga kemitraan kedua pihak akan saling menguntungkan.

Sementara untuk akses pasar sektor jasa, Korea Selatan akan membuka kesempatan kerja bagi para profesional dan tenaga ahli Indonesia. Sedangkan Indonesia akan memberikan peningkatan akses pasar untuk sektor konstruksi, distribusi, gim daring (online game), dan sektor jasa kesehatan.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan selaku Ketua Tim Perunding Indonesia untuk IK-CEPA, Iman Pambagyo juga menjelaskan, kemitraan komprehensif dalam IK-CEPA juga terwujud dalam kerangka kerja sama dan peningkatan kapasitas dalam berbagai sektor, antara lain industri, ekonomi kreatif, kesehatan, dan tenaga kerja.

"IK-CEPA diharapkan dapat berkontribusi positif bagi transformasi perekonomian Indonesia menjadi negara maju melalui peningkatan investasi, kerja sama ekonomi, dan asistensi teknis, serta mendorong transfer pengetahuan dan teknologi dari Korea Selatan, termasuk peningkatan standar kualitas tenaga kerja," tegas Iman. https://bit.ly/2OLCFS1