Rabu, 27 November 2019

Bandara Penuh, Mengungsi ke Luar Palu Bisa Lewat Laut

Setiap hari Bandara Mutiara Sis Al Jufri dipenuhi masyarakat yang hendak mengungsi ke luar Palu. Namun, di bandara hanya bisa mengangkut penumpang dari Palu ke Makasar sebanyak 2.000 orang pengungsi. Kondisinya saat ini pun sudah sangat penuh.

Pemerintah pun bergerak cepat mencari alternatif untuk mengangkut masyarakat yang hendak mengungsi. Menteri perhubungan Budi Karya Sumadi berencana memfasilitasi masyarakat untuk menggunakan jalur laut dari pintu Pelabuhan Pantoloan ke Makasar.

"Saya sarankan untuk memberikan suatu angkutan bus dari Bandara Mutiara Sis Al Jufri menuju Pantoloan. Karena kapal kalau di Al Jufri itu ada 2.000 orang itu harus diangkut dalam satu hari. kalau di Pantoloan (2.000 orang) dalam satu kapal bisa diangkut," kata dia di Gedung Karsa, Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).

Budi Karya menjelaskan, rencana mengenai pengangkutan masyarakat ke Makassar melalui Pelabuhan Pantoloan ini sedang ia koordinasikan dengan Komando Resort Militer (Korem).

"Ini adalah satu ide dari kami, kami akan koordinasikan dengan Korem Palu. Karena komando itu ada di bawah Korem, ini adalah satu usaha yang signifikan. Pantoloan sudah merupakan pelabuhan yang bisa memuat penumpang yang lebih besar," ujar dia.

Berdasarkan data yang dihimpun detikFinance di Palu beberapa hari lalu, akses dari Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu menuju Pelabuhan Pantoloan cukup sulit. Beberapa akses utama tertutup karena kontainer, mobil sampai pohon terseret arus laut saat tsunami menyapu tanah Palu dan gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richer mengguncang kawasan Sulawesi Tengah.

Perlu perjalanan lebih dari satu jam untuk bisa sampai ke Pelabuhan Pantoloan. Meski Budi Karya mengatakan pelabuhan secara fungsi masih bisa digunakan. Namun, terminal Pantoloan pada pantauan Sabtu, 29 September lalu masih rusak parah. Bangunan gedung di pelabuhan retak-retak. lantai semen dan ubin di Pelabuhan Pantoloan juga masih tertutup pasir pantai.

Meski begitu, bangunan utama yaitu dermaga masih tampak aman, tidak ada kerusakan parah selain keretakan di bagian crane yang rubuh. https://bit.ly/2pSzcbW

Pelabuhan Pantoloan Beroperasi Lagi, Fokus untuk Logistik Bencana

Hari ini Pelabuhan Pantoloan telah kembali beroperasi pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami yang terjadi di kota Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya terjadi pada Jumat sore (28/9) kemarin.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan mengarahkan kapal-kapal logistik untuk bantuan dari berbagai daerah lewat Pelabuhan Pantoloan, Palu.

Nantinya, barang kebutuhan masyarakat ini akan didistribusikan ke pusat kota Palu, Donggala dan beberapa daerah yang terkena dampak bencana gempa lainnya di Sulawesi.

Ia menjelaskan, Pelabuhan Pantoloan dari segi struktur dermaga masih dikategorikan aman karena hanya terdapat beberapa retakan.

Meski fasilitas crane untuk mengangkut boks logistik dan kontainer rusak, namun pelabuhan ini masih memadai untuk bisa digunakan.

"Memang pelabuhan-pelabuhan yang efektif yang saya langsung lakukan pengecekan adalah Pantoloan. Sudah dipersiapkan dengan baik oleh Pelindo 4 dan ASDP," kata dia dalam pressconference di Gedung Karsa, Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).

Ketika ditanya oleh wartawan mengenai adanya informasi bahwa Pelni baru bisa membuka pelabuhan pada tanggal 4 Oktober 2018.

Budi Karya menjawab ia hanya akan fokus pada dua pelabuhan yang sudah ia pantau kondisinya bisa difungsikan segera, yaitu Pelabuhan Pantoloan dan Pelabuhan Belang-belang, Mamuju, Sulawesi Barat.

"Pelabuhan terdekat yang bisa diefektifkan Pelabuhan Pantoloan dan Pelabuhan Pelabuhan Belang-belang," kata dia.

Meski begitu Budi Karya menjelaskan meski pelabuhan tersebut bisa digunakan Perjalanan dari Pelabuhan Belang-belang ke Palu membutuhkan waktu perjalanan darat sekitar 7 jam. Sementara waktu perjalanan angkutan dari Pelabuhan Pantoloan membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke pusat kota Palu.

"Tapi memang Mamuju ke Palu itu 7 jam tapi menurut saya sekarang ini relatif masih ada ruang di Pantoloan. Perjalanan kapal kapal itu saya sarankan ke Pantoloan karena itu relatif lebih banyak ruang dan bahkan ada satu planing yang lebih pasti. Kita bisa fungsikan pelabuhan itu sebagai fungsi pelabuhan pengangkutan penumpang dan logistik," jelas dia.

Budi menjelaskan siang ini pihaknya akan mendata kapal mana saja yang membawa barag kebutuhan yang akan ke Palu. Setelah didata kapal-kapal tersebut akan diarahkan ke Pelabuhan Pantoloan.

"Siang ini kita akan infentarisir mana saja kapal yang lagi bergerak ke arah palu," papar dia. https://bit.ly/2QTJP9v

ASDP Sediakan Tiga Kapal Gratis untuk Angkut Korban Gempa Palu

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memberikan bantuan untuk korban gempa di Palu. Bantuan tersebut berupa tiga kapal gratis yang terdiri dari satu kapal logistik dan dua kapal angkut.

Program bantuan ini sejalan dengan arahan Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Darat serta Kementerian BUMN, agar operator transportasi laut bergerak cepat dalam mendukung mobilisasi pengangkutan bantuan bencana terhadap korban gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah.

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry Imelda Alini mengatakan tiga kapal tersebut adalah KMP Julung-Julung dari Pelabuhan Toli-Toli menuju Pelabuhan Taipa, Sulawesi Tengah, KMP Drajat Paciran dan Kapal Kargo KM Melinda 01 dari Pelabuhan Tanjung Perak langsung ke Pelabuhan Taipa-Sulawesi Tengah.

Program tersebut dilakukan untuk merespons cepat tanggap kondisi darurat pasca gempa. Adapun, kapal tersebut akan melayani pengangkutan secara gratis bagi masyarakat, maupun komunitas yang ingin mengirimkan bantuan kemanusiaan korban. https://bit.ly/2OMG6rB

"Kami turut prihatin dengan bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda masyarakat di Palu dan Donggala. Semoga dengan dukungan penyediaan kapal ASDP, kami dapat menjadi alternatif transportasi bantuan logistik bencana alam ini dan dapat membantu proses penanganan pasca gempa sehingga kondisi masyarakat dapat segera pulih," ungkapnya di dalam keterangan tertulis yang diterima detikFinance, Senin (1/10/2018).

Adapun, kapasitas kapal yang dikerahkan berbeda-beda, untuk KMP Julung-Julung berukuran 600 GRT dengan jenis kapal roro yang berkapasitas penumpang sekitar 185 orang dan 7 unit kendaraan kecil. Lalu, KMP Drajat Paciran berukuran 2.900 GRT yang merupakan kapal jenis roro yang dapat mengangkut 350 orang penumpang dan 40 unit kendaraan campuran.

Sedangkan KM Melinda 01 merupakan jenis kapal general cargo memiliki kapasitas muatan logistik hingga 1.000 ton.

"KMP Julung-Julung yang membawa barang-barang kebutuhan pokok dan tangki air berangkat Senin (1/10) pukul 12.00 WITA dari pelabuhan Toli-Toli dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 22 jam. Sehingga perkiraan waktu sampai di Taipa (pantai di Kota Palu) pada Selasa (2/10) pukul 22.00 WITA," papar dia.

"Sesampai di pelabuhan, kami telah berkoordinasi dengan stakeholder termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setempat agar pendistribusian barang-barang bantuan dapat segera dilakukan dengan cepat dan tepat," ungkap dia.

Sementara itu, untuk KMP Drajat Paciran dijadwalkan akan berangkat pada Jumat, 5 Oktober 2018. Dengan perkiraan jarak Surabaya - Palu sekitar 625 Nautical Miles (NM), maka diperkirakan waktu tempuh dari Surabaya-Palu mencapai sekitar 55 jam.

Imelda menjelaskan, bagi masyarakat yang berminat membantu dapat menghubungi Alvius melalui nomor telepon 082236251968 untuk jalur Toli-Toli menuju Taipa-Palu. Serta Rudi melalui 082310332111 untuk kapal kargo Melinda 01 dan Drajat Paciran. https://bit.ly/2QSrLg4